Opini Piala Dunia 2018

Antiklimaks Berbau tak Sedap

Arpan Rahman    •    13 Juli 2018 11:09 WIB
analisis piala dunia 2018
Antiklimaks Berbau tak Sedap
Foto kiri ke kanan: Pelatih Prancis Didier Deschamps, Antoine Griezmann, dan Asisten Pelatih Guy Stephan. (Foto: AFP/Franck Fife)

BOLEH saja, terserahlah, bicara soal penguasaan lapangan tengah atau kedisiplinan tim menjaga kedalaman. Seperti para komentator di televisi. Tapi itu sejatinya hanya teori dasar sepak bola. Sama sekali bukan uraian soal detail strategi, yang mestinya bisa diambil baik-baik sebagai pelajaran penting bagi kemajuan di blantika persepakbolaaan Indonesia. 

Ya, pelajaran wajib, taruhlah untuk mencontoh kedigdayaan negara-negara sepak bola kelas atas. 32 negara sudah jauh berkembang pesat di Piala Dunia 2018 Rusia. Atau ulasan mengenai kelebihan dan kekurangan individual pemain niscaya lebih bermanfaat.  

Bulan-bulanan Medsos

Lihatlah di Twitter, misalnya. Bercuit-cuitan para pesepak bola termasyhur dan mantan bintang dunia muncul silih-berganti. Mereka mengomentari cara bertahan John Stones. Ketika Mario Manzukic menyelinap dari balik punggungnya, lalu menyalip langkah Stones di kotak penalti. Striker itu melesakkan gol penentu kemenangan Kroasia pada semifinal. 

Seorang mantan pemain terkenal memberi ikon "mata" kepada Stones. Jelas sebuah ejekan. Di lapangan, saat latihan, pemain tidak boleh hanya diam menonton lawan menguasai bola tanpa sedikit pun membuat gerakan gangguan. Biasanya dia akan dapat hukuman: push-up atau jadi bahan tertawaan. 

Stones menjadi bulan-bulanan di Twitter. Seluruh dunia menghukumnya tanpa perasaan. Namun lagu suporter yang kesal belum lagi terdengar. Sebagaimana pelatihnya dinyanyikan cemoohan, 1996 dulu: "Gareth Southgate pulang ke rumah, tapi dia ketinggalan bus..."

Komentator miring berupa cuitan usil terhadap bek Inggris tersebut mengabaikan fakta: gol tercipta pada menit 109. Stones, seperti 21 pemain lain di tengah lapangan saat itu, hanya beristirahat efektif selama tiga hari sejak pertandingan terakhir pada perempatfinal. Sementara otot olahragawan yang telah bekerja keras idealnya mendapat waktu pemulihan kondisi antara tujuh sampai 14 hari, menurut John Berardi, Ph.D. pakar nutrisi dari True Health Initiative.

Mungkin dia lelah. Itu kenyataan yang tak boleh diragukan. 

FIFA juga berarti mengesampingkan faktor kebugaran pemain bila turnamen empat tahunan ini terus dijadwalkan dengan rehat antarpertandingan rata-rata empat hari saja. Apakah badan sepak bola dunia melakukan eksploitasi di luar batas kemanusiaan?

Meyakini jurus Berardi sebagai pakar nutrisi, tentu kesebelasan Vatreni lebih-lebih lelah lagi. Mereka total menarik-ulur ototnya hampir enam jam dalam sepuluh hari. Lengkapnya, 120 menit plus adu penalti dikali dua, yakni lawan Denmark dan Rusia.

Sedangkan Prancis yang muncul di final nanti pasti lebih relaks sebab tiga kemenangan pada fase knock-out sebelum laga puncak semuanya diperoleh dalam waktu normal. Kebugaraan ini yang tidak ada di Kroasia.

Baca: Mantra Kroasia


Skenario Final

Skenarionya (bisa dibilang begitu, walau ini bukan film layar lebar) di Luzhniki Stadium, Moskow, pada 15 Juli mendatang, mungkin cuma dua: 1) Prancis menunjukkan performa paling hebat mereka -- berbeda dengan penampilan sebelumnya -- yakni, keluar menyerbu secara konsisten sejak awal. 2) Skuat Didier Deschamps bermain sabar, menurunkan tempo permainan selamban mungkin, mengajak Luka Modric cs terus berlari sampai ngos-ngosan buat menguras habis sisa stamina mereka yang kadung pas-pasan.

Bila Deschamps lebih piawai dari Southgate, dia akan memilih rencana kedua. Seandainya rencana kedua yang dimainkan Les Blues, bersiaplah mencium final berbau paling tak sedap sepanjang sejarah. Seperti mencium kekasih yang tidak gosok gigi tiga hari...

Antiklimaksnya bisa-bisa melebihi laga membosankan antara Jerman Barat versus Argentina di Italia 1990. Bagaikan sepuluh penyerang melawan sepuluh bek selama 90 menit. Serupa menonton film hanya dialog tanpa gambar atau sekadar gambar tanpa dialog, layaknya mendengar radio rusak yang samar-samar bunyinya. 

Di '90 dulu, Maradona bintang Tim Tango sedang di puncak kejayaan. Sebelum final, kalangan ahli berpendapat, dia takkan terkalahkan. (Akhirnya sejarah membuktikan Si Boncel adalah pemain sepak bola paling bengal sedunia, dua kali dia curang: menggolkan dengan tangan di Piala Dunia 1986, mengasup doping di Piala Dunia 1994.)

Sadar dengan kelebihan musuh dan kekurangan timnya sendiri. Pelatih Jerman Barat, Franz Beckenbauer, menyuruh seluruh pemainnya bertahan. Dia tidak securang Maradona, tapi cuma lebih pintar. Lebih pintarnya juga hanya sedikit saja. 

Hanya sekali Tim Panzer aktif, ofensif, beroleh penalti, Andreas Brehme sukses menjaringkan bola. Lantas Klaus Augenthaler dkk kembali lagi berlari-lari anjing  mengejar-ngejar semua lawan yang mereka biarkan sampai puas memainkan si kulit bundar, asal jangan menyepaknya jadi gol balasan.    

Kala itu, posisi Beckenbauer persis seperti Deschamps saat ini. Keduanya mantan kapten kesebelasan, yang pernah membawa negaranya juara dunia (Beckenbauer pada 1974 dan Deschamps 1998), kemudian dipercaya menjadi pelatih tim nasional masing-masing. Nah, dari kesamaan perspektif ini: kemungkinan bosan tampak lebih besar, kan? 

Jangan lupa pula, dalam sepak bola sering kali tergambarkan banyak persamaan. Melongonya bek Inggris pada semifinal hampir sama konyol dengan bengongnya kiper Jepang melihat sundulan santai gol Jan Vertonghen dari Belgia pada perdelapan final. 

Kebosanan kita tentu mirip dengan situasi yang dikutuk oleh kakek-nenek, ayah-bunda, paman-bibi, dan Abang-abang kita 28 tahun lalu: sudah larut malam, bolanya bikin ngantuk lagi! Padahal mereka ingin mencari hiburan bukan tempat tidur. Apa benar kita akan begitu juga? Lihat saja.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Intip Sibur Arena Stadion Tercantik di Rusia, #SalamdariRusia


(ASM)


Video /