ICW: Jangan Sampai Kasus Novanto di Kejagung Sebatas Lips Service

Cahya Mulyana    •    04 Desember 2015 11:23 WIB
pencatut nama presiden
ICW: Jangan Sampai Kasus Novanto di Kejagung Sebatas <i>Lips Service</i>
Ilustrasi--MI/Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia Corruption Watch (ICW) mengapresiasi langkah Kejaksaan Agung yang berinisiatif menyelidiki dugaan korupsi divestasi saham PT Freeport Indonesia. Namun demikian, pengusutan dugaan korupsi oleh Ketua DPR Setya Novanto mesti dikawal agar bisa tuntaskan, termasuk mengusut keterlibatan pihak lain.

"Tentu di samping mendalami 'Papa Minta Saham' dari divestasi PT Freeport yang diduga dilakukan Setya Novanto, harus diusut ke ranah pidana. Bukan hanya etik, sehingga patut diapresiasi Kejaksaan Agung yang mengambil langkah cepat memulai proses penyelidikan," terang Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan ICW Emerson Yuntho, saat dihubungi, Media Indonesia, Jumat (4/12/2015).

Menurut Emerson, percobaan korupsi yang dilakukan Novanto bersama sejumlah pihak lain dengan modus mendapatkan persentase saham PT Freeport sudah tepat dibawa ke ranah pidana. Pasalnya, Undang-undang Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 permufakatan jahat atau berupaya untuk melakukan masuk extraordinary crime ini sudah bisa masuk kategori korupsi.

"Sudah tepat Kejaksaan mengusut dugaan korupsi oleh Setya Novanto. Tentu hal ini harus dibarengi dengan pengawasan masyarakat supaya proses hukumnya bisa tuntas supaya tidak hanya sebatas lips service," kata Emerson.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jam Pidsus) Arminsyah menegaskan, penyelidikan oleh Mahkamah Kehormatan Dewan berbeda dengan Kejagung. Dia mengatakan, pelanggaran etika yang diduga dilakukan Setya Novanto tak menutup adanya dugaan pelanggaran korupsi.

"Pelanggaran etika itu tidak menutup adanya dugaan pelanggaran tindak pidana korupsi," jelasnya.

Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti terkait kasus yang menjerat politikus Partai Golkar itu. "Kami masih mengumpulkan bukti-bukti, kami merespons apa yang tersebar luas di masyarakat," kata Prasetyo saat dihubungi terpisah.

Dini hari tadi, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin menyambangi Kejaksaan Agung. Pantauan Metrotvnews.com, Maroef tiba pukul 00.34 dengan menumpang sedan hitam bernopol B 1749 PAE. Tanpa berkomentar, Maroef yang didampingi sekretaris pribadinya, memasuki Gedung Bundar.

Maroef ke Kejaksaan, setelah selesai menjalani pemeriksaan di Mahkamah Kehormatan DPR (MKD), sejak Kamis siang 3 November. Nyaris 12 jam Maroef duduk di kursi persidangan di Kompleks Parlemen, Senayan.

Maroef adalah saksi terkait kasus dugaan pencatutan nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang diduga melibatkan Ketua DPR Setya Novanto. Pencatutan itu untuk kepentingan pemulusan perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Maroef memegang rekaman sebagai bukti pencatutan tersebut. Telepon genggam yang dijadikan Maroef untuk merekam pembicaraan dirinya dengan Novanto dan pengusaha Muhammad Riza Chalid, kini berada di meja Jampidsus.

Kedatangan Maroef ke Jampidsus dini hari ini, merupakan yang ketiga kali. Setelah pertama kalinya, pada Rabu (2/12/2015) malam dan Kamis (3/12/2015) pagi.


(YDH)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

23 hours Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /