Real Madrid 2018--2019

Lopetegui Mengorek Luka Lama Real Madrid

A. Firdaus    •    03 Oktober 2018 20:20 WIB
liga championsreal madrid
Lopetegui Mengorek Luka Lama Real Madrid
Pelatih Real Madrid Julen Lopetegui (Foto: AFP/GABRIEL BOUYS)

Real Madrid era Julen Lopetegui tengah dalam krisis. Mereka harus berjuang meraih kemenangan yang tak dinikmati sejak mengalahkan Espanyol 1-0 pada 23 September lalu.

Puncaknya, terjadi dini hari tadi. Ketika Karim Benzema dan kawan-kawan melawat ke markas CSKA Moskow. Madrid secara mengejutkan takluk 1-0 di tangan Raksasa Rusia tersebut lewat gol cepat Nikola Vlasic pada menit kedua.

Dengan kekalahan itu, berarti Madrid belum meraih kemenangan dalam tiga pertandingan terakhir. Parahnya lagi, dalam tiga laga itu, tak sekalipun pasukan Lopetegui menjebol gawang lawan.

Bagi klub sebesar Madrid, rentetan hasil negatif tersebut adalah sebuah aib. Selain sebagai Raksasa La Liga, El Real juga di Liga Champions merupakan pemegang trofi dalam tiga musim beruntun.

Rentetan hasil positif ini seakan membuka atau mengorek luka lama Madrid. Los Blancos ternyata pernah mengalami periode pahit itu pada masa lalu. Tepatnya pada musim 2006--2007 ketika masih dilatih Fabio Capello. 

Musim itu dimulai dengan buruk, dan pertandingan tanpa gol berawal dengan kekalahan 0-3 Madrid atas Recreativo Huelva pada 20 Desember 2006. Laga melawan Huelva merupakan partai terakhir jelang tutup tahun.

Awal 2007, semakin buruk buat Madrid. Mereka kalah dari Deportivo La Coruna di Riazor, sebelum akhirnya meraih hasil lebih baik, yaitu bermain imang tanpa gol dengan Real Betis.

Merindukan Ronaldo
Menariknya dari dua rentetan negatif tersebut (tak pernah mencetak gol dalam tiga pertandingan beruntun), ternyata dilakoni Madrid ketika tak diperkuat Cristiano Ronaldo. 

Pada musim 2006--2007, El Real belum merekrutnya dari Manchester United. Sedangkan pada musim ini, Madrid juga sudah ditinggalkan bintang Portugal tersebut yang hengkang ke Italia untuk bergabung bersama Juventus.

Fakta itu diakui oleh Keylor Navas yang menganggap bukan rahasia lagi kalau Madrid merindukan sosok Ronaldo. Kehadiran pemain berusia 33 tahun itu kerap memberikan solusi ketika Madrid menghadapi kekeringan gol.

"Pengaruh Cristiano Ronaldo sangat tinggi, itu bukan rahasia lagi. Anda tidak bisa menutupi matahari dengan satu jari," ujar Navas ketika membahas tidak adanya Ronaldo di Madrid.

"Tapi itu bagian dari masa lalu, kita tidak bisa hidup di satu momen saja. Rekan tim saya sudah melakukan yang terbaik, mereka bisa dan gol akan datang," terang Navas. 

Berharap Perez Bersabar
Lopetegui harus bisa mencari solusi. Kalau tidak mantan pelatih timnas Spanyol itu akan jadi sasaran tembak. Maklum, Presiden Madrid Florentino Perez dikenal sebagai sosok yang perfeksionis dan selalu menuntut kesuksesan di tiap musimnya.

Contoh saja apa yang dialami Rafael Benitez pada musim 2015--2016. Baru tujuh bulan melatih, mantan pelatih Napoli itu sudah dilengserkan lantaran dianggap gagal membawa Madrid ke panggung kejayaan.

Ruang ganti yang tak harmonis, kalah ketika Madrid menjalani laga penting, tersingkir dari Copa del Rey, dan menerapkan taktik bertahan dianggap menjadi rangkaian "dosa" Benitez di mata Perez.

Lebih parah lagi dengan yang dialami Carlo Ancelotti. Meraih empat gelar dalam semusim merupakan torehan emas Ancelotti ketika mengabdi kepada Madrid. Los Blancos dibawanya menjuarai Copa del Rey, Liga Champions 2013--2014, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Tapi pada musim keduanya beberapa hasil minor didera Ancelotti. Salah satunya El Real tersingkir dari babak 16 besar Copa del Rey. Hasilnya pada 25 Mei 2015, Perez mengumumkan bahwa dewan klub mengambil keputusan yang sulit untuk membebaskan Ancelotti dari tugasnya sebagai pelatih Madrid. 

Meski diakui mantan pelatih Chelsea itu akan menjadi bagian sejarah El Real, mengingat dalam kepelatihannya, Madrid mengecap Decima (atau memenangkan gelar kesepuluh Liga Champions). 

"Namun di klub ini tuntutannya sangat besar dan kami membutuhkan dorongan baru untuk memenangkan piala dan menjadi yang terbaik," jelas Perez kala itu.

Kasus berbeda dialami Zinedine Zidane. Tepatnya pada awal musim 2017--2018, Madrid sempat merasakan terseok-seok. Mereka kalah beruntun menghadapi Girona (2-1) di La Liga dan Tottenham Hotspur (3-1) di Liga Champions.

Ditambah lagi Ronaldo yang masih membela Madrid mengalami paceklik gol pada awal musim. Meski akhirnya Ronaldo berhasil bangkit dan mencetak 26 gol dalam musim terakhirnya bersama Madrid.

Untungnya, Zidane masih aman dari serangan pemecatan Perez, meski sempat berembus kabar ia bakal didepak. Tapi Perez mencoba sabar sembari mengingat prestasi emas yang ditorehkan Zidane ketika berhasil mempertahankan trofi Liga Champions. Hasilnya, pada akhir musim, pelatih asal Prancis itu sukses membawa Madrid mencetak hattrick juara si Kuping Besar.

Lalu bagaimana dengan Lopetegui yang belum menorehkan gelar apapun buat Madrid? Mumpung periode sulitnya masih di awal musim, ia harus bergerak cepat mencari solusi dari kekeringan gol yang dialami Madrid saat ini. Kalau tidak, ia akan menjadi korban perfeksionis Perez berikutnya.

Keluarga Almarhum Haringga Minta Tak Ada Aksi Balas Dendam



(ACF)


Media Malaysia: Wartawan Vietnam Agen Mata-Mata?
Final Piala AFF 2018

Media Malaysia: Wartawan Vietnam Agen Mata-Mata?

11 hours Ago

Media Malaysia menurunkan tulisan tentang tingkah laku wartawan Vietnam selama Final Piala AFF …

BERITA LAINNYA
Video /