Nazaruddin Didakwa Cuci Uang Korupsi Rp374 Miliar untuk Beli Saham

Renatha Swasty    •    10 Desember 2015 17:06 WIB
nazaruddin
Nazaruddin Didakwa Cuci Uang Korupsi Rp374 Miliar untuk Beli Saham
M. Nazarudin berjalan menahan sakit seusai sidang perdana untuk kasus dugaan pencucian uang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis 10 Desember 2015. Foto: MI/Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Jakarta: Muhammad Nazaruddin didakwa menyembunyikan atau menyamarkan uang korupsi ke sejumlah hal. Salah satunya membeli saham delapan perusahaan menggunakan nama anak perusahaan Permai Grup dan istrinya, Neneng Sri Wahyuni.

Dalam dakwaan, Nazar diduga mentransfer uang hasil korupsi menggunakan rekening atau rekening perusahaan yang tergabung dalam Permai Grup dan rekening atas nama orang lain dengan saldo akhir Rp70,018 miliar dan SGD1043.

Uang itu ia gunakan untuk membeli saham dan obligasi sukuk pada perusahaan sekuritas di KSEI menggunakan perusahaan yang tergabung dalam Permai Grup atau nama orang lain seluruhnya Rp374,747 miliar.

Jaksa Kresno Anto Wibowo membeberkan, selepas menjadi anggota DPR, Nazar tidak lagi tercatat menjadi direksi atau komisaris PT Permai Grup. Namun, pengendalian tetap di bawah Nazar dan pengelolaan keuangan harus melalui persetujuan Nazar.

Selama Oktober 2010 sampai Desember 2014, Permai Grup mendapat fee dari sejumlah pihak. Pemberian lantaran, mantan politikus Partai Demokrat itu membantu perusahaan mendapat proyek yang dibiayai pemerintah.

Pada Oktober 2010-April 2011, Nazar menerima 19 lembar cek yang seluruhnya bernilai Rp23,119 miliar dari PT Duta Graha Indah. Uang diserahkan oleh Mohamad El Idris, Direktur PT DGI.

"Fee karena telah mengupayakan PT DGI mendapatkan proyek pemerintah pada 2010 yakni proyek pembangunan Gedung Universitas Udayana, Universitas Mataram, Universitas Jambi, BP2IP Surabaya tahap III, RSUD Sungai Daerah Kabupaten Damasraya, Gedung Cardic Rumah Sakit Adam Malik Medan, Paviliun RS Adam Malik Medan, RS Inspeksi Tropis Surabaya, dan RSUD Ponorogo," kata Jaksa Kresno di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Nazar juga menerima Rp17,250 miliar dari PT Nidya Karya yang diserahkan oleh Heru Sulaksono. Nazar berjasa karena dalam proses PT Nindya mendapatkan proyek pembangunan Rating School Aceh dan proyek pembangunan gedung di Universitas Brawijaya pada 2010.

Mantan Bendahara Umum Demokrat itu juga disebut Jaksa Kresno mendapat duit Rp4,675 miliar dari PT DGI terkait proyek pembangunan wisma atlet di Jakabaring, Palembang; dari PT Waskita Karya Rp13,250 miliar; dari PT Adhi Karya Rp3,762 miliar; dari Odie dan kawan-kawan Rp33,158 miliar; dari Alwin Rp14,148 miliar, dan dari PT Pandu Persada Konsultan Rp1,701 miliar.

Selain pemberian itu, Nazar juga disebut mendapat keuntungan dari Permai Grup dalam mengerjakan berbagai proyek dengan total keuntungan Rp580,390 miliar.

"Untuk menutupi pemberian-pemberian itu terdakwa membeli saham PT Garuda Indonesia (persero) Tbk. menggunakan PT Permai Raya Wisata, PT Cakrawaja Abadi, PT Darmakusumah, PT Exartech Technologi Utama dan PT Pacific Putra Metropolitan," kata Jaksa Kresno.

Nazar juga membeli saham PT Bank Mandiri (persero) Tbk. menggunakan PT Permai Raya Wisata, PT Cakrawaja Abadi, PT Darmakusumah, PT Exartech Technologi Utama dan PT Pacific Putra Metropolitan. Pembelian pada Februari 2011.

Selanjutnya ia membeli saham PT Krakatau Steel (persero) Tbk menggunakan PT Permai Raya Wisata atas nama istri Nazar, Neneg Sri Wahyuni.

Nazar juga membeli saham PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk menggunakan nama PT Permai Raya Wisata, membeli saham PT Bank Niaga menggunakan PT Pasific Putra Metropolitan, membeli saham PT Gudang Garam atas nama PT Pasific Putra Metropolitan, membeli saham PT Berau Coal Energy dengan nama Neneg dan membeli saham PT Jaya Agra Wattite dengan nama Neneng.

Jaksa menambahkan, Nazar juga membeli obligasi sukuk negara ritel seri SR-003 sebesar Rp1 miliar menggunakan nama Neneng.

Nazar menyamarkan uangnya dengan dialihkan kepemilikannya berupa saham perusahaan di bawah PT Extertech Texhnologi Utama dan PT Panahatan sejumlah Rp50,425 miliar, membeli tanah dan bagunan yang seluruhnya senilai Rp18,447 miliar, dibelanjakan atau dibayarkan untuk pembelian tanah dan bangunan Rp111,117 miliar.

Dibelanjakan atau dibayarkan untuk pembelian kendaraan bermotor Rp1,007 miliar, dibelanjakan atau dibayarkan untuk polis asuransi seluruhnya Rp2,092 miliar.

"Bahwa harta kekayaan yang disembunyikan atau disamarkan diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana korupsi berkaitan dengan jabatan terdakwa selaku anggota DPR periode 2009-2014 karena penghasilan resmi terdakwa tidak dapat dipertanggungjawabkan secara sah dan menyimpang," ujar Jaksa Kresno.

Nazar diancam pidana dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 Pasal 65 ayat (1) KUHPidana dalam dakwaan kedua.


(TRK)

Hasil Lengkap Liga Champions Hari Ini
Liga Champions 2017--2018

Hasil Lengkap Liga Champions Hari Ini

12 minutes Ago

Pertandingan lanjutan penyisihan grup Liga Champions musim ini kembali digelar, Rabu 22 Novembe…

BERITA LAINNYA
Video /