Pertemuan 2+2 Indonesia-Australia Majukan Kerja Sama Maritim

Willy Haryono    •    21 Desember 2015 22:18 WIB
indonesia-australia
Pertemuan 2+2 Indonesia-Australia Majukan Kerja Sama Maritim
Menlu Retno Marsudi (kanan) dalam pertemuan 2+2 dengan Menlu Australia Julie Bishop di Sydney, Senin (21/12/2015). (Foto: Jason Reed/AFP/Getty Images)

Metrotvnews.com, Sydney: Pertemuan 2+2 Indonesia-Australia tingkatkan kerja sama maritim dan diharapkan dapat menjadi embrio kerja sama maritim regional. Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada pertemuan ketiga 2+2 yang telah dilaksanakan di Sydney, Senin (21/12/2015).

Menlu Retno Marsudi dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu telah melaksanakan The Third Indonesia-Australia Foreign and Defence Ministers’ Meeting (2+2 Dialogue) bersama counterpart dari Australia, Menlu Julie Bishop dan Menhan Marise Payne. 2+2 Dialogue merupakan mekanisme bilateral tingkat Menlu dan Menhan untuk membahas isu-isu bilateral dan strategis secara bilateral.

Pertemuan 2+2 kali ini dititikberatkan pada upaya penguatan kerja sama maritim. Hal ini diharapkan dapat menjadi embrio untuk meningkatkan kerja sama di tingkat regional seperti di East Asia Summit (EAS). Kerja sama maritim yang akan ditingkatkan antara lain pembangunan sektor maritim yang berkelanjutan, maritime security, konektivitas, kerja sama IPTEK dan penanganan kejahatan transnasional seperti IUU fishing. Pertemuan juga membahas kerja sama maritim di IORA. Sebagai ketua IORA untuk 2015-2017, para Menteri sepakat untuk mendukung upaya Indonesia mendorong kerja sama maritim di IORA, termasuk melalui pembentukan IORA Concord.

Selain isu maritim, Pertemuan 2+2 juga membahas berbagai isu strategis seperti upaya mengatasi ekstremisme dan terorisme, keamanan dan stabilitas kawasan termasuk Laut China Selatan, dan irregular migrant.

Terkait isu ekstremisme dan terorisme, kedua negara sepakat untuk bekerja sama memperkuat kapasitas nasional masing-masing di bidang kontra terorisme dan kejahatan lintas batas, termasuk foreign terrorist fighters, kejahatan siber dan kerja sama intelijen. 

"Langkah ini diharapkan dapat mengantisipasi berkembangnya paham radikalisme dan ekstremisme di berbagai negara serta meningkatnya aksi terorisme serta kejahatan lintas batas negara," jelas Menlu Retno, dalam rilis yang diterima Metrotvnews.com

Indonesia juga menekankan perlunya solusi komprehensif dengan mengkombinasikan pendekatan militer, pendekatan agama, ekonomi dan sosial budaya.

Pertemuan memberi perhatian terhadap perkembangan di Laut China Selatan. Para menteri sepakat mengenai pentingnya semua pihak menahan diri dan berkontribusi mengurangi tensi dan menjaga stabilitas di Laut China Selatan. Menlu RI secara khusus menegaskan kembali Indonesia bukan merupakan claimant state. Indonesia bersama ASEAN juga akan terus mendorong implementasi DOC dan percepatan perundingan COC.

Dalam penanganan isu migran reguler, para Menteri menegaskan kembali komitmennya untuk menangani masalah ini melalui Bali Process. Dalam hal ini Menlu Australia menyampaikan rencananya untuk hadir di pertemuan Bali Process yang akan diselenggarakan pada Maret 2016 di Indonesia. 

"Menteri Bishop dan saya akan sama-sama memimpin pertemuan Bali Process untuk bahas upaya mengatasi root causes dari masalah migran irreguler," tegas Menlu Retno.

Pertemuan juga membahas sejumlah isu terkini yang menjadi perhatian bersama termasuk perkembangan ekonomi global. Untuk itu, pertemuan menggarisbawahi pentingnya kelanjutan kolaborasi erat kedua negara pada berbagai forum regional dan multilateral termasuk PBB, G20, MIKTA, APEC, dan AIIB.

Pertemuan 2+2 juga menyaksikan penandatanganan MoU mengenai Pemberantasan Terorisme Internasional oleh Kepala BNPT dan Sekretaris Jenderal DFAT Australia. MoU tersebut mencakup kerja sama intelijen dan peningkatan kapasitas antar lembaga dalam memerangi ekstremisme dan terorisme.


(WIL)


Video /