Malaysia Rekrut Tenaga Kerja Nepal dan Bangladesh, TKI Terancam

Pythag Kurniati    •    26 November 2015 15:19 WIB
tki
Malaysia Rekrut Tenaga Kerja Nepal dan Bangladesh, TKI Terancam
Acara Employment Business Meeting di Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis (26/11/2015). (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Beberapa sektor penyerap tenaga asing di Malaysia mulai menggunakan tenaga kerja dari dari Nepal dan Bangladesh. Tentu saja hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi Tenaga Kerja Indonesia, sebab ketatnya pasar kerja internasional semakin terasa.

Pernyataan tersebut mengemuka dalam acara Employment Business Meeting di Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis 26 November.

Wakil Duta Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur Malaysia, Hermono mengatakan beberapa sektor yang mulai menggunakan tenaga kerja Nepal dan Bangladesh antara lain sektor perkebunan dan perhotelan. “Di sektor perkebunan misalnya, Malaysia mulai merekrut 1,5 juta tenaga kerja Bangladesh,” paparnya.

Sedangkan di sektor perhotelan, ungkap Hermono, Malaysia telah mulai merekrut tenaga dari Nepal. Nepal yang tadinya tidak masuk dalam ‘radar’ penyerapan tenaga kerja asing di Malaysia kini telah mulai bersaing dengan negara lainnya seperti Indonesia dan Filipina. Sementara, di sektor industri elektronik seperti di Pinang, Malaysia, perusahaan tidak lagi menerima pegawai baru.

“Padahal dari segi bahasa, kita sebenarnya bisa dikatakan lebih unggul. Namun, tentu saja Malaysia mencari sumber tenaga kerja yang menguntungkan baik dari sisi biaya maupun keahlian,” imbuhnya.

Hermono mengungkapkan selama ini berbagai pihak menganggap Malaysia selalu tergantung pada Indonesia dalam penyediaan tenaga kerja. Anggapan itulah yang menjadikan Tenaga Kerja Indonesia lengah bersaing di pasar kerja internasional.

“Kebutuhan menciptakan lapangan kerja semakin tinggi, ada 400 hingga 500 ribu pengangguran baru dalam satu tahun. Sehingga penempatan TKI menjadi alternatif. Tapi yang tak kalah penting harus bisa bersaing, tidak hanya ke Malaysia namun  juga ke negara-negara lain,” pungkas dia.


(SAN)


Video /