Bisa Apa Carroll dan Crouch di Chelsea?

Gregah Nurikhsani Estuning    •    19 Januari 2018 16:23 WIB
chelsea
Bisa Apa Carroll dan Crouch di Chelsea?
Andy Carroll (kiri) dan Peter Crouch (kanan). (Foto: Sky Sports).

Jakarta: Chelsea terbilang adem-ayem di bursa transfer Januari 2018. Belum ada manuver berarti dari The Roman Emperor di saat tim-tim seperti Manchester United atau Arsenal yang (masih) tarik ulur Alexis Sanchez. Lain lagi Liverpool yang sudah membeli Virgil van Dijk dari Southampton. The Blues, giliran muncul di pemberitaan, malah dilaporkan berniat memboyong Andy Carroll dan Peter Crouch.

Carroll dan Crouch merupakan dua striker yang, setidaknya, pernah sampai di peak performance-nya. Untuk Carroll, striker yang rambutnya kerap dikuncir itu masih tetap jadi andalan di West Ham dan selalu menjadi pemain inti saat kondisinya segar bugar -- sayang, ia lebih sering menepi akibat cedera yang beragam, mulai dari punggung, pinggul, engkel, sampai patah tulang kaki ibu jari pernah ia rasakan.

Dalam beberapa hari terakhir, Chelsea pun digosipkan tertarik mendaratkan pemain depan berusia 29 tahun itu ke Stamford Bridge. Selain karena mendapatkan penolakan dari manajemen West Ham, Carroll tiba-tiba saja mengalami cedera (lagi). Ia diharuskan absen hingga enam pekan ke depan, sehingga dipastikan ia tak akan lolos tes medis sekali pun kedua klub telah sepakat.

Kabar seputar bursa transfer Chelsea yang mengejutkan belum berhenti. Setelah urung mendapatkan Carroll, tim London Barat itu mengalihkan perhatian ke Crouch, pemain depan Stoke City. Berita ini mendapat respons sinis dari pembawa acara TV kenamaan di Inggris, Will Gavin.

"Peter Crouch ke Chelsea adalah rumor transfer Januari paling lucu yang pernah saya dengar. Saya tak sabar menunggunya menjadi kenyataan," ujar Gavin.

Isu transfer Crouch ke Chelsea dinilai aneh sekaligus menarik. Selain karena usianya yang nyaris berkepala empat (akhir Januari nanti ia berusia 37 tahun), pemain yang sempat tenar dengan selebrasi Robocrouch-nya itu juga kesulitan membawa Stoke keluar dari lembah degradasi.

Chelsea sebetulnya masih memiliki Michy Batshuayi sebagai opsi jika Morata mandek mencetak gol. Sayang, performanya belum setajam saat ia bermain di Marseille. Di sisi lain, Batshuayi juga tengah diincar Sevilla sehingga manajer Antonio Conte harus bersiap-siap mencari striker baru.

Hanya saja, ketika tim sekelas Chelsea dikaitkan dengan pemain seperti Carroll dan Crouch, tentunya ada alasan sangat kuat terlepas dari kebutuhan Conte mendapatkan opsi kedua setelah Morata. Conte sudah semestinya punya pertimbangan teknis di tim yang ia besut itu.

Dengan Morata yang angin-anginan dan Batshuayi yang belum menjanjikan, Crouch atau Carroll mungkin saja bakal jadi perekrutan sia-sia, meski setidaknya cuma berstatus pinjaman jika benar-benar terlaksana. Tapi, dua pemain tersebut memiliki sesuatu yang ditawarkan.

Carroll dan Crouch mempunyai apa yang Morata dan Batshuayi tidak cukup miliki, yakni ketajaman di udara. Crouch, striker gaek dengan tinggi mencapai dua meter itu memegang rekor Guinnes Book of World Record sebagai pesepak bola dengan gol sundulan terbanyak di dunia (52). Ia sukses mengalahkan legenda Newcastle United dan Blackburn Rovers, Alan Shearer (46 gol sundulan).

"Saya heran dengan striker yang beroperasi di luar kotak penalti, kalau saya jadi dia, bagaimana saya bisa menyundul bola ke gawang lawan? Saya meyakini, jika Anda seorang striker, Anda harus tetap berada di dalam kotak penalti, bersiap menerima bola. Itu cara saya bermain, dan itu tak akan pernah berubah," kata Crouch pada 2017 silam.

"Sepertinya tinggal Andy Carroll yang masih mencetak gol dan bermain seperti saya. Selain dia, tak banyak striker di Liga Primer Inggris seperti itu. Tim banyak memainkan inside forward, pemain kidal ditempatkan di kanan dan sebaliknya, umpan silang jadi jarang, untung masih ada full back yang bermain melebar dan ditugaskan memberikan crossing," sambungnya.

Carroll, meski masih setengah lebih sedikit ketimbang catatan yang diraih Crouch, juga tak kalah mengesankan soal jumlah gol melalui sundulan. Dengan tinggi mencapai 193cm, mantan pemain Newacastle United dan Liverpool itu telah mencetak 33 gol sundulan dari 284 penampilan di semua kompetisi.

Statistik tersebut mengindikasikan jika Conte mungkin saja menambah -- jika tidak mengganti -- strategi di putaran kedua Liga Primer Inggris musim ini. Ia bisa meniru strategi hoof ball ala Sam Allardyce kala masih membesut West Ham. Menariknya, Carroll memang paling banyak melakukan gol sundulan saat bermain untuk The Hammers.

Kembali lagi, keinginan Chelsea merekrut Carroll dan atau Crouch masih sebatas rumor. Tapi yang jelas, ada sesuatu yang ditawarkan kedua pemain tersebut andai benar-benar berseragam The Blues di sisa musim ini. Lagi pula, Chelsea tampaknya butuh penyegaran di sisi teknis untuk mengejar Manchester City di puncak, sama ketika musim lalu Conte memutuskan untuk mengganti pakem 4-2-3-1 menjadi 5-2-3, 3-4-2-1, atau 3-4-3.

Kegemarannya mengganti taktik secara masiv saat kompetisi berlangsung bukan hal yang baru buat Conte. Saat ia memutuskan untuk membeli Marcos Alonso dari Fiorentina dan Davide Zappacosta dari Torino, banyak pihak mempertanyakan pembelian tersebut. Tapi, Conte menjawabnya di atas lapangan.

Conte gemar 'memaksa' pemain agar bisa versatile atau bermain di banyak posisi dan peran. Cesar Azpilicueta yang berposisi asli sebagai full back kanan diplot menjadi bek tengah. Lalu ada Victor Moses dari posisi striker dan winger menjadi wing back kanan. Bukan tidak mungkin Andreas Christensen nantinya digeser menjadi gelandang, sama ketika ia dipinjamkan di Borussia Moenchengladbach.

Video: Tiga Pemain Timnas U-19 Ikut Pemusatan Latihan Timnas U-23
 


(ASM)


Adam Lallana tak Dendam kepada Southgate
Timnas Inggris

Adam Lallana tak Dendam kepada Southgate

3 weeks Ago

Adam Lallana merasa Gareth Southgate sudah melakukan keputusan tepat dengan tidak memanggilnya …

BERITA LAINNYA
Video /