'Desa Bebas Api' APRIL Group untuk Pencegahan Kebakaran Hutan

Krisiandi    •    03 Desember 2015 12:47 WIB
cop21
'Desa Bebas Api' APRIL Group untuk Pencegahan Kebakaran Hutan

Metrotvnews.com, Paris: Di tengah penyelenggaraan COP21 United Nations Framework Climate Change Conference (UNFCCC) di Paris, Prancis, perusahaan produsen serat, kertas dan bubur kertas APRIL Group yang beroperasi di Riau menjabarkan tentang Program Desa Bebas Api (Fire Free Village Program).

Managing Director APRIL Indonesia Operations Tony Wenas mengatakan, program ini dirancang untuk mencegah kebakaran hutan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik masyarakat, unsur pemerintahan dan lembaga swadaya masyarakat.

Dalam panel diskusi di Paviliun Indonesia tentang pencegahan kebakaran hutan, Tony memaparkan  lima pendekatan elemen inti dalam program Desa Bebas Api yang diterapkan APRIL: pemberian insentif bagi masyarakat untuk tidak membakar hutan, membangun kapasitas masyarakat dalam mendeteksi, melaporkan dan memadamkan  kebakaran, alternatif bercocok tanam dengan tidak menggunakan api dan pemantauan kualitas udara, serta penyuluhan tentang dampak negatif kebakaran.

"Kebakaran hutan dan lahan  sangat merugikan dan membahayakan untuk semua pihak. Tidak ada yang diuntungkan dalam kebakaran hutan. ," kata Tony kepada Metrotvnews.com di Paris, Prancis, Rabu (2/12/2015).

Pada tahap pilot project di 2014, program Desa Bebas Api dimulai dengan empat desa rawan kebakaran. Tahun ini, sebanyak sembilan desa ikut berpartisipasi.

Menurut Tony, program ini telah membantu menurunkan kebakaran pada desa-desa tersebut. "Desa-desa yang sama sekali tidak terdapat insiden kebakaran diberikan insentif Rp100 juta dalam bentuk program. ," ujarnya.

Pendekatan lainnya adalah pertanian alternatif. APRIL Group memberikan bantuan kepada masyarakat yang akan membuka lahan tanpa membakar. Bantuan itu misalnya berupa alat berat.

"Masyarakat tidak boleh membakar lahan, tapi juga mesti diberikan alternatif. Mereka juga harus makan. Jadi, kita bantu dengan memberikan alat berat," ucapnya.

Dengan program ini, terjadi penurunan titik api secara signifikan. Dari evaluasi, program yang dianggap efektif untuk mencegah kebakaran hutan bakal terus berlanjut. Bahkan jumlah desa yang diajak menjalankan program ini direncanakan bertambah hingga 18 desa tahun depan.  

Program ini menghabiskan uang USD35 ribu per desa. Tapi, kata Tony,  secara hitung-hitungan bisnis, program ini menguntungkan. Dengan tidak terjadi kebakaran hutan, artinya perusahaan tak perlu merogoh kantong untuk memadamkan api.

"Memadamkan api itu harus dengan  pesawat khusus, heli saja biaya operasionalnya  USD5 ribu per jam. Memadamkan dengan water bombing, dua kali water bombing sudah perlu terbang berapa jam. Intinya ya tak rugi lah," kata dia.

Tony berharap program ini dapat diadopsi secara lebih luas dengan mengikutsertakan berbagai pemangku kepentingan, karena inti kesuksesan program Desa Bebas Api adalah kerjasama berbagai pihak untuk tidak membakar lahan.

"Kalau stakeholder lain ikut, bisa ribuan desa yang terlibat dan ini bisa lebih menurunkan kebakaran hutan dan bencana asap secara signifikan," paparnya.

Memotivasi Masyarakat

Kepala Desa Kuala Panduk, Teluk Meranti, Pelalawan, Riau, Tomjon, mengatakan bahwa program Desa Bebas Api memotivasi warga tak lagi membakar hutan. Apalagi ada insentif Rp100 juta dan bantuan alat berat untuk mempersiapkan lahan sebelum bercocok tanam.

"Program ini sangat mendukung perekonomian masyarakat," kata dia.

Awalnya, warga di desa mendesak Tom karena ingin ada solusi agar bisa membuka lahan, bersawah atau berladang. "Kata pemerintah tidak boleh membakar, kami pimpinan di desa didesak bagaimana cara untuk dapat bersawah. Dengan program APRIL Group, masyarakat setuju tak lagi membakar ,karena ada alternatif lain tersedia yaitu alat berat," jelasnya.

Membuka lahan dengan menggunakan api adalah metode paling cepat dan murah, sementara masyarakat tidak memiliki alterntif lain seperti alat berat. Tom berharap banyak pihak, termasuk pemerintah bisa mengikuti langkah APRIL Group.

Sementara Koordiantor LSM Rumah Pohon Dede Kunaifi menilai program ini efektif dalam mencegah kebakaran hutan. Desa Bebas Api sangat membantu masyarakat dalam memberdayakan lingkungan.

Sama seperti Tom, Dede pun berharap pemerintah memiliki program lebih efektif. "Karena peran yang sesungguhnya ada di pemerintah," tukasnya.

Ditiru dan Didukung Pemerintah

Program ini ternyata ditiru Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Kepala BPDP Bayu Krisnamurthi mengungkapkan progam milik APRIL Group menginspirasi.

"Dan pengembangan Desa Bebas Api jadi komitmen kami," kata Bayu.

Bayu mengatakan, Desa Bebas Api yang diinsiasi APRIL Group menunjukkan hasil yang sangat baik. Belajar dari insiden kebakaran hutan 2015, bahwa pencegahan harus dikedepankan ketimbang pemadaman.

"Kita mencontoh dari APRIL, kita ambil pokok-pokoknya dan kita coba terapkan di desa lain. Tahun depan kami berencana menerapkan Desa Bebas Api di 100 desa. Tahun 2017 kita bisa tambah lagi sampai 150 desa," beber Bayu.

Bayu berharap perusahaan-perusahaan lain mencontoh APRIL dan menerapkannya di daerah tempat perusahan itu beroperasi. Karena, kata dia, 250 desa dalam dua tahun tak cukup.

Bayu menuturkan jika ada desa, LSM atau pemerintah daerah yang berkeinginan ikut dalam program itu, "Bisa menghubungi kita," ucapnya.

Teknisnya, kata Bayu, hampir mirip dengan pendekatan yang diterapkan APRIL Group. Program ini akan diterapkan di desa-desa yang pada kebakaran hutan tahun lalu terdapat titik api.  

Berapa anggarannya? "Saya melihat APRIL. Untuk 100 desa, bisa Rp30 miliar sampai Rp32 miliar," katanya.

Di tempat yang sama, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menuturkan pemerintah menghargai apa yang dilakukan perusahaan swasta, civil socity, LSM atau komunitas masyarakat desa dalam menjaga lingkungan.  

"Pada dasarnya pemerintah mendukung bahkan mendorong hal-hal seperti itu," katanya kepada Metrotvnews.com.


(NIN)


Media Malaysia: Wartawan Vietnam Agen Mata-Mata?
Final Piala AFF 2018

Media Malaysia: Wartawan Vietnam Agen Mata-Mata?

17 hours Ago

Media Malaysia menurunkan tulisan tentang tingkah laku wartawan Vietnam selama Final Piala AFF …

BERITA LAINNYA
Video /