Gus Sholah : MKD itu Mahkamah Konco Dewe

Wanda Indana    •    07 Desember 2015 01:59 WIB
pencatut nama presiden
Gus Sholah : MKD itu Mahkamah Konco Dewe
Gus Sholah - ANT/Syaiful Arif

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengasuh Ponpes Tebuireng, Salahuddin Wahid, mengaku tidak percaya dengan persidangan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terkait pelanggaran etik Ketua DPR Setya Novanto dalam dugaan pencatutan jabatan Presiden dan Wakil Presiden terkait perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Anggota MKD dinilai telah membela Setya Novanto.
 
Menurut pria yang akrab disapa Gus Sholah ini, Novanto jelas melanggar kode etik lantaran mengajak  pengusaha minyak M. Riza Chalid, untuk menemui Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin terkait perpanjangan kontrak PTFI. Tapi, anggota MKD kata dia justru ragu-ragu menentukan apa pertemuan itu pantas atau tidak.
 
"Saya tidak percaya kepada MKD, kalau Ketua DPR rakyat sudah tidak dipercaya, pasti tidak percaya," kata Gus Solah dalam acara Mata Najwa Metro TV, Jakarta, Minggu (06/12/2015) malam.
 
Gus Sholah menduga, ada permainan politik dalam sidang MKD. "Di Jawa Timur itu, MKD itu disebut Mahkamah Konco Dewe (Teman Sendiri). Jangan sampai bapak-bapak jadi teman pak Novanto, membela dengan cara tidak cerdas, tidak cerdas emosi," ketus dia.
 
Dalam sidang etik sebelumnya, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memutar rekaman utuh bukti dugaan pertemuan Ketua DPR Setya Novanto, pengusaha minyak M. Riza Chalid, dan Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin terkait perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Pertemuan diinisiasi Riza di lantai 21 Hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta Selatan, 8 Juni 2015.
 
Dalam pertemuan itu, Maroef merekam seluruh isi percakapan selama 1 jam 27 menit. Rekaman itu merupakan bukti yang diserahkan Menteri ESDM Sudirman Said. terkait laporan dugaan pelanggaran etik yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Isi rekaman  cukup mencengangkan. Sebab, jabatan presiden dan wapres dicatut buat diberi jatah saham PT Freeport. Tak hanya itu, Novanto dan Riza juga membicarakan soal bisnis PLTA Urumuka yang akan digagas Freeport.
 
Selama pertemuan, Maroef mengakui banyak nama disebutkan. Antara lain, Luhut Binsar Pandjaitan yang saat itu menjabat Kepala Staf Kepresidenan. Novanto dengan terang berusaha meyakinkan Maroef soal usahanya buat menegosiasikan perpanjangan kontrak karya PT Freeport. Namun sebaliknya, Maroef justru menilai Novanto sedang melakukan pencaloan.


(REN)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

2 days Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /