Dilema Perempuan dalam Kasus HIV/AIDS

Damar Iradat    •    01 Desember 2015 02:26 WIB
Dilema Perempuan dalam Kasus HIV/AIDS
Ilustrasi Stop HIV AIDS - ant

Metrotvnews.com, Jakarta: Angka penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di kalangan perempuan, khususnya ibu rumah tangga masih tinggi. Perempuan, khususnya ibu rumah tangga merasa masih dipinggirkan oleh pemerintah dalam program prioritas penanggulangan HIV.

Menurut salah satu aktivis dari LSM Yayasan Spiritia yang juga Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), GS, 35, saat ini kasus HIV/AIDS yang menjangkit ibu rumah tangga cukup banyak. Pemerintah dianggap belum menjangkau program kepada mereka.

Dalam data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, angka kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga memang cukup banyak. Bahkan menjadi nomor satu, jika dilihat dari jenis profesi, di luar kategori 'tidak diketahui' dan 'lain-lain'. Sejak tahun 1987 hingga 2015, angka tersebut berada pada angka 9.096 kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga.

"Perempuan yang terinfeksi HIV itu merasa bahwa perempuan, ibu rumah tangga itu tidak menjadi prioritas program pemerintah. Makanya, tiap tahun (angka kasusnya) meningkat sekarang yang paling tinggi itu adalah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV," kata GS dalam acara temu media menyambut Hari HIV/AIDS Se-Dunia, di Gedung Kementerian Kesehatan, Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (30/11/2015).

Yang dilakukan pemerintah saat ini, kata GS, hanya mendeteksi perempuan yang hamil melalui KIA di puskesmas. Jadi, cara mereka menangkap ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV itu apabila ada perempuan yang hamil.

Sebenarnya yang menjadi perhatian LSM di lapangan itu bagaimana ada sebuah gerakan. Gerakan tersebut minimal jikalau pemerintah belum memulai, LSM, dengan gerakan door to door memberikan informasi kepada ibu rumah tangga.

"Karena setiap pintu rumah pasti ada ibu rumah tangga. Karena kalau hanya menurut kita menangkap dari puskesmas, which is ibu rumah tangga yang sudah hamil itu sudah telat," kata dia.

Dari gerakan tersebut, harapannya memang ibu rumah tangga yang sekadar bertugas di rumah lebih memahami informasi soal HIV. Perempuan, tambah GS, juga perlu tahu apa yang perlu dilakukan terkait HIV.

"Jadi perempuan juga tahu kalau suami keluar kota lebih lama, istri itu harus apa? Terkadang ada juga perempuan yang memang sudah diedukasi, sudah tau informasi soal HIV, ketika suaminya keluar kota mereka membekali suaminya kondom, daripada pulang-pulang dia membawa virus lebih baik siapkan kondom," kata dia.

Dalam kasus HIV/AIDS, perempuan memang paling sering terkena dilema. GS menuturkan, ketika banyak teman-teman senasibnya yang HIV positif, sulit memberitahu keadaan mereka kepada keluarganya. Apalagi kepada sang suami.

Padahal, banyak kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga karena ditularkan oleh suami mereka. Bahkan, karena perkara ini, hubungan rumah tangga bisa retak.

"Pernah ada suatu kejadian bahkan, akhirnya mereka ribut dan suaminya menceraikan karena alasannya "kenapa kamu bisa HIV? Kamu selingkuh?" Hal-hal seperti itu, bagaimana membuka komunikasi antara pasangan, apabila istrinya duluan yang kena HIV," ungkap dia.

Menurut GS, saat ini beberapa LSM yang fokus kepada ODHA bekerja sama dengan puskesmas, bagaimana mengatur strategi, kalau salah satu dari pasangan terkena IMS (infeksi melalui seks). Salah satu caranya, yakni pasanganya akan dipanggil terlebih dahulu, didudukan di layanan, baru diberikan edukasi dari petugas puskesmas.

Ia pun mengakui, saat ini LSM juga bergerak dengan prinsip hak warga. Bahwa, warga negara berhak mengetahui status HIV nya lebih dini.

"Siapapun saat ini berhak untuk tahu, karena semakin cepat tahu, semakin cepat mendapat pengobatan. Jadi, pendekatan kita adalah pendekatan hak," pungkas dia.
(AZF)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

2 days Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /