Opini Piala Dunia 2018

Kalah-Menang Itu Biasa

Arpan Rahman    •    04 Juli 2018 23:46 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Kalah-Menang Itu Biasa
Ekspresi kecewa pemain Nigeria di tengah sukaria pemain Argentina yang berhasil lolos dari fase grup dan melaju ke 16 besar Piala Dunia 2018. (Foto: AFP PHOTO / Giuseppe CACACE)

SEBENARNYA yang paling siap menerima kemenangan dan mengakui kekalahan adalah tim sepak bola. Lihatlah delapan negara yang melaju dan tersisih dari babak 16 Besar Piala Dunia 2018 Rusia. Selesai pertandingan, rampung konferensi, semua tidak banyak bicara.

Itu juga karena tidak ada saluran mengadu di luar sembilan klausul protes dalam Regulasi Piala Dunia 2018. Artikel 1 Ketentuan Umum Pasal 15 di dalamnya secara garis besar berbunyi: protes dalam aturan tertentu dibolehkan dalam jangka waktu variatif antara 1-2 jam sebelum dan setelah pertandingan serta harus disampaikan lengkap secara tertulis 24 jam kemudian.

Begitu peluit panjang berbunyi, kedua kesebelasan keluar lapangan, segalanya berakhir. Intinya begitulah, titik.

Seandainya ada Mahkamah Statuta FIFA dan tersedia masa sanggah, kemenangan tim lawan dapat digugat. Sejuta alasan bisa dicari-cari, lalu diserahkan sebagai bundel dokumen pembelaan sambil menyiapkan saksi-saksi dan dua alat bukti. Selain MK-nya tidak berdiri, FIFA juga tampak enggan menggelar pengadilan internasional bagi korban pelanggaran sepak bola Piala Dunia.
 

Baca: Aparel Jerman di Balik Rumor Ronaldo ke Juventus


Terdengar hanya Mesir melalui Ketua EFA (Asosiasi Sepak bola Mesir) Hany Abo seperti dilansir USA Today, Jumat 22 Juni 2018, yang angkat suara: "Wasit tidak menunjukkan keadilan dalam pertandingan" yang berakhir Mesir 1-3 Rusia. Tapi itu sekadar komplain. Berdasarkan terjemahan bebas dari salah satu klausul protes dalam Artikel 1 Pasal 15 Regulasi Piala Dunia 2018 tadi ialah keputusan wasit di lapangan tidak dapat diganggu gugat.  

Menurut South China Morning Post (SCMP), Senin 25 Juni 2018, peranti Video Assistant Referee (VAR) disorot seperempat negara kontestan selama turnamen tahun ini. Setidaknya pelatih Iran Carlos Queiroz, ofisial Serbia, tim Brasil, ketua kontingen Maroko, manajer Australia Bert van Marwijk, dan Pepe pemain Portugal menuding sistem baru yang kontroversial. 

Tapi cuma lima kontestan yang menyorot VAR, bukan seperempat dari 32 negara, SCMP terlalu membesar-besarkan. Apa penelusuran Medcom.id keliru? Tentu soal ini harus diserahkan kepada pendapat ahli pemantau cek fakta di media.
 
Walau banyak protes, hasil akhir pertandingan tidak mungkin diubah lagi. Misalkan semua orang Nigeria berdemonstrasi ke Zurich di depan kantor pusat FIFA menuntut pertandingan ulang lawan Argentina agaknya percuma saja.

FIFA baru sekali memerintahkan pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Afrika Selatan dan Senegal untuk diulang kembali, pada September lalu. Setelah wasit menghadiahkan penalti atas pelanggaran yang tidak terjadi dan pengadil itu dilarang seumur hidup atas manipulasi pertandingan. Di putaran final Piala Dunia keputusan batalnya pertandingan belum pernah ada.

Seperti dinostalgiakan oleh Financial Times, Jumat 6 Mei 2016, hakim garis asal Azerbaijan Tofiq Bahramov keliru dalam mengesahkan gol ketiga Inggris ketika tembakan Geoff Hurst tampaknya belum melewati garis gawang Jerman Barat pada final 1966. Kejadian 52 tahun silam itu terus dipertanyakan oleh legenda Portugal, Eusebio. Tapi Inggris tetap dinobatkan sebagai juara dunia. FIFA mungkin tak mau Inggris tersinggung: maka kini berlaku sensor gol di garis gawang.
 

Inggris si anak manis. Entah apa Eusebio, hingga hari ini, masih kesal setengah meringis.


Maradona menyentuh bola dengan tangan di muka kiper Peter Shilton pada Meksiko 1986, baru ketahuan sesudah pertandingan, golnya dinilai sah-sah saja. Kapten boncel Argentina juga dikenai sanksi 15 bulan tidak boleh bertanding sebab kedapatan doping pada Amerika Serikat 1994. Namun kemenangan timnya atas Nigeria tidak dibatalkan. 

Faktor "x" kesalahan manusiawi ternyata tidak lepas dari sepak bola. Olahraga yang paling banyak masyarakat gandrungi: baik jumlah pemain maupun seluruh penggemarnya di dunia.
 

Baca juga: Tangan Berdarah, Tommy Sugiarto Berhasil Lolos ke Babak Kedua


Pertandingan bukan mengandalkan metode hitung cepat. Gallup-Poll mustahil ditunjuk jadi konsultan hasil akhir pertandingan Piala Dunia. Dua lembaga survei tidak boleh bertanya secara langsung kepada dua pemain dari kesebelasan yang berbeda di pinggir lapangan tepat usai mereka bertanding. 

Sebab dua pemain pasti tidak menjawab, "Itu rahasia." Bukankah rahasia adalah bentuk ketidakbebasan? 

Tidak hanya pertandingan, apalagi perbuatan, bahkan pikiran yang adil pun hanya ada bila bukan dinyatakan secara sembunyi-sembunyi di bilik rahasia atau di balik punggung yang jauh dari makna transparan atau terus terang atau kesatria. Keadilan dan kejujuran sungguhkah ada dalam ketersembunyian dan sifat rahasia suatu bentuk permainan? Walah alam yang tahu saja yang bisa jawab. Itu...

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Keseruan FIFA Fan Fest Moscow, #SalamdariRusia



(ACF)


Video /