Warisan Sadisme

Fitra Iskandar    •    25 September 2018 22:01 WIB
Anarkisme Suporter
Warisan Sadisme
PEMAKAMAN SUPORTER PERSIJA: Sejumlah pendukung klub sepak bola Persija melakukan ziarah ke makam Hairlangga Sarlin di Indramayu, Jawa Barat, Senin (24/9). Hairlangga Sarlin meninggal dunia akibat penganiayaan oleh sejumlah oknum pendukung klub sepakbola P

BAGAIMANA segelintir anak-anak kita (bangsa) membunuh dengan alasan perbedaan klub sepakbola? Video pembunuhan Haringga Sirla yang bertebaran di sosial media hari ini hanya menunjukkan satu hal. Kesadisan.

Bagaimana rasanya? Miris, kecut, marah, kesal, sedih? Banyak yang berkomentar, ‘Tidak habis pikir. Bagaimana anak-anak muda ini dengan kejam dan barbar menghabisi nyawa orang lain.’

Realitanya, itulah fakta yang dipertontonkan para pelaku. Kita tidak perlu lagi mendeskripsikan apa yang mereka lakukan saat membunuh Haringga.  Yang jelas, memang sungguh di luar akal sehat. Memekikkan kalimat tauhid ‘la Ilaha illallah’ sambil melukai bertubi-tubi mahluk Allah.  Itu cuma salah satu contoh hal yang di luar nalar.

Adakah penjelasan yang dapat memberikan petunjuk kenapa kekejaman seperti itu bisa dilakukan warga biasa di luar situasi perang? Walaupun di kebanyakan situasi perang di belahan dunia lain, eksekusi terhadap musuh tak sampai sesadis ini juga.

Memang, sepakbola di belahan dunia manapun selalu memantik perseteruan. Namun levelnya tidak lebih dari efek seteguk Wiski, yang membuat badan berkeringat, dan mulut ngoceh tak karuan.  Mungkin hanya di sini, sepakbola seperti bensin. Yang bisa membakar rasa kemanusiaan.

Di tengah kerumunan massa, sepakbola bisa menjadi seperti korek api di genggaman anak kecil. Mereka menyalakan apinya, dan menyulut permusuhan di luar  batas logika masyarakat yang sehat. Sayangnya, suporter seperti ini jumlahnya tidak sedikit.

Budaya Sadisme
Saya limbung menyaksikan adegan penyiksaan Haringga. Bukan cuma karena miris melihat bagaimana akal sehat bisa luluh lantak di kepala orang-orang yang kesetanan itu. Tetapi juga karena ada wajah masyarakat kita di raut para pelaku biadab itu.

Hampir di setiap aspek kehidupan budaya kekerasan mudah ditemui. Dalam lingkup sepak bola, kekerasan bukan hanya dipertontonkan di jalanan dan dilakukan suporter bodoh. Di atas lapangan, aksi kekerasan, yang jarang terjadi di luar negeri, kerap terjadi di sini; Pemain, ofisial menganiaya wasit, pemain melakukan tekel yang kelewat bahaya. Suporter rusuh setelah pertandingan. Pokoknya macam-macam.  

Pejabatnya pun sama. Main adu preman, dan pengerahan pasukan militer saat konflik PSSI.  Peragaan kekerasan di sepakbola Tanah Air bertebaran  tapi terlanjur dianggap biasa.  

Teori penyimpangan perilaku menyebut suatu penyimpangan adalah perilaku yang  tidak sesuai dengan norma yang berlaku pada kultur dominan. Oleh karena itu disebut subkultur. Tetapi  hari ini, jika kita bicara sepakbola, kekerasan adalah kebiasaan sehari-hari. Ia menyelinap menjadi kultur dominan. Diakui atau tidak.

Tingkat kekerasan yang tampil tentu tidak sama di setiap level. Di tingkat suporter ragam macamnya, dari level verbal, tulisan, nyanyian, hingga pada satu titik,  menjelma jadi kekerasan fisik yang tak terbatas tingkat kesadisannya. 

Bukti bahwa kekerasan sudah menjadi budaya dalam sepakbola Indonesia mudah saja identifikasinya. Dan semua punya kontribusi. Bukan cuma suporter.

Contoh lagi: umumnya wasit di Indonesia terlalu permisif terhadap pelanggaran keras yang dilakukan pemain. Federasi kerap mengangkangi peraturan sendiri.  Operator liga atau panitia pertandingan yang tidak sensitif. Aparat pun tidak punya mekanisme intervensi yang tanggap dan tepat merespons situasi.

Yang teranyar, lihatlah pertandingan saat Persib menjamu Persija di hari nahas itu. Sebuah gambar bernuansa kekerasan dibentang lebar-lebar.  Tidak ada ketegasan dari pihak mana pun untuk melarangnya.  Simbol kekerasan itu seolah hal biasa yang tidak mengusik nurani panitia pelaksana,  operator Liga1 dan aparat keamanan.

Padahal dalam FIFA Stadium Safety and Security  Regulations, jelas bahwa pihak panitia dan keamanan harus bertindak tegas menurunkan gambar atau slogan berbau provokatif. Gambar dan slogan provokatif tentu mempengaruhi perilaku massa atau suporter. Mereka menganggap pesan itulah yang perlu diterima dan diterapkan.

Bila peraturannya sudah dimengerti namun tidak dilakukan dengan alasan menjaga kondusifitas, ya inilah fenomena umum di mana pihak yang punya otoritas hampir selalu lemah menghadapi penyimpangan.

Tengok di trotoar, bagaimana negara tak berdaya di hadapan para pedagang Kaki-5. Apapun dalihnya.  Negara ini chaos pada banyak level.  Hukum sulit tegak. Yang berlaku adalah hukum rimba. Siapa kuat, dia menang. Masyarakat akhirnya terbiasa mengambil inisiatif menjadi hakim dan algojo jalanan.

Meminjam teori Edwin H Sutherland yang mengatakan penyimpangan itu adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari subkultur atau teman-teman sebaya yang menyimpang,  perilaku menyimpang  ini tentu hasil dari proses belajar mereka dengan lingkungan, dan generasi yang lebih tua.  

Di satu titik dalam awal perjalanan republik ini, sadisme bahkan menyeruak sebagai kultur dominan. Sadisme dianggap bukan sebuah kejahatan. Dikerjakan secara massal dan menjadi sesuatu yang lumrah lantaran dalih ketika itu, 'situasinya adalah membunuh atau dibunuh’. Dua kubu yang berseteru sama-sama melakukannya. Di satu sisi, bahkan mendapat justifikasi kenegaraan dan keagamaan.

Jika di masa lalu dan hari ini kasus kekerasan dengan membantai secara sadis manusia dianggap sah-sah saja malah cenderung dibangga-banggakan, maka jangan heran ketika melihat di Negeri ini, sekelompok massa begitu mudah, bukan hanya membunuh, tapi melakukannya dengan cara sadis. Meski alasannya sepele.

Di tengah masyarakat yang sudah tumpul sensitifitasnya terhadap budaya kekerasan, munculnya perilaku massa yang sangat menyimpang boleh jadi memang konsekuensi logis dari bagaimana bangsa ini memberi contoh dalam menyikapi persoalan pencabutan paksa terhadap hak hidup, ekonomi, hukum atau keyakinan orang lain.

Mereka hanya belajar dengan pikiran sadar maupun bawah sadarnya dari bagaimana para generasi terdahulu menyelesaikan konflik.

Silakan merenung-renung perilaku sadisme apa saja yang sudah kita contohkan dari masa lalu hingga hari ini…. Jika kita belum bisa mengambil pelajaran darinya, menanamkan prespektif yang pro kemanusiaan terhadap sejarah-sejarah kekerasan itu kepada generasi muda, maka budaya kekerasan akan selalu jadi warisan.

Sadisme yang tidak masuk akal dan di luar perikemanusiaan dapat kembali kita saksikan di masa depan. Kemudian kita menyebutnya lagi, ‘itu tragedi kemanusiaan.’  Begitu seterusnya.


(FIT)