Alexander Marwata, Hakim yang Banting Setir Jadi Pimpinan KPK

Yogi Bayu Aji    •    21 Desember 2015 07:41 WIB
pimpinan kpk 2015-2019
Alexander Marwata, Hakim yang Banting Setir Jadi Pimpinan KPK
Hakim ad hoc Pengadilan Tipikor yang resmi terpilih sebagai pimpinan KPK, Alexander Marwata ketika memimpin sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (17/12). MI/ROMMY PUJIANTO.

Metrotvnews.com, Jakarta: Hakim Hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Alexander Marwata merupakan salah satu dari lima pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2015-2019. Pria berusia 48 tahun ini akan resmi menjadi nahkoda baru lembaga antikorupsi saat dilantik dan mengucapkan sumpah di hadapan Presiden Joko Widodo, Senin 21 Desember sore.

Lulusan D-IV Sekolah Tinggi Akuntansi Negara sekaligus sarjana hukum Universitas Indonesia itu diketahui mengawali kariernya sebagai auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan pada 1989. Profesi itu dia geluti hingga 2011. Setahun kemudian, dia terpilih sebagai hakim ad hoc Pengadilan Tipikor.

Juru Bicara Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK Betti Alisjahbana menilai, dari dua profesi yang sempat digeluti Alex membuatnya laik memperoleh tempat di Kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Betti menjelaskan, kemampuan Alex sangat diperlukan. 

"Kemampuan audit investigasi yang diperolehnya selama 20 tahun bekerja di BPKP, dan kemampuan memeriksa perkara korupsi di pengadilan yang dilakukannya sejak tahun 2012 sebagai hakim ad hoc Tipikor sangat diperlukan," kata Betti kepada Metrotvnews.com, Minggu (20/12/2015) malam.

Alex, kata dia, adalah hakim jujur dan sangat teliti. Logika berpikirnya lugas dan tidak pernah ragu menyampaikan pendapatnya walaupun itu bertentangan dengan rekan kerjanya atau masyarakat. 

"Legal reasoning-nya jelas berdasarkan pada alasan-alasan yang logis, bersandar pada hukum dan memperhatikan seluruh elemen proses pemeriksaan di pengadilan, khususnya pembuktian," jelas dia.

Saat menjabat sebagai hakim, Alaxander memang tercatat sering menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion) dalam perkara yang ditangani KPK. Dia tidak setuju seluruh harta mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar yang didakwakan oleh KPK sebagai bagian pencucian uang.

Alexander juga tidak menyetujui mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah didakwa memberikan izin pemberian uang Rp1 miliar kepada Akil Mochtar untuk memenangkan gugatan yang diajukan pasangan calon bupati Lebak Amir Hamzah dan Kasmin. Dia tidak setuju mantan Direktur PT Soegih Interjaya Willy Sebastian Lim memberikan uang 190 ribu dolar AS kepada Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero) Suroso Atmomartoyo terkait penjualan Tetraethyl Lead pada 2004-2005 dalam sidang 29 Juli 2015.

Menurut Betti, Alexander setiap memberikan dissenting opinion selalu menyertakan analisa yang lengkap. Tujuannya, kata Betti agar Jaksa bisa melakukan penuntutan dengan lebih baik ke depan. 

Betti juga memuji Hakim Alexander Marwata yang memilih menikah dengan isteri yang bekerja agar dapat hidup layak tanpa korupsi dengan gajinya sebagai pegawai negara. "Dia tidak pernah mau berhubungan dengan pihak yang berperkara," pungkas dia.


(OGI)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

1 day Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /