Kandidat Presiden AS dari Partai Republik Kerap Lontar Klaim Aneh

Fajar Nugraha    •    17 Desember 2015 10:58 WIB
pemilu as
Kandidat Presiden AS dari Partai Republik Kerap Lontar Klaim Aneh
Donald Trump dan Ted Cruz (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Washington: Ucapan dari kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik dianggap kerap membingungkan.

Seperti dilansir VOA Indonesia, Kamis (17/12/2015), pemeriksa fakta politik di Amerika mendapati bahwa kandidat presiden 2016 dari Partai Republik mengeluarkan klaim baru yang membingungkan dan pernyataan yang salah dalam debat terbaru mereka.

Pemeriksa fakta di koran The New York Times, The Washington Post dan media online Politico menilai kandidat terdepan Partai Republik, Donald Trump, dan dua penantang utamanya, Senator Texas Ted Cruz dan Senator Florida Marco Rubio, membesar-besarkan klaim mengenai lawan mereka, Presiden Barack Obama. Mereka juga melontarkan klaim isu-isu keamanan nasional Amerika baru-baru ini dalam debat Selasa 15 Desember lalu.

Media-media mempertanyakan pernyataan beberapa kandidat lain Partai Republik, termasuk Gubernur New Jersey Chris Christie, mantan CEO perusahaan teknologi Carly Fiorina dan Senator Kentucky Rand Paul.

Surat kabar The Times membantah klaim Trump yang beredar luas bahwa ia menentang perang Amerika di Irak, yang menuai kecaman. Menurut surat kabar itu, Trump baru menentang perang itu 2004, setahun setelah pasukan darat Amerika menginvasi Irak.

Sementara the Washington Post membantah pernyataan Trump bahwa militan Al Qaeda, yang membajak pesawat untuk melancarkan serangan 2001 terhadap Amerika, mengirim pulang "teman, keluarga, pacar" demi keselamatan mereka sebelum menabrakkan jet mereka ke gedung World Trade Center di New York dan Pentagon.

Washington Post menulis, penyelidikan menyeluruh atas serangan-serangan itu menyimpulkan, pembajak umumnya putus hubungan dengan keluarga mereka.

Selain itu Washington Post juga mengkritik klaim Trump bahwa imigran ilegal "memenuhi seluruh sisi perbatasan selatan Amerika" dengan Meksiko. Padahal jumlah imigran gelap turun ke titik terendah dalam setidaknya 20 tahun.

Menurut the Post, Cruz dan Rubio salah menyebut perubahan ketentuan program penyadapan telepon guna mencegat telepon yang dilakukan tersangka teroris untuk merencanakan serangan lain di Amerika. The Times dan Politico mengatakan Cruz secara keliru menyatakan Obama menggulingkan Presiden Mesir Hosni Mubarak 2011. Padahal, Mubarak mundur ketika rakyat Mesir bersatu menentang kekuasaannya.

Christie menyatakan, jika terpilih sebagai presiden, ia akan berkonsultasi dengan Raja Yordania Hussein, tetapi the Times mencatat ia bisa melakukan itu "kalau ia punya mesin waktu," karena Raja Hussein meninggal tahun 1999. Jordan diperintah putranya, Raja Abdullah II.

Fiorina menyatakan akan mengajak beberapa jenderal untuk aktif bertugas lagi. Jenderal-jenderal itu, kata Fiorina, pensiun dini dari militer, "karena mereka mengatakan kepada Presiden Obama hal yang tidak ingin didengarnya." Salah seorang jenderal yang disebutnya adalah David Petraeus, yang mundur dari jabatan direktur CIA setelah penyelidikan menunjukkan bukti hubungannya di luar nikah dengan penulis biografinya. Jenderal lain, Stanley McChrystal, dipecat Obama setelah ajudannya dikutip artikel majalah mengejek Wakil Presiden Joe Biden dan pejabat-pejabat lain.

Politico menilai, Rand Paul tidak punya data ketika menyatakan "setiap serangan teroris sejak 11 September dilakukan imigran sah." Psikiater Angkatan Darat Amerika, yang membunuh 13 orang di Fort Hood, Texas, tahun 2009 adalah warga Amerika, demikian pula Syed Rizwan Farook, bersama istrinya asal Pakistan, yang menyerang pesta akhir tahun pegawai kota di California awal bulan ini, menewaskan 14 orang


(FJR)