Opini Piala Dunia 2018

Green Falcon Siap Terbang Lebih Tinggi di Moskow

Boy Noya    •    14 Juni 2018 04:55 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018Timnas Arab Saudi
<i>Green Falcon</i> Siap Terbang Lebih Tinggi di Moskow
Skuat Timnas Arab Saudi (Foto: Al Bawaba)

BENDERA start pesta Piala Dunia Rusia 2018 malam ini akan diangkat dengan menggelar partai pembuka antara tuan rumah Rusia dan Arab Saudi. Mungkin banyak yang menilai partai perdana ini tidak menarik. Kurang greget untuk  partai pembuka Piala Dunia.

Namun, tetap saja Piala Dunia adalah pentas terakbar dan bergengsi buat semua tim. Sejak partai perdana sampai final, para kontestan akan tampil all out. Semua pertandingan adalah menentukan.

Begitu juga dengan Arab Saudi. Salah satu jagoan sepak bola Asia ini akan tampil di pembukaan Piala Dunia menghadapi tuan rumah. Tahu kah Anda, pertandingan pembuka ini melahirkan sejarah baru karena ini adalah kali pertama, Negara dari benua Asia tampil di pertandingan pembuka.
 

Baca: Antara Pistol dan Vodka


Suatu kehormatan buat tim Green Falcons. Sebelumnya selalu kontestan dari Eropa, Afrika atau Amerika Latin yang kebagian di pertandingan pembukaan.

Arab Saudi, sudah 4 kali hadir di Piala Dunia. Jadi, mereka bukan tim anak bawang. Bukan tim penggembira di kancah dunia. Sejak tahun 1994 sampai 2006, Arab Saudi selalu hadir. Dua kali mereka absen yaitu di tahun 2010 di Afrika Selatan dan 2014 di Brasil. Kini Elang Hijau mengepakkan sayapnya kembali dan siap membuat kejutan di partai perdana.

Kehadiran ke lima kalinya di pentas dunia dan menjadi tim Asia pertama di laga pembuka akan memberi spirit yang berbeda buat tim asuhan Juan Antonio Pizzi ini.

Sekali lagi jangan remehkan Arab Saudi. Rekor di babak kualifikasi cukup mencengangkan. Arab Saudi mengoleksi 12 kemenangan dari 18 laga. Kemenangan atas jawara Asia Jepang 1-0 sungguh dramatis karena kemenangan itu yang memastikan tiket ke Rusia. Alhamdulilah.

Selama 12 tahun rakyat Arab Saudi menunggu tim mereka kembali ke jajaran tim elite dunia. Pada kurun waktu itu, Arab Saudi seperti kehilangan kekuatan yang mereka punya dulu.

Bukan hanya kekuatan uang dan minyak yang membuat sepak bola negeri itu hebat tapi juga karena memang Arab Saudi punya pemain-pemain  berbakat yang terus lahir dari kompetisi yang berjalan bagus dan kompetitif.

Dulu di era 70 sampai 80an. Publik sepak bola dunia termasuk Indonesia mengenal sosok Majed Abdullah. Legenda hidup sepak bola yang total mencetak 229 gol selama berkarier di tim nasional. Pencinta sepak bola tanah air juga tak akan lupa karena Majed selalu membobol gawang timnas kala bertemu di ajang friendly match maupun ajang resmi seperti Asian Games.

Majed gantung sepatu, Arab Saudi punya bintang yang lebih hebat lagi. Sami Al Jabber. Al Jabber satu-satunya pemain Arab Saudi yang bermain di empat Piala Dunia. Piala Dunia Amerika 1994 kemudian Prancis 1998 berikutnya di Jepang-Korea Selatan tahun 2002 dan terakhir 2006 di Jerman.

The Starlet Sami Al Jabber menjadi figur penting dalam sejarah perjalanan tim Elang Hijau. Golnya ke gawang Maroko di penyisihan grup Piala Dunia Amerika 94 membawa negerinya kali pertama lolos ke babak 16 besar. Walaupun akhirnya terhenti oleh Swedia, Al Jabber memberi persepsi baru jika tim benua Asia mampu berbuat banyak di tingkat dunia.

Bangkitnya Arab Saudi tak lepas dari sentuhan ajaib pelatih asal belanda Bert van Marwijk. Walau hanya punya waktu 7 bulan, mantan pemain nasional Belanda di era Total Football ini mampu memberi suntikan taktik dan motivasi buat para punggawa Arab Saudi. Timor Leste, Thailand dan Uni Emirat Arab mereka kalahkan.

Apa resep Marwijk sehingga selama dipimpinnya anak anak Green Falcon bisa mencetak 17 gol?

Marwijk menerapkan sepak bola menyerang yang efektif. Ia pun memompa semangat anak asuhnya untuk tidak  kalah di laga kandang. Hasilnya Arab Saudi menorehkan 4 kemenangan kandang dan satu draw dari lima laga di putaran ketiga kualifiksi Piala Dunia. Marwijk juga menekankan pentingnya para pemain memiliki  kebugaran lewat latihan fisik yang spartan.

Tempahan fisik  berbuah manis, karena dari 17 gol ke gawang lawan 12 dicetak di babak kedua. Itu menandakan stamina para pemain Arab Saudi tetap bugar untuk menerapkan permainan agresif yang diinginkan Marwijk.

Dengan pola 4-3-3 yang cenderung menyerang mampu diterapkan para bintang bintang Arab Saudi seperti Yahya Al Sheri yang sukses mencetak 5 gol di babak kualifikasi, gelandang kreatif Taiser Al Jasam dan spesialis eksekutor penalti, Nawaf Al Abid.

Bert van Marwijk mengubah paradigma bermain bola yang dahulu kental dengan aroma latin menjadi gaya sepak bola efektif khas Eropa. Saat di laga krusial melawan Jepang yang unggul secara tim, Marwijk meminta Abdul Malek Al Kharibi dan kawan kawan bermain sabar dan disiplin.

Mantra Marwijk ternyata manjur. Mereka kalahkan Jepang 1-0 dan lolos ke Rusia. 35 pemain yang dipanggil pelatih asal Belanda ini memang punya modal kebugaran dan skill yang mumpuni.
 

Baca juga: Piala Dunia 2018 Mungkin Milik Eropa Lagi


Marwijk mundur dan kursi panas, kini diduduki pelatih asal argentina Juan Manuel Pizzi. Mantan striker klub Barcelona ini juga tidak kalah mentereng soal prestasi dan nama besar.

Bermodal membawa La Roja Cile juara Copa Amerika tahun 2016, Pizzi meneruskan filosofi sepak bola yang sudah diletakkan Marwijk. Sebelum diambilalih Pizzi, Arab Saudi sempat dilatih Edgardo Bauza, pelatih asal Argentina. Namun, Bauza dipecat karena performa Arab Saudi setelah lolos ke Rusia justru mengkhawatirkan. Green Falcon hanya menang 2 kali dalam 5 pertandingan uji coba. Terakhir saat kalah 0-1 dari Bulgaria, Bauza langsung diminta mundur.

Pizzi, tinggal memberi sentuhan tambahan karena fondasi tim sudah diletakkan oleh Meneer Bert van Marwijk. Dari berbagai uji coba lalu sebelum kick off Piala Dunia, masih banyak titik lemah yang perlu dibenahi oleh Pizzi. Hasil uji coba melawan juara dunia Jerman dan Italia, anak anak Saudi kalah tipis 2-1, namun ada banyak kemajuan berarti dari semua lini dan organisasi permainan.

Menghadapi tuan rumah Rusia menjadi momentum buat anak anak Saudi, untuk mengulang prestasi 1994 di Amerika saat mereka lolos ke babak 16 besar. Satu poin saja bisa mereka curi dari tim Beruang Merah yang didukung tidak kurang 70 ribu penonton di Stadion Luzhniki, maka, itu sebuah pencapaian signifikan. Peluang melangkah ke 16 besar tidak mustahil bisa terulang lagi.

Kita tunggu paruh Elang Hijau beraksi malam nanti. Insyaallah….

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga


Video: Salam dari Rusia, Jalan-jalan di Gorky Park



(ACF)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

6 days Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /