Opini Piala Dunia 2018

Panser Jerman tak Berdaya di Rusia

Wandi Yusuf    •    28 Juni 2018 21:44 WIB
timnas jermanpiala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Panser Jerman tak Berdaya di Rusia
Toni Kroos tertegun di tengah ribuan pendukung Jerman yang kecewa usai tim kesayangannya kalah dari Korea Selatan dan tersingkir dari Piala Dunia 2018 (Foto: AFP PHOTO / BENJAMIN CREMEL)

KOMANDAN Divisi Panser Utama Jerman, Heinz Guderian, heran dengan perintah Adolf Hitler yang meminta pasukannya menguasai Kiev, yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan Uni Soviet (kini Rusia). Padahal, Moskow sebentar lagi mereka kuasai.

Di penghujung 1941, dingin tak tercatat di Rusia. Salju begitu pekat dan membuat pasukan Nazi sulit bergerak. Alih-alih menguasai Rusia, Jerman justru tak berdaya di sana. Di Negeri Beruang Merah pula strategi blitzkrieg yang jitu sejak 1939 itu menemui kelemahannya. 

Serangan blitzkrieg gilang-gemilang saat pasukan Jerman menghancurkan pasukan Polandia, Belgia, Belanda, hingga Prancis pada 1940. Nyaris sebagian wilayah Eropa bisa mereka kuasai. Ciri taktik ini adalah serangan yang mendadak, cepat, dan tak terduga. Blitzkrieg tak memberikan kesempatan sedikit pun lawan mengorganisasi pertahanannya. Strategi ini berjalan mulus dengan bantuan tank-tank atau panzer yang pada masa itu merupakan teknologi tercanggih.
 

Baca: Menguji Lagi Ketekunan Jogi


Namun, tampaknya alam Rusia tak ramah dengan strategi ini. Puncaknya saat Jerman hendak menginvasi Kiev. Cuaca kadung bersalju dan pasukan Jerman terjebak di sana. Panzer-panzer yang lincah itu seolah-olah tak berkutik dan pasukan Jerman akhirnya bisa dipukul mundur.

Selang 77 tahun kemudian, kenangan akan kekalahan itu kembali nyata di Kazan Arena, di pentas Piala Dunia 2018 Rusia. Timnas Jerman harus berkemas lebih dini karena hanya mengumpulkan tiga poin dan harus puas menjadi juru kunci di Grup F. Jerman hanya menang sekali dan harus kalah dua kali. Lebih pahit lagi, di laga penentuan, mereka harus takluk dari Pasukan Taeguk, Korea Selatan.

Serangan kilat ala blitzkrieg yang sempat moncer dipertontonkan pada Piala Dunia 2014 di Brasil seakan tak bertuah. Mesin-mesin panzer Jerman seperti kurang oli. Larinya lambat dan tak bisa menjaga jarak. Terlalu renggang dan gampang digoyang serangan balik lawan.



Lihat saja bagaimana Mesut Oezil kerap kesulitan melepas umpan akurat. Umpannya berkali-kali jatuh di kaki lawan yang secepat kilat dikonversi menjadi serangan balik berbahaya.

Saat Jerman bertemu Meksiko di pertandingan perdana, tanda-tanda itu terlihat. Blitzkrieg yang dikembangkan Menuel Neuer dkk sudah terbaca. Jerman tak mampu menembus pertahanan Meksiko yang dikawal oleh Herrera Lopez. Tidak hanya sebagai jangkar, dia juga menjelma parit menganga yang menyulitkan tank-tank seperti Toni Kroos, Oezil, dan Thomas Mueller untuk bisa merangsek dan mengirim umpan jitu ke pertahanan Meksiko. 

Ditambah lagi, gelandang bertahan Sami Khedira kerap meninggalkan tugas utamanya sebagai pemutus serangan lawan di sektor tengah. Ini menjadikan lini tengah Uber Allez terbuka. Dan para pemain Meksiko mafhum dengan kelengahan itu.

Sebaliknya, tim Sombrero tampaknya sudah mempelajari apa yang pernah dilakukan Jenderal Soedirman saat menyelinap ke hutan untuk menantang penjajah Belanda. Sang Jenderal menerapkan strategi perang gerilya dengan diam-diam menyelinap ke area musuh sebelum akhirnya menaklukkan benteng lawan. 
 

Baca juga: Apakah Sepak Bola Masih Sederhana, Gary?


Mereka tak terpancing untuk menyergap saat Jerman mengepung pertahanan mereka. Delapan pemain disiplin di area kotak penalti dan bersiap melepas umpan jauh kepada trisula di lini depan, yakni Carlos Vela, Javier Hernandez, dan pemain muda pembawa malapetaka Hirving Rodrigo Lozano.

Cermati bagaimana skema gol satu-satunya yang tercipta di pertandingan itu. Ketiga pemain itu berhasil memorakporandakan lini tengah Jerman. Mirip strategi perang gerilya, ketiganya menyelinap, menyabotase, dan menaklukkan Neuer dengan dingin.

Strategi perang gerilya Meksiko ini kembali digunakan Korea Selatan di pertandingan pamungkas. Umpan jauh kembali ampuh membuat pasukan Jerman lumpuh. Tanah Rusia sekali lagi membuat Jerman tak berdaya. Blitzkrieg takluk oleh strategi gerilya.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Suguhan Kuliner dan Belanja Oleh-oleh di Jalan Arbat, #SalamdariRusia



(ACF)