Jamur Ulat Ini Harganya Mencapai Ratusan Juta

Sri Yanti Nainggolan    •    23 Desember 2015 18:07 WIB
kesehatan
Jamur Ulat Ini Harganya Mencapai Ratusan Juta
Jamur Yartsa Gunbu untuk obati disfungsi seksual. (Foto:Bustle.com)

Metrotvnews.com, Tibet: Yartsa Gunbu, sebuah jamur asal Tibet ini memiliki khasiat yang sangat besar bagi kesehatan. Tak hanya manfaatnya yang besar, harga jual dari jamur yang menempel pada ulat yang telah mati tersebut sangat tinggi.

Pada pertangahan Mei, salju yang turun di daerah Yushu telah turun ke puncak lembah yang curam. Yushu adalah area yang luas dari pegunungan dan padang rumput Alpine, lebih besar dari Suriah, namun dengan populasi kurang dari 400.000 orang.

Pada musim panas, spora udara dari jamur sinensis menyerang ulat dari berbagai jenis ngengat, serangga pucat besar yang terbang di atas padang rumput saat senja di daerah tersebut. Setelah belatung terinfeksi, mereka mengubur diri dalam tanah untuk hibernasi, mereka mati, dan ketika musim dingin datang mereka membeku. 

Kehangatan musim semi mengaktifkan jamur yang tumbuh untuk mengisi seluruh tubuh ulat itu dan hanya menyisakan kulit luar. Tunas kurus coklat itu muncul dari kepala ulat dan mendorong jalan ke tanah pada siang hari, hanya empat atau lima sentimeter. Jamur yang muncul setelah musim dingin ini disebut Yartsa Gunbu yang artinya rumput musim panas, cacing musim dingin.

Yartsa gunbu menjadi salah satu obat alternatif yang bernilai sangat tinggi karena memiliki banyak manfaat, seperti mencegah kanker, bronkitis, asma, diabetes, hepatitis, kolesterol tinggi, dan menyembuhkan sakit punggung.

Namun yang paling berharga dari jamur ini adalah kemampuannya untuk meningkatkan kehidupan seksual. Jamur yang biasa dikenal dengan sebutan 'Viagra Himalaya' ini sangat bermanfaat untuk mengobati disfungsi ereksi dan libido yang rendah khususnya pada wanita. Cara mengonsumsinya pun dibilang mudah yakni hanya dengan mencampurkannya dengan air teh atau larutan air lainnya.

Dilansir National Geographic, jamur yang dibanderol seharga USD50 ribu atau sekitar Rp690 juta ini mengandung modulator sistem imun yang dikenal dengan beta-glucan dan agen ativirus yang disebut Cordysepin. Namun, banyak kritikus yang menilai studi ini masih belum dapat dibuktikan.

"Sampai seseorang melakukan uji klinis besar menggunakan produk berkualitas bagus, ilmu kita sejauh ini masih berpendapat tidak dianjurkan pada dampak yang signifikan," ujar Brent Bauer, Direktur Complementary dan Integrative Medicine Program di Mayo Clinic di Minnesota.


(LOV)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

3 days Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /