Opini Piala Dunia 2018

Menu Maknyus Penjaga Performa

Khudori    •    30 Juni 2018 00:39 WIB
timnas inggrispiala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Menu Maknyus Penjaga Performa
Foto: Youtube

TIMNAS Inggris sejauh ini sukses mengukir hasil apik di Piala Dunia 2018 di Rusia. Kendati sempat kalah dari Belgia di laga pamungkas Grup G, skuat Tiga Singa tetap lolos dan akan menghadapi Kolombia di babak 16 besar.

Kekalahan dari Belgia seakan tidak berpengaruh buat publik Inggris. Suporter tetap memuji performa anak-anak asuh Gareth Southgate. Ada harapan membuncah tim Tiga Singa akan mampu mengulangi raihan mereka pada tahun 1966. Saat itu, Inggris meraih gelar juara dunia setelah di final menghajar Jerman Barat 4-2 di Stadion Wembley.

Diakui atau tidak, hasil ini bukan semata-mata lantaran inovasi ciamik Southgate lewat skema baru sejak mengambil kursi kepelatihan dari tangan Sam Allardyce, 27 November 2016. Namun, kontribusi yang tidak kalah penting adalah aturan pola makan yang lebih ketat dari biasanya bagi tim. Oleh Southgate, para pemain bahkan dilarang menerima makanan dari layanan kamar hotel tempat mereka menginap di Rusia.

Mereka, seperti dilaporkan The Sun, menolak makan apapun yang tidak disetujui koki ahli tim. "Para pemain akan melakukan persis seperti yang diceritakan. Tidak ada yang akan melewati bibir mereka selain makanan dan minuman yang disediakan oleh koki dan ahli gizi," ujar sumber kepada The Sun.

Jika para pemain lapar, mereka harus menghubungi seseorang di dalam manajemen untuk mendapatkan camilan. Mereka tidak bisa begitu saja meraih mini bar atau membeli sesuatu dari toko. "Aturan-aturan ini selalu ada di turnamen karena diet, dan akan ada ketakutan akan keracunan yang bisa menghancurkan kinerja mereka. Tapi untuk Piala Dunia di Rusia, itu sangat, sangat ketat," tambah mereka.
 

Baca: Sihir Kuliner di Piala Dunia


Ini bukan pertama kali Southgate menjadi berita utama karena mengatur pola makan pemainnya. Dilaporkan Evening Standard, Southgate pernah berkoordinasi dengan Starbucks di hotel timnya untuk menyingkirkan semua suguhan dan melarang penjualan minuman manis kepada anak asuhnya menjelang Piala Dunia.

Kini, setelah Piala Dunia bergulir, ahli gizi dan koki timnas Inggris yang mengambilalih tanggung jawab menyiapkan dan meracik menu selama mereka di Rusia. Omar Meziane ditunjuk sebagai koki timnas dan dipercaya menangani hidangan anak asuh Southgate selama berlaga di Piala Dunia 2018. Meziane merupakan salah satu koki bertalenta yang sudah terbiasa menangani hidangan untuk para atlet Inggris.

Sebelumnya Meziane pernah bertanggung jawab sebagai koki bagi timnas dayung, timnas rugby, dan timnas kriket Inggris. "Belajar untuk menyiapkan hidangan bagi para atlet merupakan hal yang menarik bagi saya. Saya harus bisa mengolah bahan-bahan yang tersedia dan makanan apa saja yang cocok untuk disantap bagi para atlet," ujar Meziane seperti dilansir Mirror.co.uk.

Meracik bahan yang tersedia dan makanan apa saja yang cocok disantap para atlet, mudah diucapkan tapi sulit diwujudkan. Karena kata "cocok" mengandung dua makna. 

Pertama, cocok berarti sesuai selera dan cita rasa lidah. "Lain ladang lain belalang, lain pula ikannya," bunyi pepatah, tiap negara memiliki menu khas, bahkan menu andalan nasional.

Kedua, cocok berarti sesuai kebutuhan atlet. Ini yang rumit. Karena asupan makanan, terutama ketepatan dan kualitasnya, harus terpenuhi. Mengapa? Mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger, suatu kali mengatakan bahwa makanan bagi pemain sepak bola layaknya bahan bakar untuk laju mobil. Tapi makanan bukan hanya berurusan dengan laju kencang saat laga. Ketepatan dan kualitas makanan juga amat menentukan kecepatan pemulihan dan penyembuhan dari cedera.



Seperti olah raga lain yang mengandalkan kekuatan fisik, dalam pertandingan sepak bola atlet kerap harus melakukan pergerakan seperti berlari, berjalan, melompat, menendang sembari berkonsentrasi selama paling sedikit 90 menit. Komite Medis Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menyebutkan, pada level elite seorang pemain sepak bola bisa berlari rata-rata sejauh 10-13 kilometer, disertai dengan lari cepat (sprint) sejauh 600 meter sampai 2,4 kilometer dalam satu laga.

Denyut jantung pemain bisa mencapai 85 persen lebih tinggi batas normal, dan kebutuhan oksigen 70 persen dari limit maksimal. Karena itulah mereka perlu mendapatkan asupan makanan yang bisa menunjang daya tahan (endurance) tubuh.

Aktivitas fisik yang menguras tenaga mengharuskan setiap atlet di lapangan hijau mendapatkan energi kurang lebih 4.500 kilokalori, atau rata-rata 1,5 -2 kali lebih besar dibandingkan dengan orang biasa pada umur dan karakteristik fisik yang sama.

Peran koki yang juga ahli nutrisi menjadi krusial bagi performa tim. Sebab pelatih, kru, juga pemain tidak paham betul mengenai urusan yang satu ini. Sesaat setelah pulang dari final Piala AFF 2016 leg kedua di Thailand, Alfred Riedl, pelatih timnas Indonesia saat itu, mengeluh. Menurutnya, para pemain timnas Indonesia tidak bisa disiplin dalam menjaga makanan dan minuman yang mereka konsumsi.

"Pemain tak peduli nutrisi. Mereka makan apapun yang mereka mau. Seorang atlet seharusnya punya kepedulian tinggi pada nutrisi. Bayangkan, pemain kita makan kerupuk atau kentang goreng, yang jelas-jelas tak bergizi," terang Riedl. Ketidakpedulian pada nutrisi ini diperparah oleh ketidakdisiplinan. 

Indonesia memang surga kuliner. Ada rendang, sop buntut, gado-gado, nasi goreng, nasi padang, sate ayam, gudeg, soto, dan masih banyak yang lainnya. Belum lagi sambal dan kerupuk yang selalu menemani setiap santapan. Juga aneka mie instan dengan selera Nusantaranya yang menggugah selera. Masalahnya, aneka menu yang super enak di lidah itu tidak diracik dan dibuat untuk kebutuhan atlet. 

Di Indonesia pentingnya racikan menu diet dalam sepak bola memang belum dianggap penting. Di level dunia, peran penting ilmu nutrisi dalam menunjang performa tim juga belum lama dipraktikan. Inggris, salah satu kampium bola di belahan Eropa, baru menganggap penting hal itu pada era 1990-an. 

Salah satu klub Inggris yang menganggap penting menu diet adalah Liverpool. Juergen Klopp, manajer Liverpool saat ini, pernah memiliki masalah mengenai nutrisi dari para pemainnya. "Seringkali di pramusim, pemain makan sebanyak dan secepat yang mereka bisa," kata Klopp seperti dilansir New York Times. Pelatih asal Jerman ini mengambilalih kursi kepelatihan pada 8 Oktober 2015.

Menginjak pramusim di awal musim 2016/2017, perubahan drastis terjadi di Palo Alto. "Mereka (para pemain) tinggal untuk makan, dan mereka menyukainya," jelas Klopp. Itu terjadi sejak ia menunjuk dua staf baru di Liverpool. Pertama, Andreas Kornmayer, pelatih kebugaran yang sebelumnya bekerja di Bayern Munchen. Kedua, Mona Nemmer, seorang perempuan, untuk menjadi kepala nutrisi kesebelasan.


(Mona Nemmer, ahli nutrisi Liverpool. Foto: Twitter)

Semula, Nemmer bekerja di Bayern. Yang menarik, ia memiliki program khusus, yaitu program individual (berbeda setiap pemain) yang dirancang secara saintifik, menggunakan makanan-makanan lokal dan seorganik mungkin. Setiap pemain akan memiliki perhatian nutrisi yang berbeda. "Kami semua tidak sama. Jadi tidak bisa diterima jika kita harus makan makanan yang sama," kata Klopp.

Untuk menentukan kebutuhan nutrisi setiap pemain, Nemmer mempertimbangkan banyak hal. Mulai dari komposisi lemak tubuh, nilai metabolisme hingga kewarganegaraan dan posisi bermain.

"Ada tingkat energi yang berbeda, tergantung pada di mana kamu bermain di lapangan," kata Nemmer. "Kiper tidak berlari sebanyak gelandang. Dan pemain-pemain Brasil, misalnya, memiliki budaya sarapan yang berbeda dibanding dengan pemain Inggris. Semuanya didetilkan berdasarkan budaya, tipe tubuh, posisi."

Sekarang ini, kafetaria di kompleks latihan Melwood sudah terkenal sebagai tempatnya jus buah segar, granola, kacang-kacangan, dan salad bar-nya yang terkenal. Begitu juga di Stadion Anfield, terdapat tempat jus dan dapur di ruang ganti. Setiap pemain bisa menentukan sendiri jenis buah atau makanan apa yang ingin mereka konsumsi. Ini adalah hal yang tidak biasa, bahkan di Inggris sekalipun. Keseriusannya dalam mengurusi nutrisi di Liverpool bahkan sampai membuat Nemmer berkeliling Britania Raya untuk memeroleh bahan-bahan makanan berkualitas dan organik. 

Betapa pentingnya asupan berkualitas dan tepat bisa dilihat keseriusan pemain-pemain top dunia yang sampai merekrut konsultan gizi untuk mengatur menu harian mereka. Dari Lionel Messi di Barcelona, Paul Pogba di Manchester United hingga Cristiano Ronaldo di Real Madrid. 
Koki timnas Portugal, Luis Lavrador, mengungkap seputar diet yang dijalani CR7 dari konsultan gizi yang direkrutnya. Tidak heran jika Ronaldo mempunyai postur tubuh proporsional yang mengundang decak kagum banyak orang.


(Foto: Youtube)

Bahkan wajah Ronaldo selalu terlihat awet muda meski kini usianya sudah menginjak 33 tahun. Kekasih Georgina Rodriguez itu juga merasa bahwa secara fisik ia masih muda belia. "Saya sekarang berusia 23 tahun secara biologis," ujar Ronaldo. Artinya, Ronaldo lebih mudah 10 tahun dari usia kronologisnya.

Selain olahraga, Ronaldo juga mempunyai menu diet khusus untuk menunjang performanya. "Cristiano mengonsumsi minuman isotonik khusus yang dibuat dari sedikit gula dan campuran karbohidrat untuk meningkatkan daya tahan tubuh," ujar Lavrador seperti dilansir Marca. "Elektrolit dan vitamin B12 bagus untuk melawan kelelahan. Selain itu makanannya juga sangat kaya protein." 
 

Baca juga: Resep Baru Gareth Southgate untuk The Three Lions


Kehadiran koki, chef, konsultan gizi dalam sepak bola atau apapun namanya untuk memastikan tiap atlet mendapatkan asupan nutrisi sesuai kebutuhan. Lebih dari itu, mereka juga harus memastikan aneka menu yang diracik enak disantap dan sesuai selera lidah.

Itulah sebabnya, kata ahli gizi dan koki timnas Inggris Omar Meziane, ia selalu berinovasi dalam resep menu agar para pemain tidak bosan. Menu sarapan pagi menjadi salah satu menu andalan Meziane yang jadi favorit para pemain Timnas Inggris. "Masakannya sangat lezat, selalu ada perebutan setiap pagi," ujar salah satu staf Timnas Inggris.

Bagi atlet, makan teratur akan membuat keuntungan optimal mulai dari program latihan, meningkatkan pemulihan di antara latihan dan pertandingan, mendapatkan dan memelihara fisik, mengurangi risiko cedera dan penyakit. Juga kepercayaan diri dalam bertanding, konsistensi dalam mencapai penampilan tingkat tinggi, dan tidak ketinggalan: kenikmatan utama dari makanan yaitu cita rasa.

Makan enak dan gurih adalah pilihan. Sebaliknya, makan bernutrisi adalah sebuah keharusan. Lebih-lebih bagi seorang atlet. Menjadi atlet adalah pilihan. Untuk bisa sukses, seorang atlet memerlukan pengorbanan. Sialnya, jajan sembarangan dan makan enak juga sebuah pengorbanan.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Suguhan Kuliner dan Belanja Oleh-oleh di Jalan Arbat, #SalamdariRusia




(ACF)