Opini Piala Dunia 2018

Kroasia Menggapai Puncak Dunia

Arpan Rahman    •    29 Juni 2018 11:23 WIB
analisis piala dunia 2018
Kroasia Menggapai Puncak Dunia
Skuat Kroasia. (Foto: AFP/Attila Kisbenedek)

KECUALI enam juara dunia yang bertahan ke fase 16 Besar di Rusia 2018, peluang Kroasia cukup terbuka. Apalah lagi kalau bukan untuk meraih hasil akhir lebih tinggi dari capaian Davor Suker pada 1998? 

20 tahun silam, sang kuda hitam berhasil menapak semifinal dan merebut juara ketiga pada penampilan debut di Piala Dunia! Generasi emas edisi pertama angkatan '98 Zvonimir Boban kini direinkarnasi sempurna oleh Ivan Perisic dkk.

Bila treknya berjalan lancar, Kroasia akan menggilas Denmark, Rusia, dan Belgia sebelum tiba ke final. Tim berjulukan Vatreni telah digdaya dengan raihan 100 persen, tiga kali menang dari tiga pertandingan, memuncaki grup D.  

Lewat pertahanan yang berfungsi sangat baik sejak awal turnamen, Luka Modric cs hanya kebobolan satu gol dari titik penalti pada laga terakhir yang tidak penting. Intinya, mereka mau menikmati sepak bola dan mampu bermain bebas.

Siklus 20 tahunan bisa membuktikan Kroasia dapat melakukan sesuatu yang besar di Piala Dunia hanya jika skuat Zlatko Dalic memanfaatkan kesempatan nyata saat ini. Apalagi suasana di dalam tim sangat bagus, jauh dibandingkan empat tahun lalu di Brasil. 

Senang Menikmati

Sesama anggota kesebelasan bahkan sempat bersenang-senang ketika mencukur rambut di salon. Mateo Kovacic yang salah tingkah sangat gugup ketika penyalon wanita sedang mencukur rambutnya. Semua rekannya tertawa dan menikmati itu bersama. 

"Jika kita berani, kita bisa segalanya. Kadang-kadang perlu sedikit keberuntungan. Tapi kita bisa menjadi kuda hitam di Piala Dunia ini," kata Dejan Lovren di situs resmi FIFA.

Coba putarlah ulang rekaman gol pemungkas Kroasia ke gawang Argentina. Bagaimana liarnya Ivan Rakitic bergerak lurus menembus pertahanan lawan lewat giringan bola percaya diri, lantas menembak. Betapa tenangnya Kovacic menyambut bola muntah (setelah tendangan Rakitic ditepis kiper), mengoper datar pelan ke samping. Lihatlah dinginnya Rakitic mengontrol santai operan Kovacic itu, baru menaruhnya lembut ke dalam gawang, nyaris seperti operan pula bukan seperti mencetak gol. 

Bola kalau sudah di kaki dan kepala penyerang Kroasia ibarat sebuah alamat: Maut akan datang untuk menggetarkan jala lawan. Menyeramkan, bukan?

Kroasia menjadi satu di antara tiga yang paling produktif dari semua tim di edaran grup Piala Dunia ini. Dua tim lain, yakni Inggris dan Belgia, menggelontorkan delapan gol menghadapi Tunisia (rangking 21 dunia FIFA) dan Panama (55). Sedangkan Kroasia menjaringkan tujuh gol bagi kekalahan Argentina (peringkat 5 FIFA), Islandia (22), dan Nigeria (48).

Baca: Daftar Negara yang Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2018


Formasi Dinamis

Kroasia di generasi emasnya dulu pernah menciptakan revolusi posisi. Setelah Brasil pada 1970 dengan 4-2-4, kemudian Belanda '74 meletakkan patron 3-3-4 yang seru menakjubkan, Prancis '84 menumpuk lini tengah melalui 3-5-2, dan terakhir evolusi Spanyol 2010 lewat 4-2-3-1. Aljosa Asanovic dkk di era 1998 bermain memakai pola 3-3-2-1-1! Bayangkan tiga lini, belakang-tengah-depan, terurai lebih panjang jadi lima lapis struktur pemain di luar penjaga gawang! 

Di balik segala kelebihannya, kelemahan mencolok masih tampak di sisi kanan belakang The Blazers. Vedran Corluka di usia 32 kelihatan mulai lamban menutup celah dari arah dalam ketika umpan terobosan musuh dapat mengecoh bek sayap. Situasi diserang dari tepi lapangan, yang bila tiba-tiba menyilang ke rusuk pertahanan, akan jadi amat krusial, sebelum dihambat secara militan cenderung sporadis di areal kotak penalti.

Periksalah kilas-balik terbaik yang sempat didapat Argentina tatkala posisi kanan belakang Kroasia mereka serbu. Bek kanan telat mengambil Marcos Acuna saat umpan lambung diteroboskan ke sayap. Lewatnya bek itu berakibat Corluka bergerak melebar dari arah dalam kotak penalti, coba menutup celah. Tapi Acuna mencuri bola dari balik punggungnya, laju tendangan silang sempat membentur Domagoj Vida, terpental balik lurus ke arah depan kotak penalti. Sayangnya, Enzo Perez gelandang Tim Tango membidik titik sempit di tiang dekat, hingga bola sepakannya kadung menerpa jala gawang sebelah luarnya saja. 

Di sini, kejelian pelatih Dalic dibutuhkan. Corluka harus lebih dinamis bertukar posisi dengan Vida. Artinya, kalau tim sedang bertahan dengan bola datang dari sayap kiri, yang mesti aktif adalah Vida buat beradu kecepatan misalkan sebuah umpan cantik langsung lolos melewati bek kanan. Di samping lebih muda, bek gondrong ini punya tekel ringkas dan amat rapi membayangi pergerakan tanpa bola lawan.

Pada formasi belakang yang sudah kokoh, di garis tengah menyempal para gelandang mengarungi lapangan bertenaga kuda. Lini serang dikomandoi Mario Mandzukic sangat menakutkan. Klub-klub sebesar Liverpool, Atletico Madrid, Barcelona, Real Madrid, Inter Milan, Juventus, dan Monaco menyumbangkan pemainnya di tim inti Kroasia. 

Boleh saja Prancis, Argentina, Uruguay, Spanyol, Brasil, dan Inggris masih dinilai sebagai tim mapan karena semuanya pernah mengangkat piala. Namun dari dua laga grup terlihat kecenderungan wasit amat menguntungkan Prancis (versus Australia) dan Spanyol (lawan Iran). Jadi perlu kudu hati-hati bagi Kroasia kalau teknologi VAR sudah bicara dalam laga melawan tim-tim mapan yang ramai penggemar dan banyak pula sponsornya kepada FIFA.  

Seandainya Kroasia ditasbihkan sebagai negara kesembilan yang menjadi juara dunia, berarti kostum merek Amerika juga menang di Negeri Tirai Besi. Kalau ini terjadi, semoga rencana perundingan Donald Trump dengan Vladimir Putin tidak batal lagi. Yang pasti, rekan penulis Marinella Matejcic akan tersenyum lebar. Selebar senyumnya ketika diberitahu bahwa penggemar Kroasia menyukai tim ini karena banyak nama "Ivan" di dalamnya.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami@medcom_olahraga

Video: Suguhan Kuliner dan Belanja Oleh-oleh di Jalan Arbat, #SalamdariRusia


(ASM)


Video /