Perburuan Satwa Marak di Kawasan Gunung Bromo

Miski    •    10 Desember 2015 17:40 WIB
hewan dilindungi
Perburuan Satwa Marak di Kawasan Gunung Bromo
Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, saat menunjukkan temuan perburuan liar di kawasan TNBTS. Foto: Metrotvnews.com/Miski

Metrotvnews.com, Malang: Perburuan satwa secara ilegal masih cukup tinggi. Setiap bulan ratusan burung di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ditangkap. Organisasi Protection of Forest & Fauna (ProFauna) mendesak TNBTS memperketat dan menindak tegas para pelaku. 

Dua hari lalu, praktik perburuan terungkap saat petugas ProFauna menemukan jaring-jaring untuk menjerat burung di jalur menuju bukit B29 yang berada di dalam kawasan TNBTS. Selain di jalur menuju B29, perburuan satwa liar sering terjadi di kawasan hutan dekat Desa Ngadirejo dan hutan Ireng-ireng.

Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, mengatakan perburuan atau penangkapan satwa liar di dalam kawasan konservasi merupakan perbuatan melanggar hukum. Menurut UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perburuan satwa liar bisa diancam dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta.

“Masih maraknya penangkapan burung di kawasan TNBTS itu sangat disayangkan karena itu bisa menganggu keseimbangan ekosistem yang ada di kawasan konservasi alam," katanya usai melapor ke pihak TNBTS, Kamis (10/12/2015).

Menanggapi hal itu Kepala Balai Besar TNBTS, Ayu Dewi Utari, berjanji akan segera membentuk tim khusus mengawasi perburuan liar.

"Kawasan Bromo dan Semeru ditetapkan sebagai konservasi dengan luas 576 ribu hektare. Perburuan satwa di kawasan konservasi tidak dibenarkan," kata dia kepada Metrotvnews.com.

Selama 2015 Balai Besar TNBTS telah menangani tiga kasus meliputi perburuan lutung jawa di Pronojiwo, perburuan burung dan perambahan lahan di Den Pinto, Bromo.

Perburuan secara liar mengganggu kelangsungan hidup satwa. Bahkan, tahun ini hewan satwa jenis macan kumbang turun ke permukiman warga. Sama halnya dengan elang jawa yang harus mencari makan hingga sekitar rumah warga.

"Ada apa? Kenapa sampai turun? Pasti ada gangguan. Padahal, manusia dan satwa tidak dapat hidup berdampingan," kata dia.

Ditambahkan Ayu, pihaknya tidak dapat bekerja sendiri dalam mengawasi aktivitas perburuan liar. Melainkan butuh kerja sama semua pihak. Ia juga mengagendakan sosialisasi kepada masyarakat agar supaya tidak melakukan perburuan satwa.

"Polisi hutan di TNBTS baru 20 personel. Langkah praktis yang bisa dilakuan adalah dengan mengajak masyarakat menjaga kawasan hutan," kata dia.


(UWA)

Prediksi Thailand vs Indonesia: Memanfaatkan Tren Positif Garuda
Jelang Thailand vs Indonesia

Prediksi Thailand vs Indonesia: Memanfaatkan Tren Positif Garuda

2 hours Ago

Timnas Indonesia U-16 akan menghadapi tuan rumah Thailand dalam lanjutan Kualifikasi Piala Asia…

BERITA LAINNYA
Video /