Begini Kisah Perjuangan Anak Maratua Dalam Menuntut Ilmu ke Sekolah

Renatha Swasty    •    05 Desember 2015 20:21 WIB
sekolah jauh
Begini Kisah Perjuangan Anak Maratua Dalam Menuntut Ilmu ke Sekolah
Anak-anak SD 04 Kampung Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: MTVN/ Renatha Swasty

Metrotvnews.com, Jakarta: Keterbatasan fasilitas pendidikan di pulau terluar tak menyurutkan niat anak-anak SD 04 Kampung Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur untuk bersekolah. Semangat untuk bersekolah hanya luntur ketika cuaca laut tak bersahabat.

Pulau Maratua, pulau terluar Indonesia yang letaknya di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan Filipina hanya memiliki satu sekolah dasar. Letaknya ada di Kampung Teluk Alulu.

Di Maratua, terdapat tiga kampung lain yakni Payung-payung, Boheseloan dan Bohebukut. Untuk sekolah, anak-anak ketiga kampung harus pergi ke Kampung Atalulu yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer dari kampung paling ujung.

Untuk menempuh perjalanan jauh itu, anak-anak yang tinggal di RT 1, disediakan kapal oleh kecamatan. Kapal, akan membawa mereka pergi dan pulang sekolah. Namun, cuaca tak selamanya baik bagi kapal.

"Kalau gelombang lagi tinggi, kapal enggak berani jalan. Anak-anak sekolah diantar orang tuanya pakai motor," ujar Kepala Sekolah SD 04, Agus Purwo Utomo saat berbincang bersama wartawan di Maratua, Jumat (5/12/2015).

Tapi kata Agus, tak semua orang tua memiliki motor sehingga tidak semua anak-anak bisa sekolah bila gelombang sedang tinggi. Kalau sudah begini, anak-anak hanya bisa berdiam diri di rumah..

"Ya kalau gelombang tinggi puluhan anak enggak masuk sekolah. Kita juga memaklumi," ujar Agus.

Meski demikian, Agus mengatakan baik guru maupun orang tua tak patah arang. Selama masih aman, Agus meminta anak-anak tetap sekolah.

"Tetap sekolah meskipun cuaca laut kurang bagus, kalau masih aman kita minta orang tua, anak-anaknya sekolah. Tapi kalau kita lihat sudah tidak aman, tidak memungkinkan untuk anak-anak datang, mereka tidak sekolah," ujar Agus.

Lantaran cuaca laut itu juga, anak-anak setiap hari masuk sekolah pukul 07.30 WITA sampai pukul 12.00 WITA. Mereka belajar setiap Senin hingga Sabtu. Meski singkat, Agus menjelaskan, anak-anak dipastikan mendapat pelajaran yang sesuai.

"Mereka dapat ekstrakulikuler dari kakak-kakak SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Kalau ada yang kurang nanti dibantu di luar jam sekolah," ungkap Agus.

Saat ini sebanyak 103 anak belajar di SD 04. Mereka terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6. Adapun, anak-anak SD itu saat ini diajar oleh tujuh guru dan dua tenaga pengajar dari SM3T.
 


(DEN)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

2 days Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /