`Papa Minta Saham`, Labfor Polri jadi Opini Kedua

Lukman Diah Sari    •    18 Desember 2015 15:48 WIB
pencatut nama presiden
`Papa Minta Saham`, Labfor Polri jadi Opini Kedua
Jaksa Agung H.M. Prasetyo.ANT/Widodo S. Jusuf

Metrotvnews.com, Jakarta: Kejaksaan Agung (Kejagung) belum mau merepotkan tim Forensik Laboratorium Polri untuk menelisik asli tidaknya rekaman `papa minta saham`. Kejagung saat ini masih mengandalkan kinerja ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Kalau kita perlukan second opinion, (baru) kita (minta Polri) lakukan itu," kata Jaksa Agung M. Prasetyo di Gedung Badan Diklat Kejagung RI, Jalan RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (18/12/2015).

Prasetyo percaya, ahli dari ITB mumpuni membaca isi rekaman yang diduga kuat memuat suara Setya Novanto, Riza Chalid, dan Presiden PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin. "ITB lembaga terpercaya. Kita (pernah) lakukan hal serupa dan hasilnya sangat positif," kata Prasetyo.

Tak cuma menggandeng ahli dari ITB, Kejagung juga meminta keterangan ahli hukum dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, untuk membaca pemufakatan jahat yang disinyalir dilakukan Novanto dan Riza.

"Semua kita undang, termasuk akan kita minta keterangan ahli tentang investasi asing di Indonesia seperti apa," Prasetyo menerangkan.

Kasus yang belakangan tenar dengan sebutan `Papa Minta Saham` ini meledak lewat kicauan Menteri ESDM Sudirman Said. Dia menyebut politikus DPR, akhirnya diketahui Novanto, nekat menjual nama presiden dan wapres saat berbincang dengan Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.

Menteri Sudirman mengantongi bukti rekaman perbincangan mereka. Terlibat aktif pula dalam rekaman obrolan itu Riza Chalid. Novanto dan Riza saling tik-tok meyakinkan Maroef bahwa proses kontrak karya PT Freeport bisa aman di tangan mereka.

Adalah Maroef yang diam-diam merekam `jualan` Novanto dan Riza. Bukti rekamanan utuh sudah diperdengarkan di hadapan Mahkamah Kehormatan Dewan, sementara handphone yang digunakan untuk merekam kini ada di tangan Kejagung.

Kejagung terhitung sudah empat kali bolak-balik meminta keterangan Maroef untuk mengungkap dugaan pemufakatan jahat Novanto dan Riza. Menteri Sudirman baru sekali diperiksa, tapi berkomitmen siap kapan pun kalau diminta kembali ke Gedung Bundar.

Ini jelas sinyal gawat buat Novanto dan Riza. Kalau terbukti, keduanya terancam dijerat Pasal 15 UU Tindak Pidana Korupsi No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal itu berbunyi, "Setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan, atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi dipidana yang sama sebagaimana dimaksud Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5."


(ICH)


Piala AFF 2018: Malaysia Terhindar dari Kekalahan atas Vietnam
Leg I Final Piala AFF 2018

Piala AFF 2018: Malaysia Terhindar dari Kekalahan atas Vietnam

6 hours Ago

Malaysia terhindar dari kekalahan atas Vietnam pada leg pertama babak final Piala AFF 2018, Sel…

BERITA LAINNYA
Video /