Putusan 15 Anggota MKD Kasus #Papa Minta Saham

Al Abrar, Damar Iradat    •    16 Desember 2015 18:17 WIB
pencatut nama presiden
Putusan 15 Anggota MKD Kasus #Papa Minta Saham
Suasana sidang di Mahkamah Kehormatan Dewan. Foto: MI/Mohamad Irfan.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak 15 dari 17 anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) satu per satu telah membacakan sikap dan keputusan dalam kasus dugaan pelanggaran etika oleh Ketua DPR Setya Novanto. Dari 15 anggota MKD yang sudah mendapatkan giliran membacakan keputusan, semua menyatakan Novanto melanggar kode etik.

Sebanyak sembilan anggota MKD memvonis Novanto melanggar kode etik tingkat sedang. Ini disampaikan Dasrizal Basir dan Guntur Sasono (Demokrat), Risa Mariska (PDIP), Victor Laiskodat (NasDem), Maman Imanulhaq (PKB), Sukiman dan A Bakri (PAN), Sarifuddin Sudding (Hanura), dan Junimart Girsang (PDIP).

Sebanyak enam anggota MKD memvonis Novanto melakukan pelanggaran kode etik tingkat berat. Ini disampaikan Dimyati Natakusuma (PPP), M Prakosa (PDIP), Sufmi Dasco Ahmad dan Supratman (Gerindra), Ridwan Bae (Golkar). Mereka juga meminta MKD membentik tim panel etik untuk mengungkap lebih jelas kasus ini. Permintaan yang sama disampaikan oleh anggota MKD dari Fraksi Golkar, Adies Kadir.

Sejumlah anggota MKD juga menyinggung sanksi yang diterima Novanto sebelumnya. Pada 20 Oktober 2015, Setya Novanto telah dijatuhi sanksi ringan oleh MKD. Sanksi itu berupa teguran. 

Sanksi teguran terkait dengan pelanggaran kode etik karena bertemu dengan kandidat calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, September lalu. Ketika itu, Setya bersama Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyambangi Donald Trump di markas pemenangan pengusaha yang juga berinvestasi di Tanah Air itu.

Dua anggota MKD dari unsur pimpinan belum menyampaikan sikap dan keputusan. Keduanya adalah Wakil Ketua MKD dari Fraksi Golkar Kahar Muzakir dan Ketua MKD dari Fraksi PKS Surahman Hidayat. Sidang MKD yang dimulai, Rabu (16/12/2015) pukul 15.00 WIB diskorsing dan akan dimulai lagi pukul 19.30 WIB. 

Ini sikap dan keputusan 15 anggota MKD: 

1. Dasrizal Basir (Demokrat): Melanggar kode etik tingkat sedang dan diberhentikan dari Ketua DPR.

2. Guntur Sasono (Demokrat): Melanggar kode etik tingkat sedang karena sudah pernah mendapat sanksi ringan sebelumnya.

3. Risa Mariska (PDIP): Melanggar kode etik dan pantas dicopot dari Ketua DPR.

4. Dimyati Natakusuma (PPP): Melanggar kode etik tingkat berat dan diberhentikan dari anggota DPR.

5. Maman Imanulhaq (PKB): Melanggar kode etik tingkat sedang.

6. Victor Laiskodat (NasDem): Melanggar kode etik tingkat sedang dan diberhentikan dari Ketua DPR serta diumumkan ke publik.

7. M Prakosa (PDIP): Melanggar kode etik tingkat berat dan perlu dibentuk tim panel karena berpotensi dicopot dari anggota DPR.

8. Sukiman (PAN): Melanggar kode etik tingkat sedang, dan meminta aparat berwenang bisa memecahkan misteri surat Menteri ESDM Sudirman Said kepada 

9. A Bakri (PAN): Melanggar kode etik tingkat sedang dan diberhentikan dari Ketua DPR.

10. Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra): Melanggar kode etik tingkat berat.

11. Supratman (Gerindra): Melanggar kode etik tingkat berat, dan perlu dibentuk panel.

12. Adies Kadir (Golkar): Dibentuk tim panel agar masalah ini jelas.

13. Ridwan Bae (Golkar): Melanggar kode etik tingkat berat, dan perlu dibentuk panel.

14. Sarifuddin Sudding (Hanura): Melanggar kode etik tingkat sedang.

15. Junimart Girsang (PDIP): Melanggar kode etik tingkat sedang dan diberhentikan dari Ketua DPR.

Kasus ini bermula dari pengaduan Menteri ESDM Sudirman Said ke MKD, 16 November lalu. Sudirman melaporkan ada dugaan pencatutan nama presiden dan wakil presiden oleh anggota DPR dalam perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia. Belakangan terungkap yang bersangkutan adalah Ketua DPR Setya Novanto. 

Menindaklanjuti laporan itu, MKD telah memeriksa pengadu, termasuk memutar rekaman pembicaraan yang diduga Setya Novanto, pengusaha M Riza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin di Hotel Ritz Carlton Jakarta, 8 Juni. 

MKD juga memeriksa Maroef sebagai saksi, teradu Setya Novanto dan saksi Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut dihadirkan karena disebut 66 kali dalam rekaman yang berisi dugaan permintaan saham 20 persen, 11 persen untuk Presiden Jokowi dan 9 persen untuk Wapres Jusuf Kalla.

Perjalanan sidang kasus ini di MKD penuh warna, berjalan alot dan disertai tarik-menarik kepentingan. Selain mempersoalkan legal standing pengadu Menteri Sudirman dan legalitas bukti rekaman, sejumlah anggota MKD juga mengganti anggotanya. Bahkan, Wakil Ketua MKD Kahar Muzakir terang-terangan membela Setya Novanto.

Tarik menarik kepentingan juga terlihat dari saling lapor di antara anggota MKD. Ini terjadi antara Akbar Faizal dari Partai NasDem dan Ridwan Bae dari Fraksi Golkar. Akbar dituding membocorkan materi sidang tertutup oleh Ridwan Bae. Ini melanggar tata beracara di internal MKD. Akbar balik melaporkan Ridwan Bae dan Kahar Muzakir serta Adies Kadir (ketiganya dari Golkar) karena menghadiri konferensi pers Luhut Pandjaitan.

Di luar MKD, Setya Novanto tidak berhenti bermanuver. Lewat pengacaranya, Razman Arif Nasution, melaporkan Pemimpin Redaksi Metro TV Putra Nababan ke Bareskrim, Senin 14 Desember. Putra dituding mencemarkan nama baik Novanto.

Razman mengatakan, Metro TV menyalahi kode etik jurnalistik karena mengaitkan Novanto dalam pembelian pesawat perang amfibi. Padahal, kata Razman, Novanto tak memiliki kewenangan dalam hal itu. Novanto juga melaporkan Metro TV dan Metrotvnews.com ke Dewan Pers.

Sebanyak 15 anggota telah MKD membacakan putusannya. Hampir bisa dipastikan Setya Novanto akan lengser dari posisi Ketua DPR. Di luar itu, sejumlah anggota MKD merekomendasikan perlunya dibentuk tim panel untuk menguak lebih jelas kasus dugaan pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden ini. Perlu waktu lama untuk sampai keputusan akhir. Sepertinya 'perang' jauh dari selesai. Tarik-menarik kepentingan politik bukan mustahil lebih sengit.


(DOR)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

4 days Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /