Opini Piala Dunia 2018

Dilema Henry dan Bayar Utang Southgate

Suryopratomo    •    09 Juli 2018 07:25 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Dilema Henry dan Bayar Utang Southgate
Medcom.id

THIERRY Henry merupakan salah satu bintang gemilang yang pernah dimiliki sepak bola Prancis. Ia merupakan salah satu anggota tim yang membawa Les Bleus memenangi Piala Dunia 1998. Tidak hanya itu, Henry ikut membawa kesebelasan nasionalnya memenangi Piala Eropa dua tahun kemudian.

Henry tentu tidak pernah akan melupakan apa yang diberikan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) kepada dirinya. Karena FFF-lah ia bisa menjelma menjadi bintang. Akademi Sepak Bola Clairefontaine yang menggembleng Henry menjadi pemain yang tidak hanya memiliki keterampilan paripurna, tetapi menjadi pribadi yang memiliki karakter.

Akademi Sepak Bola Clairefontaine dibangun dari gagasan Presiden FFF Fernand Sastre. Pada 1976 Sastre berpikir, Prancis tidak akan pernah menjadi juara dunia apabila tidak memiliki pemain-pemain bertalenta tinggi. Padahal orang Prancis bernama Jules Rimet yang pertama kali menggagas digelarnya kejuaraan Piala Dunia pada 1930.

Gagasan Sastre dimatangkan oleh para ahli untuk dituangkan menjadi konsep yang dijalankan. Selama enam tahun gagasan Sastre itu digodok. Adalah Stefan Kovacs yang memprakarsai dibangun Akademi Sepak Bola Nasional dengan mengambil ide dari bekas pusat pelatihan komunis Rumania.

Akademi Sepak Bola Nasional Clairefontaine dibuka pertama kali 1988. Nama Fernand Sastre diabadikan di tempat itu, karena ia sudah tidak menjabat lagi sebagai Presiden FFF ketika akademi itu mulai berjalan. Namun semua orang mengakui gagasan itu berasal dari dirinya.

Clairefontaine setiap tahun menggembleng 22 pemain muda berbakat untuk mengikuti pendidikan sepak bola selama dua tahun. Biasanya bulan Oktober seluruh daerah atau klub di Prancis mengirimkan pemain-pemain terbaik yang dinilai pantas mengikuti akademi. Umumnya mereka berusia 12 tahun karena akademi hanya diperuntukkan bagi warga Prancis yang usianya antara 13 sampai 15 tahun.

Pada bulan Desember para calon peserta dikumpulkan dan bermain dalam game yang digelar beberapa hari. Tim pencari bakat memilih 22 pemain terbaik dari mereka termasuk di dalamnya tiga atau empat pemain yang dianggap potensial menjadi kiper yang baik. Pemain seperti Kylian Mbappe, Olivier Giroud, Blaise Matuidi yang ada di tim nasional Prancis sekarang ini adalah jebolan Clairefontaine.
 

Baca: Mbappe: Aneh Melihat Thierry Henry Berada di Sisi Belgia


Modal berharga
Akademi Sepak Bola Clairefontaine diakui sebagai sekolah sepak bola terbaik di dunia. Selama 30 tahun keberadaannya, akademi setidaknya sudah melahirkan 660 pemain berkualitas yang kini tersebar tidak hanya di klub-klub Prancis tetapi juga dunia. Dari sanalah Prancis mendapatkan pemain-pemain terbaik untuk membela Les Bleus.

Henry sendiri mengenyam gemblengan di Akademi Sepak Bola Clairefontaine pada 1992. Bekal pendidikan itulah yang menjadikan Henry penyerang yang sangat produktif. Itulah yang membuat dirinya kemudian menjadi rebutan klub besar seperti Monaco, Juventus, Barcelona, dan Arsenal.

Puncak tertinggi dari gemblengan Clairefontaine yang tidak pernah akan bisa ia lupakan adalah terpilihnya Henry ke dalam tim nasional. Bahkan enam tahun setelah mengikuti pendidikan, Henry menjadi salah satu pemain utama yang membawa Prancis mampu membawa pulang “Piala Dunia” ke negeri asalnya.

Kini Henry berpeluang untuk ikut merebut kembali Piala Dunia. Namun kali ini ia hadir bukan atas nama negaranya. Henry hadir di Piala Dunia 2018 sebagai asisten pelatih Belgia. Ia sekarang menjadi asisten pelatih Roberto Martinez untuk menangani “Setan Merah” Belgia.


(Thierry Henry memberikan instruksi di sesi latihan Timnas Belgia. Foto: AFP) 

Dilema besar Henry, lawan yang harus dihadapi Belgia di semifinal adalah Prancis. Sentuhan Henry telah membawa “Setan Merah” mampu menyingkirkan juara dunia lima kali Brasil di perempat final. Sekarang advis Henry dibutuhkan untuk menggagalkan Prancis ketigakalinya tampil di partai puncak Piala Dunia.

Kini ibaratnya Henry harus menjadi Kresna di dalam Perang Bratayudha. Sebagai seorang ksatria ia harus membela negaranya. Namun sebagai seorang profesional, ia tidak bisa lari dari tanggung jawab untuk memberikan masukan terbaik kepada Eden Hazard dan kawan-kawan guna menyingkirkan tim nasional negaranya.

Belgia sedang berada dalam puncak penampilan setelah era Eric Gerets dan kawan-kawan di Piala Dunia 1986. Bukan mustahil kejutan Belgia akan berlanjut dan salah-salah korbannya adalah Prancis.

Southgate Bayar Utang
Sementara Henry harus menghadapi dilema pengabdian, Pelatih Inggris Gareth Southgate berharap bisa membayar utang kepada negaranya. Di Piala Eropa 1996, Inggris sedang mencanangkan untuk membawa kembali pulang sepak bola ke rumahnya. Setelah lama tidak berprestasi besar, Inggris ingin merebut Piala Eropa yang kebetulan digelar di negara mereka.

Southgate menjadi salah satu pemain andalan Pelatih Terry Venables. Kampanye “Football Coming Home” sepertinya berjalan mulus ketika kesebelasan “Tiga Singa” lolos hingga 4 Besar. Di semifinal Inggris bertemu dengan “musuh bebuyutan” Jerman.





Selama 120 menit pertandingan, kedua tim bermain imbang 1-1, sehingga pertandingan harus diselesaikan dengan adu tendangan penalti. Lima penendang pertama Inggris dan Jerman mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Giliran penendang keenam, gelandang Jerman Andreas Moeller mampu menjadi algojo yang baik. Saat Southgate mendapat giliran, tendangannya gagal dan buyarlah harapan Inggris untuk menjadi juara.
 

Baca juga: Statistik Empat Negara yang Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2018


Tidak usah heran ketika menghadapi Kolombia, Southgate begitu tegang pada saat adu tendangan penalti. Ketika tendangan Eric Dier memastikan kemenangan Inggris, Southgate bukan hanya lega tetapi “kutukan” Inggris atas adu tendangan penalti pun berakhir.

Kini harapan Inggris untuk membawa pulang sepak bola setelah sukses di Piala Dunia 1966 terbuka lebar. Lawan yang harus mereka hadapi di semifinal bukan nama besar yang selalu menjadi batu sandungan “Three Lions”, tetapi kuda hitam, Kroasia.

Southgate yang dikritik mantan Pelatih Inggris Roy Hodgson terlalu banyak membawa pemain yang tidak berpengalaman, ingin membuktikan bahwa pilihannya merupakan yang terbaik untuk Inggris. Kalau Southgate mampu membawa timnya ke pertandingan puncak 15 Juli nanti, ia menyamai prestasi pelatih legendaris Inggris, Sir Alfred Ramsey.

Kita tunggu saja apakah sepak bola benar akan pulang ke rumahnya di Inggris!

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Intip Sibur Arena Stadion Tercantik di Rusia, #SalamdariRusia




(ACF)


Video /