Mencintai Sepak Bola dari Kursi Roda

Alfa Mandalika    •    24 November 2017 12:45 WIB
liga dunia
Mencintai Sepak Bola dari Kursi Roda
Jane Velkovski saat bermain sepak bola bersama teman-temannya. (Foto: UEFA)

"Saat saya bermain bola, saya terkadang lupa bahwa saya berada di kursi roda dan tidak bisa berjalan"


KIRA-kira begitulah kalimat yang keluar dari mulut kecil Jane Velkovski, bocah 9 tahun yang berasal dari Skopje, Ibu Kota Makedonia saat ditanya soal kecintaannya kepada sepak bola. Rasa cinta Velkovski kepada sepak bola teramat besar.

Meski terlahir dengan kondisi tidak seperti kebanyakan orang, tak membuat Velkovski patah arang. Justru, dia mengembangkan segala kemampuan yang ada untuk bisa aktif bermain sepak bola. 

Velkovski patut bersyukur karena kecintaannya kepada sepak bola didukung penuh oleh kedua orang tuanya. Bahkan, mereka tak ragu menyiapkan kursi roda elektrik yang dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa digunakan saat anaknya bermain bola.

"Sepak bola segalanya dalam hidup saya. Saya bisa memainkannya di video game, saya bermain di halaman rumah kami, bermain di sekolah, dan saya bermain sepak bola di mana-mana," kata Velkovski.

"Saya menderita penyakit otot, yang berarti saya tidak bisa jalan. Tetapi, saya tidak membiarkan orang bergurau soal masalah yang saya hadapi. Saya ingin katakan kepada seluruh dunia bahwa setiap orang itu sama dan orang-orang cacat dapat melakukan apa yang mereka inginkan. Jika mereka tidak dapat melakukannya, itu berarti mereka tidak bisa menikmati hidup mereka," tutur Velkovski.

Ya, Velkovski didiagnosis mengalami Spinal Muscular Atrophy (SMA). Berdasarkan informasi yang dihimpun, SMA merupakan penyakit genetik otot-saraf yang ditandai kelumpuhan otot, terutama pada kedua kaki yang kerap menyerang anak-anak. Kendati demikian, Velkovski ingin membuka mata dunia bahwa kekurangan fisik tak berarti urung menikmati sepak bola. 

Saat sedang bermain bola, dia menjadi lini pertahanan terakhir sebagai penjaga gawang. Tak jarang, dia memberikan arahan kepada rekan-rekannya untuk menjaga pergerakan pemain lawan. Rekan-rekannya pun sangat menghormati Velkovski.


Jane Velkovski bersama rekan-rekannya. (Foto: UEFA)

"Ketika bermain sepak bola, saya merasa sama, saya merasa senang karena saya bisa ikut dalam permainan. Saya merasa baik karena bisa memimpin tim, saya bisa memenangkan pertandingan dan saya adalah kapten. Saya senang ketika kami menang dan saya sedih ketika menelan kekalahan," ujar Velkovski.

Perjuangan Velkovski menikmati sepak bola tak sepi dari ujian. Salah satunya ialah dia mendapatkan perawatan khusus setiap harinya, termasuk ketika dia ingin mengubah posisinya di kursi roda.

Velkovski sempat terbang ke Paris untuk menjalani operasi memerbaiki kelengkungan di tulang punggungnya pada 2015. Setiap enam bulan, dia menjalani perawatan lanjutan dengan harapan dia bisa berjalan.

Ayah Velkovski, Gjorgji, bangga terhadap kecintaan anaknya terhadap sepak bola. "Sepak bola memiliki pengaruh yang sangat positif dalam hidupnya dan dia bersemangat menghadapi semua masalah yang dia hadapi," ungkap Gjorgji.

"Melalui sepak bola, dia menyadari bahwa dia bisa berperan aktif di masyarakat," sambungnya.

Cerita Velkovski ternyata sampai ke Federasi Sepak Bola Makedonia. Akhirnya, Velkovski mendapatkan kesempatan mendampingi pemain Timnas Makedonia saat menghadapi Timnas Spanyol saat Kualifikasi Piala Dunia zona Eropa pada Juni silam.

Selain itu, Velkovski juga berkesempatan memasuki ruang ganti pemain saat Piala Super Eropa dihelat di Arena Phillip II. Kala itu, Real Madrid menjamu Manchester United.


Jane Velkovski ketika mendampingi pemain Timnas Makedonia. (Foto: UEFA)

"Ketika Piala Super Eropa diadakan di Arena Phillip II, kami pergi ke sebuah ruangan dan terdapat beberapa poster di dinding," kata Velkovski.

"Saya melakukan foto bersama dengan kedua tim, lalu kemudian saya melihat poster (Cristiano) Ronaldo yang sedang merayakan gol dan saya berkata kepada diri saya bahwa saya harus bisa mengikuti gaya Ronaldo. Saya bertanya kepada kakek saya apakah dia bisa memotret saya ketika meniru pose Ronaldo, itu adalah foto yang brilian," tutur Velkovski.

Kisah Velkovski seakan memberikan motivasi bagi kita. Filosofi yang bisa dipetik ialah dalam hidup dia tak pernah menyerah, setiap orang harus berjuang meraih mimpinya. Kendati baru berusia 9 tahun, tetapi kematangannya luar biasa. Keinginan kuatnya membuat apa yang mustahil menjadi mungkin.

"Saat bermain sepak bola, saya terkadang lupa saya berada di kursi roda listrik. Saya membayangkan bisa mencetak gol seperti Ronaldo dan terkadang saya lupa bahwa saya tidak bisa berjalan," ujar Velkovski.

Video: Komdis PSSI Jatuhkan Sanksi pada Persib Bandung


(ASM)

Pique Berharap Jumpa City di Liga Champions
Liga Champions 2017--2018

Pique Berharap Jumpa City di Liga Champions

12 hours Ago

Bek Barcelona Gerard Pique berharap timnya bisa bertemu Manchester City di Liga Champions musim…

BERITA LAINNYA
Video /