Keanehan-keanehan di Liga Indonesia Musim Ini

Gregah Nurikhsani Estuning    •    10 November 2017 20:16 WIB
liga indonesialiga 1 indonesia 2017liga 2 indonesia 2017
Keanehan-keanehan di Liga Indonesia Musim Ini
Suasana pertandingan Persija Jakarta kontra Persib Bandung di Stadion Manahan, Solo. (Foto: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

Jakarta: Kompetisi sepak bola di Indonesia tahun ini bisa dikatakan jauh dari kata sempurna, bahkan banyak cacatnya. Sempat disambut gembira pasca dicabutnya sanksi FIFA, gelaran Liga 1 dan Liga 2 nyatanya meninggalkan sejumlah persoalan rumit yang datang silih berganti.

Keanehan atau kejanggalan sudah ditemui saat peluncuran regulasi Liga 1 jelang pelaksanaan kompetisi. PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator liga mencoba untuk membuat terobosan baru, yang sayangnya, tidak biasa digunakan di negara lain.

Istilah marquee player mungkin paling sering didengar oleh pecinta sepak bola nasional sejak promosi Liga Indonesia 2017 gencar dilakukan. Marquee player sebenarnya bukan hal baru di sepak bola, cuma, jarang diterapkan di negara lain.

Major League Soccer (MLS) menamai marquee player dengan nama designated player. Secara makna sama saja, hanya namanya saja yang berbeda. Designated player diterapkan pada 2007 silam, tepatnya saat David Beckham bergabung dengan LA Galaxy.

A-League (Australia), I-League (India), dan ISL (India Super League) juga menerapkan aturan 'unik' ini, namun beda penggunaan dan fungsinya. Biasanya, status marquee player ini berkenaan dengan salary cap atau batas maksimal seorang pemain mendapatkan gaji.

Ada pun di draft regulasi Liga 1, aturan main marquee player ini didasari pada dua poin:

1. Termasuk dalam skuat tim nasional negaranya dalam 3 putaran final Piala Dunia terakhir ATAU; 

2. Pernah bermain di liga Eropa sekurang-kurangnya dalam 8 tahun terakhir. Liga-liga Eropa yang dimaksud adalah Liga Inggris, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, Eredivisie Belanda, Ligue 1 Prancis, Super Lig Turki, Primeira Liga Portugal.

Ide marquee player ini disayangkan oleh pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts. Menurutnya, selain merupakan langkah yang kurang tepat, ada konsep yang salah mengenai marquee player.

Secara ringkas, ada tiga definisi yang coba diangkat PSSI dan PT LIB: pemain yang main di tiga Piala Dunia terakhir, pernah main di liga top dunia, dan berusia di bawah 35 tahun.

Tak berhenti di situ, regulasi marquee player cuma berlaku di Liga 1. Sementara Liga 2 bahkan tidak diperbolehkan menggunakan pemain asing. Namun aturan untuk pemain lokal malah dibatasi ketat, yakni tidak boleh di atas 35 tahun.

Selain ketidakjelasan operator liga dalam mendefinisikan makna marquee player, berikut ini kejanggalan yang terjadi sepanjang pelaksanaan Liga 1 dan Liga 2:

Pembatasan Usia
Di Liga 1, usia pemain dibatasi 35 tahun. Aturan tegas itu baru pertama kali digunakan musim ini. Regulasi tersebut tercantum pada pasal 29 ayat 3.

"Usia pemain maksimal adalah 35 tahun (kelahiran 1 Januari 1982, dan setelahnya)."

Masalahnya, tidak disebutkan apakah klub boleh memiliki pemain di atas 35 tahun atau tidak. Pada akhirnya, operator tidak melarang klub mendaftarkan dan memainkan pemain tersebut, boleh memiliki dan memainkan, cuma dibatasi.

"Klub diperbolehkan mendaftarkan hanya dua pemain di atas usia 35 tahun."

Resistensi kemudian muncul dari Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI). Sebab, mereka menilai aturan itu diskriminatif bagi pemain yang masih mau dan sanggup bermain di level tertinggi meski tak muda lagi.

Regulasi U-23
PSSI dan PT LIB juga sempat menerapkan aturan 'unik' bermama Regulasi U-23. Maksudnya, klub diwajibkan untuk memainkan tiga pemain berusia di bawah 23 tahun sedikitnya 45 menit.

Alasan demi perkembangan pemain muda dan kepentingan timnas usia muda disodorkan. Lucunya, Regulasi U-23 pada akhirnya dicabut di tengah jalan karena sudah tidak relevan dengan kepentingan timnas.

Lima Pergantian Pemain
Setelah marquee player dan regulasi U-23, ada satu lagi peraturan yang tidak lazim, yakni lima pergantian pemain. Di beberapa negara Eropa seperti Jerman, pergantian lima pemain memang akhirnya dipergunakan, tapi di kondisi tertentu.

Klub yang bertanding berhak mengganti pemainnya maksimal lima pemain kalau pertandingan dilanjutkan hingga babak tambahan.

Di Liga 1, peraturan tersebut diterapkan lebih kepada efek diterapkannya Regulasi U-23 tadi. Rinciannya, tiga untuk pemain di atas usia 23 tahun, dan dua sisanya untuk pemain berusia di bawah 23 tahun.

Essien dan Cole Nyaris Dibui
Di saat pemberitaan marquee player, terutama Michael Essien dan Carlton Cole meledak, tak disangka kedua pemain tersebut malah sempat terancam penjara.

Baik Cole dan Essien saat didatangkan belum memiliki KITAS atau Kartu Izin Tinggal Sementara. Tak cuma itu, PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) dilaporkan belum menyelesaikan izin kerja ke Kementerian Tenaga Kerja.

Blunder yang dilakukan Persib kemudian adalah memainkan Essien dan Cole pada laga pembuka Liga 1 melawan Arema FC. Akibatnya, Kantor Imigrasi Kelas 1 Bandung menegur PT PBB karena tidak menuruti prosedur yang berlaku.

Hal tersebut menunjukkan jika masih ada ketidakbecusan dari semua pihak untuk mengurus hal fatal tersebut. Pada akhirnya, kasus Cole, Essien dan Persib tidak diperpanjang, namun kabar itu sudah menyebar secara internasional.

Serba Mendadak
Duel panas antara Persija Jakarta kontra Persib Bandung seharusnya menjadi salah satu pertandingan paling dinanti di Indonesia. Apa pun hasilnya, sudah bisa dipastikan bakal menjadi perhatian banyak pihak dari H-7 sampai H+7. Di Liga 1 musim ini, sesuai prediksi: Menyita perhatian.

Sempat tidak jelas di mana laga akan dilangsungkan, panpel Persija akhirnya menyatakan bakal memainkan pertandingan di Stadion Patriot meski sempat mengusulkan Stadion Gelora Bung Karno.

Pihak Persija lantas meminta agar pendukung Persib tidak hadir. Gede Widiade sebagai bos Persija menegaskan hal tersebut wajar karena Jakmania juga dilarang datang ke Bandung di pertemuan perdana.

Polemik justru hadir ketika venue pertandingan tiba-tiba dipindah ke Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah. Keputusan itu muncul ke permukaan pada tanggal 30 Oktober, empat hari jelang pertandingan.

Pertandingan sendiri 'berjalan lancar', sampai menit 83 ketika wasit asal Australia menghentikan pertandingan. Keputusan itu diambil setelah kubu Persib tidak ingin melanjutkan pertandingan.

Liga 2 juga tidak kalah karut marut. Diwarnai dengan sejumlah kasus kekerasan di sana-sini, termasuk meninggalnya suporter Persita Tangerang oleh oknum pendukung PSMS Medan berambut cepak, kekacauan berlanjut hingga 8 besar.

Ketidaksiapan operator liga membuat 8 besar Liga 2 molor selama nyaris satu bulan. Yang paling baru, Grup Y juga urung terlaksana karena kemendadakan dari PT LIB.

Polemik Sissoko
Polemik ini bermula ketika Mitra Kukar bersua Borneo FC. Di laga tersebut, Mohammed Sissoko menerima kartu merah langsung sehingga ia tak bisa dimainkan menghadapi Persib Bandung di laga berikutnya.

Mitra Kukar menunaikan kewajibannya dengan tidak memainkan Sissoko di laga kontra Persib. Namun beberapa hari kemudian, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhi hukuman tambahan berupa larangan dua pertandingan tambahan kepada Sissoko.

Dengan sanksi susulan tersebut, Sissoko tidak turun kala menghadapi Bhayangkara FC dan Persiba Balikpapan. Sejauh ini, PSSI mengklaim sudah memberikan salinan surat keputusan tersebut kepada manajemen Naga Mekes.

Kasus ini mendadak menjadi persoalan rumit karena Mitra Kukar tetap memainkan Sissoko di laga kontra Bhayangkara. Kubu Mitra Kukar beralasan tidak ada nama Sissoko di daftar pemain yang dilarang tampil.

Singkat cerita, Sissoko tetap bermain, pertandingan berlangsung sampai 90 menit dan skor akhir sama kuat 1-1. Usai laga, Bhayangkara melayangkan protes kepada PT LIB, tentu keberatan karena Sissoko tetap dimainkan.

Mitra Kukar merasa tidak melanggar ketentuan karena nama Sissoko tidak tercantum di daftar pemain yang haram dimainkan. Bahkan beredar kabar jika Match Commissioner di laga tersebut (dihadiri perwakilan PSSI dan PT LIB) tidak mengklaim Sissoko tidak boleh tampil.

Setelah rapat lanjutan, diputuskan bahwa Mitra Kukar bersalah. Skor yang tadinya 1-1 berubah menjadi 3-0 untuk kemenangan Bhayangkara FC.

Mengenai klaim bahwa PSSI sudah mengirimkan Nota Larangan Bermain via surat elektronik (surel), kubu Mitra Kukar menyangkalnya. Kabar yang berhembus adalah Mitra Kukar tidak menerima surat yang dimaksud.

Bhayangkara FC, di sisi lain, mempertanyakan ketidaktahuan Mitra Kukar terkait 'misteri surel' tersebut. Berdasarkan rilis mereka, disebutkan bahwa janggal apabila Mitra Kukar tidak menerima surel pemberitahuan Nota Larangan Bermain.

Hingga detik ini, Bhayangkara FC masih 'dimenangkan' oleh PSSI dan PT LIB. Mitra Kukar juga sudah melayangkan berkas banding kepada dua lembaga sepak bola Indonesia tersebut.

Play-off Khusus
Kebijakan brutal diputuskan oleh PSSI dan PT LIB, melahirkan pertandingan brutal pula. Persewangi Bayuwangi dan PSBK Blitar bukannya mempertontokan pertandingan sepak bola, namun laga yang digelar di Stadion Kanjuruhan itu malah menampilkan adu jotos.

Kekonyolan PT LIB bermula ketika dengan konyolnya menjadikan Persewangi Banyuwangi sebagai klub yang lolos babak play-off Liga 2. Masalahnya, tim yang seharusnya mendapatkan jatah tersebut adalah PSBK Blitar.

Kedua tim sama-sama mengoleksi 18 poin. Persewangi unggul selisih gol dari PSBK, tapi PSBK berhak menempati posisi empat karena menang head to head. Fatwa telah dikeluarkan, Persewangi malah yang 'diloloskan'.

PSBK tentu saja melayangkan protes kepada PSSI. Protes kemudian dirumuskan menjadi kebijakan kocak: play-off khusus, yakni mempertemukan kedua klub dalam pertandingan penentuan siapa yang layak menempati peringkat 4.

PSSI bukannya mendesak PT LIB patuh pada peraturan yang dibuatnya sendiri, tapi malah muncul ide play-off khusus, yang sejatinya dikeluhkan oleh Persewangi.

"Play-off khusus tidak ada di regulasi Liga 2. Oleh karena itu kami memohon dengan hormat dan menghormati pejuang olahraga di Liga 2, jangan membuat keputusan setelah kompetisi selesai. Ini menjadi kecelakaan organisasi terbesar di Tanah Air," ketus Hari Wijaya, manajer Persewangi.

Sempat menolak adanya play-off khusus, entah mengapa Persewangi akhirnya mengiyakan kebijakan aneh tersebut. Sinyal tak enak sudah terlihat sebelum peluit kick-off, pemain Persewangi enggan berjabat tangan dengan pemain PSBK.

Pertandingan tanpa penonton di Stadion Kanjuruhan seketika berubah menjadi arena perang. 19 menit laga berjalan, wasit sudah mengeluarkan tiga kartu merah, Persewangi mengantongi dua.

Selain gol Prisma Chairul Anwar di menit 69, highlight lain di sisa pertandingan lebih mirip tarung pencak silat ketimbang aksi-aksi layaknya pertandingan sepak bola pada umumnya.

Mundur dari Kompetisi karena tak Percaya pada PSSI
Kabar ini muncul jelang pekan ke-9 Liga 2 antara Pro Duta FC kontra PSMS Medan. Tanpa diduga, Pro Duta memutuskan untuk mundur dengan alasan tak lagi percaya dengan jalannya kompetisi.

Tak cuma itu, kekecewaan juga dilontarkan pihak Pro Duta FC kepada PSSI lantaran tidak menunjukkan sikap tegas kepada Persih Tembilahan yang sempat mogok dua pertandingan.

Hal ini merujuk pada klub Persih Tembilahan ketika menjamu PSBL Langsa pada 9 Juli 2017 dan tandang ke kandang PSMS pada 16 Juli 2017. Persih memilih tidak bermain di dua laga tersebut.

Secara regulasi Liga 2, tindakan Persih menolak bertanding tanpa alasan yang jelas tersebut telah melanggar regulasi pasal 13 di mana sanksinya klub yang melanggar harus dianggap dan dinyatakan mengundurkan diri dari Liga 2. Seluruh pertandingan yang dijalaninya juga dibatalkan dan dinyatakan tidak sah serta seluruh poin yang diperoleh selama menjalani pertandingan tidak akan dihitung.

Klub Pro Duta telah bersurat ke PT Liga Indonesia Baru selaku pengelola Liga 2 tertanggal 19 Juli 2017 bernomor 079/PDFC-MGT/VIII/2017 mempertanyakan status kasus yang terjadi pada Persih Tembilahan di Grup 1 Liga 2 2017 tersebut.

Tapi, sayangnya, sampai putaran kedua berlangsung, Pro Duta tandang ke PSBL Langsa tanggal 23 Juli 2017, surat Pro Duta belum ada jawaban. Tentu hal ini berdampak ketidakpastian sanksi terhadap pelanggaran regulasi.

Ketidaktegasan Komdis & PT LIB
Selain kasus lemahnya ketegasan operator liga dan Komdis di Liga 2 yang melibatkan Persih Tembilahan dan Pro Duta FC, hal serupa juga terjadi di Liga 1 awal bulan ini. Tidak tanggung-tanggung, laga Persija kontra Persib yang jadi latar.

Seperti sudah dijelaskan di sub artikel sebelumnya, pertandingan dua tim kuat di Indonesia itu terhenti di menit 83. Wasit FIFA asal Australia, Shaun Evans meniup peluit panjang sebelum waktu normal sesaat setelah pemain Persib diminta menyingkir ke sisi lapangan.

Tampaknya sikap Maung Bandung itu diakibatkan memuncaknya kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan wasit. Mulai dari gol sundulan Ezechiel N'Douassel yang dianulir, hadiah penalti kepada Persija, sampai kartu merah Vladimir Vujovic.

Protes Persib dinilai berlebihan, Shaun Evans merasa Persib sudah enggan melanjutkan pertandingan, sehingga ditiuplah peluit panjang menit 83. Atas kejadian tersebut, hukuman berat menanti Persib, tidak main-main, sanksi berupa turun kasta ada di depan mata.

Dalam regulasi Liga 1 Pasal 13 Ayat 1 b dan c, tertuang peraturan yang menyebut jika klub akan dianggap dan dinyatakan mundur dari kompetisi jika menolak untuk melanjutkan pertandingan di Liga dan atau meninggalkan lapangan atau stadion sebelum selesainya pertandingan yang dijalankan.

Namun dekimian, dalam agenda sidang yang dilakukan oleh Komdis, Persib dinilai tidak melakukan pelanggaran kode disiplin. Sampai di sini, PT LIB berdalih sudah meminta Komdis untuk menghukum Persib. Namun, Komdis malah menyebut jika pelanggaran regulasi menjadi ranah LIB.

Menurut Anton Sanjaya, 'lempar-lemparan' antara LIB dan Komdis sepatutnya tidak terjadi. Beliau menyatakan, Komdis memiliki kuasa dan kewajiban penuh untuk menjatuhkan hukuman, bukannya LIB.

"Itu tugas Komdis, karena kasus tersebut masuk pelanggaran yang berkenaan dengan teknis permainan. PT LIB kan cuma operator saja, kalau ada pelanggaran Komdis yang bertindak," kata Anton kepada Metrotvnews.com.

"Dalam manual liga sudah dijelaskan, laporan dari saksi mata, pemain, instruktur pertandingan dan terutama wasit menjadi bahan pertimbangan Komdis. Berikutnya disidang lalu ditentukan bersalah atau tidak."

"Kalau ada pihak yang merasa dirugikan, dipersilakan melakukan banding, kan begitu memang. Jadi jelas alurnya seperti itu."

Akibat ketidaktegasan Komdis dan PT LIB, pada akhirnya Umuh Muchtar (hingga detik ini) cuma mendapatkan sanksi denda Rp50 juta. Vladimir disanksi larangan bermain sebanyak lima kali dan denda Rp30 juta serta Persija disanksi Rp50 juta.

Juara yang Tertunda
Laga seru terjadi di Stadion Gelora Bangkalan. Tuan rumah Madura United bersua Bhayangkara FC dalam laga penentuan gelar juara. Tiga gol Ilija Spasojevic memastikan The Guardian juara Liga 1. Tapi tidak menurut PT LIB.

"Benar, juara atau peringkat akhir klasemen harus ditunggu sampai kompetisi selesai. Semua pertandingan harus selesai dilangsungkan dulu," papar Joko Driyono, Waketum PSSI melalui pesan singkat kepada Metrotvnews.com.

Ratu Tisha dan Berlinton Siahaan juga menegaskan bahwa Bhayangkara FC belum resmi juara. Seluruh laga harus selesai dulu, lalu keputusan ada di PT LIB siapa yang jadi juaranya.

Secara hitung-hitungan poin, memang Bali United yang ada di tangga ke-2 masih berpeluang menyamai raihan poin Bhayangkara. Namun mereka kalah head to head. Itu berarti, seharusnya Bhayangkara sudah bisa dianggap sebagai juara, tanpa harus menunggu laga pekan terakhir selesai digulirkan.

Dalam kasus ini, Komdis tampaknya masih menunggu apakah Mitra Kukar akan melakukan banding atau tidak. Sebab, hingga saat ini kubu Naga Mekes masih menimbang hukuman kalah WO yang dijatuhkan komdis saat laga melawan Bhayangkara.

Mitra Kukar dinyatakan kalah WO (0-3) karena memainkan pemain yang tengah menjalani sanksi (Mohammed Sissoko). Padahal, dalam laga itu pertandingan berakhir dengan skor imbang 1-1.


(ACF)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

1 day Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /