Menanti Evaluasi PSSI

Arpan Rahman    •    21 Juli 2018 11:25 WIB
opini bola
Menanti Evaluasi PSSI
Penggawa Timnas U-19. (Foto: Ant/Zabur Karuru)

TIM Nasional U-19 baru saja melakoni turnamen AFF Cup 2018. Skuat berjuluk Garuda Muda menjadi juara ketiga, sama hasilnya dengan perhelatan setahun lawas.

Sejumlah media melaporkan bahwa PSSI sudah berjanji mengevaluasi kinerja pelatih Indra Sjafri selepas kejuaraan ini. Apa Indra terus dipertahankan atau diganti?

Sebenarnya yang perlu dilakukan PSSI bukan evaluasi, melainkan koreksi. Menurut bahasa Indonesia, evaluasi berarti penilaian. Sedangkan koreksi maknanya pembetulan; perbaikan; pemeriksaan. 

Coach Indra kadung dinilai gagal. Target juara tidak tercapai, Timnas terjegal hanya sampai di semifinal. Itu sudah evaluasi terbuka. Mestinya, karena kegagalannya, ia di dibetulkan; diperbaiki atau diperiksa. Ini yang hendaknya dilakukan secara tertutup menurut kelaziman otoritas sepak bola.

Bila menilik target, hampir setiap berpartisipasi ke suatu turnamen, Timnas dicantelkan dengan sebuah pencapaian. Apalagi antusiasme publik selalu setia mendukung para pemain nasional tatkala tampil dalam berbagai kejuaraan.

Lantaran cantelan dan antusiasme itu PSSI pun mengincar posisi tertentu, terutama untuk mendongkrak gengsi dan menaikkan rangking. Bukan cuma sering, bahkan seluruh turnamen yang diikuti Timnas terkesan berarti amat penting. 

Timnas bertanding nyaris senantiasa dibebani sasaran tinggi. Tapi di semuanya itu pula para pemain kita gagal berprestasi. 

Ketika diwawancarai Metro TV, jelang final Piala Dunia 2018, Budiarto Shambazy menilai pemain bola kita sekarang kurang berbakat. Apa korelasi penilaian oleh wartawan senior itu ditinjau dari kegagalan Garuda Merah-Putih yang telah berkarat dan berlarat-larat? 

Mungkin ini kutukan sumberdaya manusia. Tidak ada negara berpopulasi besar memiliki Timnas yang hebat di dunia. Tiongkok, India, dan Amerika Serikat contohnya.

Marilah, kita ingat lagi: bagaimana mendiang pelatih Antun 'Toni' Pogacnik di era 50'an membesut timnas, hingga menjelma kesebelasan yang berwibawa di benua Asia. Toni berjalan keliling kepulauan Nusantara, membentuk sentra pembibitan di pulau-pulau besar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Sebaiknya kita tahu, salah satu legenda PSSI, yakni Ramang dari PSM Makassar, hanya pemain pengganti saat pertama dipanggil Toni ke Timnas. Pelatih asal Yugoslavia itu memilih pemain lain, tapi si pemain yang dipanggil mendadak sakit. Ramanglah yang akhirnya diberangkatkan ke Jakarta.

Baca: Manchester City Menyerah dari Dortmund


Coba tirulah spirit spartan Bukhard Pape, pelatih asal Jerman Barat, membina kumpulan pelajar dari Pusdiklat Medan, Palembang, Jakarta, Salatiga, Bontang, dan kota-kota lain pada dekade 70'an sampai medio 80'an. Hingga se-Asia mengakui pembinaan pesepak bola usia muda di negeri kita telah sangat maju dan hasilnya beroleh piala.

Kini, sudah banyak SSB (Sekolah Sepak Bola) di seantero Zamrud Khatulistiwa. Harusnya PSSI menjemput bola lebih tangkas: menyaring bakat-bakat baru ini ke dalam fasilitas pembibitan khusus dan pembinaan tersendiri seperti dijabani Toni dan Pape, dulu. 

Fasilitasnya mesti setara pusat latihan modern di pelbagai negara sepak bola maju dunia. Bibit unggul pemain belia ditampung ke dalamnya dan diawasi ketat lewat pendekatan dan praktik yang paling mumpuni.

Mereka mendapat pelatihan istimewa, termasuk diajari ilmu pengetahuan, melek literasi, piawai teknologi, dan mengembangkan seluas-luasnya wawasan misalnya. Metoda sains seumpama riset, evaluasi, dan koreksi harus dilakukan terus untuk membentuk Timnas yang nanti mampu berkiprah melalui seabrek prestasi.

Ubahlah mereka dari stereotipe masyarakat Indonesia kebanyakan yang -- mengutip Onghokham -- sangat mengagungkan kemapanan universiter tanpa rutin membuat karya ilmiah. Jadi, calon pemain timnas itu harus pula ditempa layaknya ilmuwan. Begitu tamat dari pusat tersebut, anak-anak bangsa yang membela panji-panji Bhinneka Tunggal Ika tidak mungkin lagi terkesampingkan dalam kehidupan mereka di kemudian hari.  

Kelak, PSSI tidak usah melakukan evaluasi. Tinggal kesadaran saja dari pelatih mau mundur sendiri atau terus menjabat sampai banyak periode. Biar publik yang menilai semua. PSSI hanya perlu mengoreksi pusatnya itu agar sempurna.

Jangan lupa dengan pepatah "tidak segala perang harus dimenangkan", maka "tidak semua turnamen harus dijuarai". Andaikata target posisi 4 Besar berhasil, pemain tampil apik di Asian Games terdekat, barangkali Luis Milla yang perlu turun tangan ke Timnas U-19. 

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Sukses Lalu Muhammad Zohri di Mata PB PASI


(ASM)