Feature Olahraga

Gowes Eksotis di Pulau Rempah- rempah

Boy Noya    •    02 Agustus 2018 09:36 WIB
sepeda
Gowes Eksotis di Pulau Rempah- rempah
Suasana bersepeda di Pulau Ternate. (Foto: Metro TV/Boy Noya)

GOWES ke Ternate tadinya cuma cita-cita tapi akhirnya terjadi juga. Kenapa pilih Ternate? Gowes bersepeda lipat ke propinsi Maluku Utara itu, kata orang kita dapat semua keindahan khas Indonesia timur. Gunung, pantai dan tempat-tempat sarat sejarah. Banyak pilihan untuk menikmati Indonesia timur dengan bersepeda, tapi akhirnya kami memilih Ternate dan Tidore.

Saya dan dua teman penggemar sepeda lipat memilih berangkat Jumat pagi 28 juli 2018, dari Bandara Soekarno Hatta pukul 09:00 pagi dengan menggunakan maskapai penerbangan Batik Air. Tiga jam lamanya penerbangan membawa kami tiba di Bandara Sultan Babullah, Ternate pukul 15:00 Waktu Indonesia Timur. Perbedaan waktu Jakarta dan ternate 2 jam lebih cepat.

15 menit jelang landing, penumpang yang berada di kursi dekat jendela akan diperlihatkan panorama gugusan pulau yang indah dengan gunung yang hijau baik di pulau Ternate maupun Tidore. Hamparan pulau bak puzzle tersebar membuat mata tak berkedip dan berdecak kagum. Manuver pesawat yang mengitari pulau Tidore menuju Ternate semakin membuat saya yang duduk dekat jendela terus gencar memotret objek cantik pulau-pulau di Maluku Utara. 

Ketika Boeing 737 Batik Air makin menurunkan ketinggian sampai pada ketinggian 2600 meter di atas permukaan laut, maka puncak Gunung Gamalama yang sejajar dengan sayap pesawat tampak makin terlihat kokoh tapi terkesan ramah menyambut kami pesepeda dari Jakarta. Mendarat mulus di landasan pacu Bandara Sultan Babullah, pintu gerbang kota Ternate - kami langsung disambut cuaca panas yang menyehatkan.

Cuaca panas menyengat tak membuat kami takut tapi justru mengucap syukur karena seminggu sebelumnya Ternate diguyur hujan lebat berhari-hari. Panas bukan handicap buat para penggowes yang ingin menikmati setiap kayuan sepeda. Tiba di hotel, istirahat sebentar, sorenya kami sudah mengayu sepeda keliling kota Ternate. Tujuan utama makan malam. Pilihan utama tentunya ikan bakar. Tempat yang paling dicari dan sudah kesohor adalah pasar Gamalama. Ikan babora bakar bersama sambal dabu dabu dan kangkung cah langsung tandas. Makan banyak tak jadi persoalan karena besok kami akan gowes mengelilingi pulau Ternate.

Setelah makan, kami lanjut ke pantai Tapak untuk menikmati minuman “gaul” khas Ternate air guraka dan cemilan pisang goreng mulu bebe. Air guraka, adalah air jahe campuran dengan gula jawa dan ditaburi potongan buah kanari. Rasanya hangat dan segar. Sedangkan pisang mulu bebe, potongan nya persis mulut bebek. Pisang yang tumbuh di pulau Halmahera ini digoreng kering dan ketika makan dicocol ke sambal rowa. Rasanya enak apalagi sambil memandang laut
pada malam hari dan diseberang sana tampak lampu-lampu pemukiman penduduk di pulau Tidore. Jam 10 malam kami gowes pulang ke hotel, dan mempersiapkan segala sesuatu untuk gowes esok pagi pukul 06:00 WIT.

Esok pagi, kami dibangunkan azan subuh dari masjid yang berdekatan dengan hotel muara, tempat kami bermalam. Kami berkumpul di satu titik dekat benteng orange, benteng peninggalan Portugis yang masuk ke Ternate tahun 1512. Kami tidak gowes bertiga karena komunitas sepeda gamalama -- Gamalama Cycling Club-- ikut serta dan mereka lah yang menjadi tour leader. Tidak kurang 30 pesepeda yang punya background beragam. Ada pegawai negeri sipil, ada pegawai bank, kepolisian dan juga dari TNI AD. Usai pemanasan dan berdoa, iringan pesepeda memulai gowes melewati Kedaton yang merupakan Istana Kerajaaan Sultan
Ternate. Pagi itu cuaca cerah dan lalu lintas lengang, Kami diajak melewati belakang landasan Sultan Babullah dan melewati tempat wisata pantai dufa-dufa. Jalan beraspal dan mulus memanjakan semua penggowes, ditambah sisi kanan kami pantai yang indah.


(Foto: Dok. Boy Noya)

Persinggahan pertama kami adalah tempat wisata yang terkenal dengan nama Batu Angus Kulaba. Jaraknya cuma 10 kilometer dari kota Ternate. Konon, padang batu angus ini adalah aliran lava dari letusan Gunung Gamalama tahun 1673 silam. Batu hitam adalah lava yang membatu dan berubah warna menjadi hitam. Batu angus diapit oleh laut lepas dan Gunung Gamalama yang hijau. Jadilah tempat ini begitu eksotis dan penuh dengan catatan sejarah buat Ternate.

Kami tinggalkan batu angus dan lanjut gowes melewati beberapa desa yang asri dari pulau Ternate. Tujuan berikut adalah pantai Jikomalamo. Pesona pantai ini adalah pasir putih dan trumbu karang yang cantik padahal garis pantainya cuma 100 meter. Sayang, kami tidak sempat untuk berenang atau snorkling di pantai indah itu karena harus lanjut gowes. Perjalanan masih jauh dan kontur jalanan yang naik turun membuat fisik cukup terkuras apalagi panas matahari mulai menyengat. Kami perlu minum cukup banyak untuk menjaga kondisi tubuh tidak dehidrasi.

Baca: Coach Ito Bicara Target Asian Games dan Absennya Filipina


Iringan pesepeda tetap gowes menuju destinasi berikut yaitu Danau Tolire. Kami penggowes Jakarta hanya tau Danau Tolire dari mbah google. Kini, kami menuju ke sana. Jam 10 pagi kami tiba di Danau Tolire. Danau alam di kaki Gunung Gamalama yang menjorok ke laut. Yang kami sambangi adalah Danau Tolire besar karena ada juga Danau Tolire kecil. Danau yang dominan warna hijau katanya menyimpan banyak misteri. Lupakan misterinya karena danau ini memang indah. Luasnya 5 hektar menempel di punggung Gunung Gamalama. Danau yang airnya juga hijau ini punya kedalaman 50 meter. Selain beberapa jenis ikan, buaya pun hidup dan bisa dilihat dari atas bukit. Beruntung kami bisa melihat salah satu objek wisata terkenal di Maluku Utara.


(Foto: Dok. Boy Noya)

Kami sudah gowes sejauh 40 kilometer mengelilingi pulau Ternate ini. Tujuan berikut tidak kalah sensasional dan sepertinya yang paling berat mengingat tenaga mulai terkuras dan sinar matahari makin terik. Danau Ngade adalah tujuan utama sebelum kembali ke kota Ternate. Untuk mencapai Danau Ngade yang indah itu, para pesepeda perlu gowes ekstra tenaga. Dari 30 penggowes, hanya setengahnya yang memilih untuk naik ke Danau Ngade. Tanjakan tajam sudah di depan mata ketika mulai mengarah ke sana. Kami mampir ke perkebunan cengkeh yang sudah berusia 400 tahun. Penduduk setempat menyebutnya pohon cengkeh afo. Kata afo berarti tua. Hamparan pohon cengkeh yang sudah kering ini makin eksotis ketika sepeda sepeda kami senderkan di pohon cengkeh afo. Anda yang berfoto di hampran rumput hijau dan pohon cengkeh yang kering itu akan merasa seolah-olah Anda berada di luar Indonesia, padahal itu ada di kaki gunung sebelah Gamalama. Ketinggian perkebunan cengkah afo sekitar 700 sampai 800 meter di atas permukaan laut.

Kami naik lagi. Tanjakan makin tinggi tapi pemandangan di kiri kanan makin mempesona. Melewati Universitas Khairun para penggowes makin tertantang karena sudah mendekat tempat tujuan akhir Danau Ngade. Tepat jam 11 siang akhirnya kami tiba di Danau Ngade. Segala kepenatan sirna begitu melihat pemandangan danau alam ini. Di ketinggian sekitar 1100 meter di atas permukaan laut, terhampar danau yang memang penuh pesona. Hampir sama dengan Danau Tolire, namu batas dengan laut lebih dekat Danau Ngade. Dan yang lebih mempesona adalah latar belakang danau adalah Pulau Maitara dan Tidore. Keluarkan uang seribu kertas, maka foto di uang kertas itu adalah pulau Maitara dan Tidore. Sebenarnya ingin berlama lama di Ngade tapi kami harus kembali ke kota Ternate karena perjalanan masih cukup jauh. Rombongan pesepeda kembali ke kota Ternate. Sudah pukul satu siang, waktunya untuk makan siang setelah hampir setengah harian kami mengayuh sepeda mengelilingi pulau Ternate. Menurut data di smart watch teman, kami sudah menempuh jarak tidak kurang 70 km dan waktu tempuh selama 6 jam untuk mengelilingi pulau rempah-rempah ini. Jalan pulang kami melewati tempat tempat yang menjadi icon kota Ternate seperti masjid Al Munawar dan landmark kota Ternate yang bernama Kieraha.

Setelah membakar 1700 kalori, kami butuh asupan sekaligus makan siang. Pilihan yang paling pas adalah makanan khas Maluku utara. Papeda, sop ikan kuning dan pisang rebus. Papeda makanan khas Maluku ini terbuat dari sagu. Disiram sop ikan kuning membuat papeda terasa nyam nyam dan uniknya menyuapkan menggunakan tangan dan bukan garpu senduk. Sambil memandang laut lepas, para penggila sepeda dari Jakarta dan Ternate ini menikmati makanan dan bercerita mengenai nikmat dan beratnya gowes mengelilingi pulau Ternate.


(Foto: Dok. Boy Noya)

Rencana ke Tidore kami batalkan karena waktu yang mepet. Sayang memang, tapi ada waktu lain untuk kembali ke tanah rempah-rempah karena masih banyak tempat eksotis gugusan pulau Maluku utara ini. Malamnya, kami makan malam nasi kuning ikan cakalang yang wajib hukumnya untuk disantap jika berkunjung ke Ternate. Balik hotel, Sepeda kami lipat dan masukkan ke tas-nya. Besok kami pulang ke Jakarta dengan membawa pengalaman indah gowes sambil menikmati keindahan Ternate, keramahan penduduknya dan kelezatan kulinernya. Ternate Jang Folohi.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Cabor Voli Pantai Tatap Asian Games 2018


(ASM)