Sidoarjo dan Nostalgia Timnas Indonesia

A. Firdaus    •    14 Agustus 2018 10:43 WIB
timnas u-16
Sidoarjo dan Nostalgia Timnas Indonesia
Stadion Gelora Delta Sidoarjo (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Menyaksikan tim nasional Indonesia bertanding bak memakan keripik setan. Pedas tapi nagih. Seperti itulah ketika saya melihat dan bahkan meliput langsung timnas kita dalam berbagai usia. Kerap mendapatkan hasil mengecewakan tapi aksi penggawa Garuda selalu dinantikan.

Saya jadi teringat ketika saya ditugaskan untuk meliput Timnas Indonesia Senior di ajang Piala AFF 2016. Saya berangkat ke Bangkok dengan kepercayaan diri tinggi. Maklum, ketika itu Indonesia unggul 2-1 atas Thailand pada leg pertama Piala AFF yang berlangsung di Stadion Pakansari.

Tak hanya saya yang percaya diri, bahkan saking pede-nya para suporter timnas Merah Putih rela mengeluarkan kocek besar untuk datang langsung ke Stadion Rajamangala, tempat digelarnya leg kedua final Piala AFF 2016.

Namun rasa percaya diri itu harus berakhir dengan kekecewaan. Boaz Solossa dan kawan-kawan kalah di kandang Gajah Putih dengan skor 2-0. Artinya secara agregat Indonesia kalah 2-3 dari Thailand, yang akhirnya merengkuh gelar juara Piala AFF untuk kali kelima.

Klik di sini: Thailand Tunda Pesta Timnas Indonesia

Dua tahun berselang, seperti deja vu saya kembali meliput timnas Indonesia yang kembali bertemu Thailand. Tapi dalam level usia yang beda, yaitu di final Piala AFF U-16.

Dengan persiapan mepet karena baru mendapat mandat dari redaktur saya sehari sebelum partai final, saya pun berangkat. Ada kecemasan Indonesia gagal lagi. Tapi di hati kecil saya, terselip keyakinan Indonesia bakal berpesta, karena main di kandang sendiri.

"Pertandingan berjalan ketat dan bagus tapi kami harus kalah. Pemain kami tampil di bawah tekanan penonton tuan rumah," ujar pelatih Thailand U-16, Puengreangleas.


Tiba di Sidoarjo, saya langsung melipir ke Stadion Gelora Delta untuk meliput. Seperti yang sudah saya lihat di televisi, antusiasme warga di sini sangat luar biasa.

Penampilan skuat Fachri Husaini ini sepanjang turnamen Piala AFF U-16 ini memang impresif. Sebelum partai final, mereka selalu menang dalam waktu normal yang berdurasi 80 menit itu.

Tak hanya warga sekitar rela untuk antre tiket untuk menonton langsung. Bahkan penyanyi ternama seperti Via Vallen juga ikut menjadi saksi sejarah Timnas U-16 bertanding dengan nonton langsung ke stadion.

Menurut saya salah satu kunci kesuksesan timnas U-16 itu adalah suporter yang datang langsung ke stadion. Pernyataan saya ini merunut pada ucapan pelatih Thailand U-16 Thongchai Rungreangleas.

"Pertandingan berjalan ketat dan bagus tapi kami harus kalah. Pemain kami tampil di bawah tekanan dari penonton tuan rumah," ujar Puengreangleas saat konferensi pers usai pertandingan.

Tak hanya kreatif dalam mendukung David Maulana cs, para suporter juga konsisten menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan Padamu negeri kala timnas bermain. Tak berhenti di situ, Garuda Clap juga menjadi sajian khas penutup pertandingan.

Jalannya laga di awal pertandingan, semua seakan menjadi miik Indonesia. Thailand tertekan, baik itu karena pergerakan disiplin timnas Indonesia U-16 ataupun dukungan dari suporter.

Klik di sini: Gunakan Ponsel Sambil Menyetir, Salah Terancam Sanksi

Indonesia pun unggul melalui gol pemain pengganti Muhammad Fajar Faturrcahman pada menit ke-33. Hasil itu membuat para suporter dan tentunya saya mulai optimis.

Tapi bukan Thailand kalau langsung menyerah. Melalui beberapa perubahan skema, mereka berhasil membungkam suporter tuan rumah setelah Apidet Janngam mencetak gol balasan yang sekaligus membuat pertandingan dilanjutkan ke drama adu penalti.

Meski harus dibuat deg-degan, Indonesia akhirnya mampu mengalahkan Thailand dalam babak tos-tosan. Pahlawannya kali ini adalah kiper Ernando Ari Sutaryadi yang menepis dua algojo Thailand.

Seisi stadion pun pecah, para suporter berpesta dengan flare dan kembang api. Bahkan saya sempat merekam ekspresi Via Vallen yang menangis bahagia karena bisa menyaksikan langsung para pemain U-16 menjadi juara.

Pelatih timnas U-16, Fachri Husaini sempat berujar enggan mengakhiri pemusatan latihan di Sidoarjo. Daerah yang kini telah menjadi saksi bisu perjuangan skuat muda Merah Putih berjaya di ajang Piala AFF U-16.

"Kami sangat menikmati berada di Sidoarjo, sambutannya sangat hangat dari Asosiasi Kabupaten PSSI-nya, dari masyarakatnya, dari suporter. Tentu Sidoarjo memiliki kenangan tersendiri bagi skuat timnas U-16 karena bisa meraih gelar juara di sini, hanya saja TC berikutnya itu bukan kewenangan saya yang memutuskan, tapi PSSI yang akan mengevaluasi," ujar Fachri Husaini.


Koreografi supoter Merah Putih di Sidoarjo saat Indonesia memimpin 1-0 atas Thailand (A.Firdaus/Medcom.id)

"Tapi sejujurnya saya secara pribadi dan mungkin Nando,-panggilan Ernando, juga lebih senang berada di Sidoarjo karena dia punya banyak fans di sini," tutup Fachri sambil bercanda.

Momen juara para pasukan Timnas U-16 ini mengingatkan kita pada lima tahun silam. Di mana para penggawa timnas U-19 yang kala itu memiliki nama-nama seperti Evan Dimas dan Ilham Udin Armaiyn meraih juara Piala AFF, yang kala itu mampu menang adu penalti dengan Vietnam.

Setelah melihat timnas U-19 dan kini U-16 juara Piala AFF, saya pun berharap PSSI akan menjadikan Sidoarjo tuan rumah andai timnas senior kita bertanding di final Piala AFF 2018 nanti. Bukan tak mungkin, sambil memupuk rasa optimistis kalau Sidoarjo benar-benar tempat yang bersahabat untuk Merah Putih.

Menengok Persiapan Akhir Srikandi Silat Indonesia Menuju Asian Games 2018



(ACF)


Video /