Opini Piala Dunia 2018

Egoisme Membunuh Spanyol

Rastra Dewangga    •    02 Juli 2018 10:41 WIB
analisis piala dunia 2018
Egoisme Membunuh Spanyol
Ekspresi penggawa Timnas Spanyol usai kalah adu penalti dari Rusia. (Foto: AFP/Kirill Kudryavtsev)

TERSINGKIRNYA Spanyol dalah kejutan berikutnya setelah pulangnya Jerman dan Argentina. Melawan tuan rumah Rusia, Spanyol tampil dengan penguasaan bola hampir 75 persen, menguasai semua lini, mencatatkan 1114 operan, namun gagal mencetak gol. Skor 1-1 pada waktu normal 90 menit pun, Spanyol harus berterima kasih pada Sergei Ignashevich yang mencetak gol bunuh diri.

Selebihnya, La Furia Roja seperti hanya bermain kucing-kucingan tanpa mampu mencetak gol. Bahkan ketika Rusia, yang memang sadar diri berada di bawah level Spanyol, lebih banyak bermain pada seperempat lapangan wilayah sendiri. Bisa diduga, memaksakan adu tendangan penalti adalah opsi terbaik tuan rumah.

Rusia memiliki Igor Akinfeev. Kiper yang terlahir dengan keistimewaan dalam menahan tendangan penalti selain dikenal sebagai penjaga gawang tangguh. Publik Rusia banyak menyamakan Akinfeev dengan legenda mereka, Lev Yashin, satu-satunya penjaga gawang yang pernah terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa. Dan malam itu di Stadion Luzhniki, Akinfeev menjelma menjadi Yashin dengan menahan tendangan pinalti Koke dan Iago Aspas sekaligus mengirim Juara Dunia 2010 tersebut pulang.

Tetapi tidak adil jika hanya menyalahkan De Gea, Pique Koke, Iago atau pelatih Fernando Hierro atas nasib buruk Spanyol ini. Apa yang bisa dilakukan Hierro yang ditunjuk hanya dua hari sebelum Spanyol menjalani laga perdananya di turnamen sebesar Piala Dunia?

Penampilan Spanyol di Rusia ini memang menjadi anti klimaks perjalanannya pada babak kualifikasi. Tergabung di Grup G penampilan Spanyol sangat cemerlang, antara lain dengan menyingkirkan Italia. Spanyol melangkah langsung sebagai juara grup dengan mencatat sembilan kemenangan, satu imbang serta tidak pernah kalah. Catatan ini menimbulkan optimisme dan tidak heran jika Tim Matador menjadi salah satu tim yang diunggulkan bakal bersinar di Rusia. 

Tetapi ‘badai’ di kamp latihan Spanyol hanya beberapa hari sebelum kick-off, memporak porandakan optimisme yang dua tahun dibangun. Dari tiga laga pada pertandingan putaran final Grup B, Spanyol bermain imbang dengan Portugal dan Maroko serta hanya menang tipis atas Iran. Total mencetak enam gol, namun kebobolan lima gol. Lampu kuning sebetulnya sudah menyala.

Baca: Fakta Menarik usai Rusia Singkirkan Spanyol


Saya sangat percaya pada hukum sebab akibat. Tidak ada sesuatupun terjadi dengan tiba-tiba dan tanpa alasan. Tragedi Spanyol merupakan buah egoisme sempit tiga sosok yang seharusnya paling bertanggung jawab. (Mantan) Pelatih Julen Lopetegui, Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (REEF) Luis Rubiales, dan Presiden Real Madrid Florentino Perez. Awalnya adalah tawaran Perez kepada Lopetegui untuk menjadi pelatih setelah El Real setelah ditinggal Zinedine Zidane. Silau dengan lambaian uang Madrid, Lopetegui menerimanya.

Persoalan tambah runyam karena Real Madrid segera mengumumkan kesepakatan tersebut. Padahal Lopetegui baru saja memperpanjang kontraknya pada bulan Mei untuk tiga tahun kedepan. Tentu saja Rubiales merasa ditikam dari belakang. Terlebih dirinya mengetahui hal tersebut hanya lima menit sebelum pengumuman Madrid.

Tak aneh jika Lopetegui langsung dipecatnya. Dan Spanyol pulang lebuh awal. Jika waktu bisa diputar mundur, mungkin mereka akan membuat keputusan yang berbeda. Namun nasi telah menjadi bubur, Rusia telah memaksa mereka mengepak koper dan para pemain menjadi bulan-bulanan.

Keputusan Rubiales yang dengan tanpa kompromi memecat Lopetegui didasari oleh sifatnya yang keras, suka berkonfrontasi dan ’memendam rasa sakit mendalam’. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh masa lalunya sebagai pemain yang tidak terlalu sukses. Kariernya sebagai pesepak bola lebih banyak dihabiskan bersama klub segunda division.

Satu satunya klub primera division yang pernah diperkuatnya adalah Levante. Rubiales juga menempatkan kehormatan pribadi sebagai suatu hal yang harus dijaga betul. Sehingga ketika Lopetegui dianggap menciderai kehormatannya, tanpa ragu pemecatan adalah satu-satunya opsi yang ada di kepalanya. Bahkan setelah Spanyol harus angkat koper, Rubiales tidak menyesali keputusannya itu.

Saat ini, Sergio Ramos dan kawan –kawan bersiap menerima caci maki saat mendarat di negaranya. Diibaratkan barisan matador yang seharusnya menaklukkan banteng, para pemain justru terluka oleh banteng itu sendiri. Lopetegui mungkin tidak menyesali keputusannya, namun sejarah mencatat ‘pengkhianatannya’ kepada Tim Nasional Spanyol. Bagi Perez, Real Madrid adalah segala-galanya. Luka yang ditimbulkannya di Tim Nasional akan sembuh seiring waktu. Dan Rubiales mungkin membutuhkan waktu untuk merenungi keputusannya di Gereja Santuario de Nuestra Senora de la Cabeza di kota kelahirannya Motril, Granada.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Suguhan Kuliner dan Belanja Oleh-oleh di Jalan Arbat, #SalamdariRusia


(ASM)