Bisa Di-booking tapi Purel enggan Disebut PSK

Muhammad Khoirur Rosyid    •    23 November 2015 18:06 WIB
prostitusi
Bisa <i>Di-booking</i> tapi Purel enggan Disebut PSK
Ilustrasi Prostitusi, Ant

Metrotvnews.com, Surabaya: Suasana eks-lokalisasi Dolly, Surabaya, Jawa Timur, tampak sepi. Dentuman musik disko tak lagi terdengar. Apakah prostitusi di Dolly itu benar-benar padam setelah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menutup kegiatan esek-esek pada Juni 2014 itu?

Jangan salah. Praktik prostitusi masih 'bergaung' di balik kesunyian Dolly. Penyedia jasa tak lagi 'buka lapak' di pinggir jalan. Tapi, mereka 'berjualan' di tempat-tempat karaoke.

Saat Metrotvnews.com bertandang, Sabtu malam 21 November 2015, tak tampak tanda-tanda pelacuran di depan sebuah tempat karaoke. Hanya ada tulisan 'karaoke' di depan sebuah bangunan.

Saat malam tiba, sekelompok perempuan memasuki sebuah bangunan di Jalan Mayjen Sungkono. Mereka berprofesi sebagai pemandu lagu atau purel.

Ternyata mereka menawarkan jasa lain selain purel. Mereka juga menemani pria hidung belang sebagai pekerjaan tambahan.

"Di tempat karaoke banyak kenalan. Terus dari situ ada yang minta nomor handphone terus dihubungi," kata ND, pemandu lagu.

Meski demikian ND menegaskan dirinya bukan seorang PSK. Ia tak menawarkan jasa esek-esek secara terbuka. Hubungan antara penyedia jasa dengan klien terjadi karena kecocokan.

"Karena sudah sering ke sini dan bertemu akhirnya kami kenal dekat," ujar perempuan 26 tahun itu.

ND mengaku mendapat bayaran atas jasa esek-esek itu. Bila kliennya dermawan, ia mendapat bayaran Rp1,5 juta untuk satu kali kencan.


(RRN)