Ika Paramita

Soal Teknologi, Perempuan tak Kalah Hebat dari Laki-Laki

Lufthi Anggraeni    •    08 Desember 2015 11:16 WIB
tech and life
Soal Teknologi, Perempuan tak Kalah Hebat dari Laki-Laki
Ika Paramitha, Head of Marketing di Sony Mobile Communication Indonesia.

Metrotvnews.com: Perjuangan RA Kartini dalam penyetaraan hak untuk perempuan juga terlihat di industri teknologi. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya perempuan yang duduk di jabatan penting perusahaan teknologi, yang selama ini diketahui sebagai industrinya kaum laki-laki.
 
Kehadiran perempuan sebagai pemangku tanggung jawab penting di industri teknologi dunia, salah satunya diwakili oleh Marissa Mayer, CEO Yahoo, perusahaan besar penyedia layanan surat elektronik dunia. Tidak hanya di dunia, di Indonesia sendiri, kehadiran perempuan di industri yang sering kali dinilai kurang dapat menarik minat kaum hawa ini, justru semakin banyak.
 
Salah satunya adalah Ika Paramita, yang menjabat sebagai Head of Marketing di Sony Mobile Communication Indonesia. Tiap kali Ika tampil di panggung untuk mempresentasikan produk terbaru Sony, ruangan yang riuh mendadak jadi terasa lebih tenang. Senyumnya memesona, tatapannya bersahabat. Dewi ini seharusnya dilarang tampil agar perhatian orang tak tertuju padanya, tetapi pada produk baru yang diluncurkan perusahaannya.

Ika Paramita, atau yang akrab disapa Ika, mengaku terjun ke industri ini karena tertarik oleh teknologi itu sendiri. Ika memandang teknologi secara keseluruhan dapat mengubah cara manusia dalam berinteraksi.
 
“Jadi tidak hanya lagi smartphone itu untuk menelepon, mengirim pesan atau berkomunikasi, tapi dia juga me-reshape semua cara konsumen untuk berhubungan dengan semua sekitarnya.”
 
Melalui perannya sebagai Head of Marketing, Ika berkeinginan untuk lebih terlibat dalam menghadirkan pengalaman pemanfaatan teknologi yang lebih menyenangkan.




Pernah bekerja sebagai marketing di perusahaan consumer goods sebelum menjabat sebagai marketing di Sony Mobile Communication Indonesia, saat kami wawancarai, Ika mengaku tidak memiliki latar belakang pendukung terkait dengan industri ini. Namun, ketertarikannya akan teknologi memacu semangat belajar Ika untuk lebih memahami industri yang digelutinya ini. Keinginannya untuk lebih memahami teknologi tidak hanya terkait dengan spesifikasi produk yang menjadi tanggung jawabnya, juga rekan yang terlibat dengan produk tersebut.
 
Ketika disinggung mengenai daya tarik utama industri teknologi, Ika menyebut industri teknologi yang dinamis, serta tujuan utama teknologi untuk mempermudah dan memperkaya kehidupan individu dan masyarakat menjadi daya tarik utama industri teknologi untuk ibu dari dua orang putra dan putri ini. Kemunculan hal baru pada teknologi yang rutin terjadi, juga disebut Ika sebagai hal lain yang industri ini jauh dari kata membosankan.
 
Sebagai perempuan di industri yang dikenal sebagai bidang laki-laki, Ika menyebut peran perempuan semakin terasa, dengan semakin banyaknya pekerja perempuan di industri ini. Bagi Ika, pada industri teknologi, perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki. Hanya saja, kepercayaan diri yang tidak setinggi laki-laki dinilai sebagai penghalang terbesar perempuan dalam menunjukan kemampuannya di bidang ini.
 
Perempuan, ungkap Ika, memiliki kemampuan untuk dapat melihat aspek lain dari teknologi, yang mungkin tidak dapat dilihat oleh laki-laki. Perempuan juga disebut mampu menjadi penengah antara masyarakat awam teknologi dengan insinyur yang sangat memahami teknologi, untuk menjelaskan teknologi tersebut dengan bahasa yang lebih sederhana.
 
Ika menyebut kehadirannya sebagai salah satu figur perempuan di industri teknologi tidak lepas dari dukungan keluarga, terutama sang suami. Ika menyebut, sang suami memberi dukungan penuh saat dia menyatakan ketertarikannya untuk berkecimpung di industri ini.
 
“Jadi ketika saya menyatakan, dia malah bilang bagus, karena itu (teknologi) adalah masa depan.”
 
Menjadi ibu sekaligus pemimpin divisi marketing perusahaan teknologi terkemuka diakui Ika bukan hal yang mudah untuk dijalani. Bahkan, menjaga keseimbangan antara keluarga dan karir tidak selalu berhasil dilakukannya, ataupun perempuan lain. Namun, prinsip seratus persen yang dipegang teguh oleh Ika sejak usia remaja, diakui menjadi cara terbaik baginya untuk menyeimbangkan kehidupan berkeluarga dan berkarir.

Sebagai orang Indonesia, dia merasa beruntung karena didukung sistem yang baik dari keluarganya. Dukungan keluarga, misalnya, terlihat ketika dia dan suami menjalankan tugas di luar negeri. Sang adik dengan sukarela menginap dan menemani anak-anaknya.
 
Berkecimpung di industri teknologi diakui Ika menjadikannya lebih memahami dampak positif dan negatif teknologi. Karenanya, Ika membatasi waktu penggunaan perangkat teknologi untuk anak-anaknya, dengan hanya memberikan mereka waktu di akhir pekan saja.

Prinsip yang diterapkannya ini juga sebagai cara Ika merangsang kreativitas anak-anaknya saat bermain tanpa menggunakan gadget. Memilih game yang sesuai dengan usia anak menjadi cara lain Ika untuk mengarahkan dan menjaga buah hatinya dari dampak negatif teknologi.
 
Saat disinggung mengenai rencana berganti haluan dari industri teknologi, Ika mengaku belum berencana pindah dari industri yang dinilainya dinamis ini. Ika sudah terlanjur jatuh cinta pada industri ini, dan merasa telah berada di bidang yang tepat dan sesuai dengan minatnya sebagai marketing teknologi.


 
Dukungan industri teknologi terhadap perempuan, dinilai Ika, baik, terlihat dari jumlah perempuan yang kian hari semakin bertambah. Sementara, dukungan dari Sony Mobile Communication untuk perempuan diwujudkan melalui peraturan khusus seperti cuti melahirkan, biaya kesehatan, hingga cuti ketika sedang mengalami datang bulan.

Bentuk dukungan lain, ungkap Ika, diberikan saat pegawai perempuan yang sekaligus ibu harus pulang karena urusan kesehatan anak, dengan catatan tidak mengganggu pekerjaan mereka.
 
Untuk saat ini, Ika mengaku bahagia dengan pencapaiannya. Ika kini sedang terfokus untuk mengembangkan tim dan membantu mereka dalam mencapai level optimal. Selain tim, Ika juga menyebut keluarga sebagai fokus utamanya saat ini, sehingga dia tak berkeberatan jika nantinya belum diserahi tanggungjawab yang lebih tinggi.
 
Disinggung mengenai kegiatan sehari-hari, Ika menyebut hari-harinya di tengah pekan dimulai dengan mengurusi kebutuhan keluarganya, terutama anak-anak, kemudian dilanjutkan dengan kesibukan di kantor. Ditutup dengan membimbing buah hati mengerjakan pekerjaan rumah dan menidurkan mereka, kemudian beristirahat.

Sementara di akhir pekan lebih dinamis. Akhir pekan menjadi kesempatan bagi Ika untuk mencurahkan seluruh perhatiannya dalam mengurus keluarga dan rumah, seperti memasak dan merapikan seisi rumah.
 
Kepribadian Ika yang sederhana dan santai terlihat dari cara berbusana sehari-harinya, baik saat ke kantor, maupun saat bersama keluarga. Ika mengaku, selain sesuai dengan kepribadiannya, mengenakan pakaian rapi namun tetap terkesan santai, menjadi caranya untuk memberikan kesan bahwa dia mudah didekati.
 
Kesan mudah didekati tidak hanya untuk rekan demi kenyamanan menjalin kerjasama bisnis, juga ditujukannya kepada anggota tim internalnya. Ika berharap, dengan cara berbusananya yang santai dapat mengurangi rasa sungkan antara dia dan anggota timnya, sehingga interaksi menjadi lebih mudah dan nyaman.
 
“Jadi yang saya ingin sampaikan adalah, satu, saya itu professional, dua, saya approachable, dan yang ketiga itu saya, tetap dengan personality saya, yaitu laid back.”
 


Kesan sederhana juga kami dapati saat diizinkan untuk mengintip isi tas perempuan yang telah menjabat sebagai Head of Marketing di Sony Mobile Communication Indonesia selama tiga tahun ini. Hari itu, tas Ika diisi dompet, dompet make-up dua smartphone, kacamata hitam, tisu basah dan kering, kunci rumah dan mobil, serta charger ponsel. Namun, pada kesehariannya, Ika mengaku tasnya hanya berisi dua headphone yang salah satunya adalah headphone nirkabel, charger ponsel, smartphone, dompet dan tisu.

Ika menyebut lebih memilih meninggalkan sejumlah alat make-up hariannya di lagi meja kantor karena dinilainya lebih praktis.

Pada wawancara kami, Ika juga mengungkapkan harapannya untuk perempuan di industri teknologi. Ika berharap akan semakin banyak perempuan hebat yang hadir di industri ini. Ia juga berharap, kehadirannya di industri ini mampu membantu lebih banyak perempuan dengan kemampuan yang tidak kalah baik dengan laki-laki, untuk dapat terjun di industri teknologi.


(MMI)