Luhut Terharu Ingat Operasi Perebutan Kota Dili

Achmad Zulfikar Fazli    •    07 Desember 2015 20:29 WIB
Luhut Terharu Ingat Operasi Perebutan Kota Dili
Menko Polhukam Luhut Panjaitan memberikan pidatonya pada Peringatan 40 tahun Penerjunan di Kota Dili oleh Satuan Tugas Nanggala V di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta, Senin (7/12/2015).--Foto: Antara/M Agung Rajasa

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan terharu saat mengingat kembali masa-masa perjuangan TNI dalam Operasi Perebutan Kota Dili di Timor Timur. Apalagi, operasi merupakan pertama kali baginya di bawah pimpinan Komandan Grup Satu Nanggala Lima, Letnan Jenderal (Purn) Sugito.

Pantauan Metrotvews.com, Luhut yang menyampaikan sambutan sempat berulang kali berhenti berbicara dan terlihat raut wajah yang sedih. Ia pun berulang kali berhenti sekitar 1 menit untuk kemudian melanjutkan kembali sambutannya.

"Saya komandan Kompi A. Kemudian saya masih ingat Pak Gito, operasi kita berubah dari dua tim jadi tiga. Saya masih ingat semua jelas, semua perjalanan kita," kata Luhut dengan raut muka sedih dalam acara Peringatan 40 Tahun Penerjunan di Kota Dili 7 Desember 1975 di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Senin (7/12/2015).

Luhut mengatakan, perasaan terharu tersebut muncul lantaran sudah banyak prajurit seperjuangannya yang gugur atau meninggal. "Saya terharu sebab saya pikir, saya bisa begini karena prajurit-prajurit kita yang sudah pergi. Jadi itu yang buat saya terharu sejenak. Perjalanan begitu cepat," ucap dia.

Ia pun teringat dengan cepatnya operasi yang dipimpin Letjen (Purn) Sugito. Berbagai skenario dilakukan namun tanpa rencana yang baik.

"Perubahan skenario tidak kita inginkan. Ini pelajaran buat perwira harus terkoordinir dengan baik. Spirit di sini tidak bisa dilupakan. Mereka enggak akan tahu besok apa yang akan terjadi," tegas dia.

Luhut juga teringat perintah mantan Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Jenderal (Purn) Leonardus Benjamin Moerdani (Benny Moerdani). Ketika itu, Benny menyerahkan dan mempercayakan Operasi Perebutan Kota Dili kepada Detasemen yang diisi oleh Luhut untuk merebut Kota Dili, Timor Timur.


Sejumlah anggota Satuan Tugas Nanggala V melihat foto kenangan perebutan kota Dili saat Peringatan 40 tahun Penerjunan ke kota Dili di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta, Senin (7/12/2015).-Foto: Antara/M Agung Rajasa

"Tiba-tiba dia breafing perebutan Kota Dili. (Katanya) Saya serahkan operasi Kota Dili kepada detasemen ini. Saya yakin Kota Dili akan berhasil direbut, tetapi akan ada yang gugur. Siapa orang ini ngomong mati ternyata Pak Benny Moerdani," tutur dia.

Lebih lanjut, mantan Kepala Staf Kepresidenan ini pun mengingatkan kepada prajurit Kopassus saat ini untuk membuat skenario terencana dengan baik dalam setiap melakukan tindakan.

"Saya sangat yakin sekarang lebih terencana dan sangat manusiawi. Kalau kemarin tidak manusiawi. Kemarin ada yang hilang karena tidak terencana dengan baik," kata dia.

Operasi Perebutan Kota Dili merupakan permulaan dari terbentuknya Operasi Seroja. Berdasarkan informasi yang dihimpun Operasi Seroja atau Invasi Indonesia atas Timor Timur dimulai pada 7 Desember 1975.

Saat itu, TNI menginvasi Timor Timur dengan dalih antikolonialisme. Penggulingan Pemerintahan Fretilin yang tengah populer dan singkat memicu pendudukan selama seperempat abad dengan kekerasan. Sekitar 100 hingga 180 ribu tentara dan warga sipil diperkirakan tewas atau menderita kelaparan akibat operasi ini.

Dalam operasi ini TNI mendapatkan bantuan peralatan dari Amerika Serikat dan Australia. Sedangkan, Timor Timur mendapatkan bantuan dari Portugal.

Namun, dua dekade terakhir, Timor Timur akhirnya memilih merdeka lewat referendum oleh misi PBB di Timor Timur.
(MBM)