Opini Piala Dunia 2018

Pele Baru dan Mimpi Indonesia

Suryopratomo    •    16 Juli 2018 16:54 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Pele Baru dan Mimpi Indonesia
Kylian Mbappe mencium trofi Piala Dunia usai membantu Prancis mengalahkan Kroasia 4-2 di final (Foto: AFP PHOTO / Kirill KUDRYAVTSEV)

SEPERTI kijang begitulah kecepatan larinya. Kakinya begitu lincah ketika sedang menggiring bola. Umpannya dengan tumit belakang seringkali mengejutkan lawan. Tendangan kaki kiri maupun kanan sama kuatnya untuk merobek gawang lawan.

Itulah gambaran sosok bintang baru Prancis, Kylian Mbappe. Kalau ia terpilih sebagai Pemain Muda Terbaik di Piala Dunia 2018 tidaklah salah. Dia selalu tampil sebagai penentu kemenangan Les Bleus di Rusia.

Di pertandingan puncak Minggu, 15 Juli 2018, Prancis lebih banyak tertekan oleh Kroasia. Apalagi ketika Ivan Perisic mampu menjebol gawang Hugo Lloris untuk membayar kesalahan Mario Mandzukic yang membuat gol bunuh diri. Permainan Kroasia makin menggila. Gol penalti Antoine Griezmann tidak membuat Luka Modric dan kawan-kawan patah semangat.
 

Baca: Deretan Peraih Penghargaan Terbaik di Piala Dunia 2018


Dalam posisi yang tertekan, Mbappe tampil sebagai pembeda. Prancis memanfaatkan betul kecepatan yang dimiliki pemain muda berusia 19 tahun itu. Di babak kedua Les Bleus mengubah gaya permainan dari serangan kaki ke kaki menjadi bola daerah.

Menit ke-59 Mbappe melesat untuk menyambut bola daerah yang diarahkan ke sisi kiri pertahanan Kroasia. Bek kiri Ivan Strinic tidak mampu menghadang kecepatan lari penyerang muda Prancis itu. Mbappe pun dengan leluasa bisa mengirim umpan silang ke kotak penalti. Griezmann hanya sekali menyentuhnya dan menyodorkan bola matang kepada Paul Pogba untuk menjadikannya gol ketiga.

Enam menit kemudian, Mbappe semakin menenggelamkan asa Kroasia. Ia menunjukkan kematangannya sebagai bintang besar. Menerima bola dari bek kiri Lucas Hernandez, pemain Paris Saint Germain (PSG) itu dengan satu sentuhan mampu melepaskan tendangan menyusur tanah yang tidak mampu ditahan Kiper Danijel Subasic.

Gol Mbappe di final Piala Dunia mengingatkan orang kepada sosok mahabintang sepak bola, Pele. Enam puluh tahun yang lalu, Pele menjadi bintang muda yang bersinar terang. Pele yang berusia 17 tahun ketika itu membuat dunia tercengang ketika mencetak dua gol untuk membawa tim Samba merebut gelar juara dunia yang pertama.




Kalau Mbappe dikatakan menjadi jelmaan Pele tidak berlebihan, karena ia pun memberi warna yang berbeda bagi Piala Dunia. Saat menghadapi juara dunia dua kali Argentina di perdelapan final, Mbappe mempertunjukkan magic-nya dengan mencetak dua gol indah bagi Prancis.

Berbeda dengan Pele yang lahir dari alam, Mbappe merupakan produk akademi sepak bola. Ia merupakan salah satu pemain yang pernah mengecap sentuhan Akademi Sepak Bola Nasional Prancis di Clairefontaine.

Akademi Sepak Bola Clairefontaine dibangun dari gagasan Presiden Federasi Sepak Bola Prancis, Fernand Sastre. Pada 1976 Sastre berpikir, Prancis tidak akan pernah menjadi juara dunia apabila tidak memiliki pemain-pemain bertalenta tinggi. Padahal orang Prancis bernama Jules Rimet yang pertama kali menggagas digelarnya kejuaraan Piala Dunia pada 1930.

Gagasan Sastre dimatangkan oleh para pengurus FFF untuk dituangkan menjadi konsep yang dijalankan. Selama enam tahun gagasan Sastre itu digodok. Adalah Stefan Kovacs yang memprakarsai dibangun Akademi Sepak Bola Nasional dengan mengambil ide dari bekas pusat pelatihan komunis Rumania.

Akademi Sepak Bola Nasional Clairefontaine dibuka pertama kali 1988. Nama Fernand Sastre diabadikan di tempat itu, karena ia sudah tidak menjabat lagi sebagai Presiden FFF ketika akademi itu mulai berjalan. Namun semua orang mengakui gagasan itu berasal dari dirinya.

Clairefontaine setiap tahun menggembleng 22 pemain muda berbakat untuk mengikuti pendidikan sepak bola selama dua tahun. Biasanya bulan Oktober seluruh daerah atau klub di Prancis mengirimkan pemain-pemain terbaik yang dinilai pantas mengikuti akademi. Umumnya mereka berusia 12 tahun karena akademi hanya diperuntukkan bagi warga Prancis yang usianya antara 13 sampai 15 tahun.

Pada bulan Desember para calon peserta dikumpulkan dan bermain dalam game yang digelar beberapa hari. Tim pencari bakat memilih 22 pemain terbaik dari mereka termasuk di dalamnya tiga atau empat pemain yang dianggap potensial menjadi kiper yang baik. Di tim nasional Prancis sekarang ini jebolan Clairefontaine selain Mbappe adalah Blaise Matuidi dan Oliver Giroud.

Ketika kini Indonesia bermimpi untuk menjadi elite sepak bola dunia, maka yang harus dilakukan adalah pembinaan pemain usia dini. Kita bisa mencontoh apa yang dilakukan Prancis untuk membuat akademi sepak bola guna membentuk pemain-pemain yang mempunyai teknik sempurna dan karakter diri yang kuat.
 

Baca juga: Statistik Menarik Piala Dunia, Belgia Masih yang Terbaik

        
Di Akademi Sepak Bola Clairefontaine, para pemain diajari bagaimana bermain sepak bola yang efisien dan pergerakan yang efektif di lapangan. Mereka belajar soal teknik, taktik, dan juga fisik. Mereka pun mendapat bimbingan psikolog dan medis. Selama dua tahun mereka harus tinggal di akademi sejak Senin hingga Jumat.  Akademi memberikan pendidikan formal di sekolah menengah terbaik yang ada di Rambouillet dan semua biaya ditanggung oleh FFF.

Tidak semua pemain yang mendapat pendidikan di akademi akan menjadi bintang. Tidak pula ada jaminan bahwa Prancis akan selalu menjadi tim terbaik di dunia. Mereka butuh 10 tahun untuk merebut gelar yang pertama dan 20 tahun untuk mengangkat Piala Dunia yang keduakalinya.

Memang tidak pernah ada jalan pintas untuk menjadi yang terbaik. Yang perlu kita lakukan adalah pembinaan yang konsisten dan itu harus dimulai dari usia dini apabila Indonesia ingin menjadi juara dunia sepak bola.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Menyusuri Keindahan Kota Terindah di Dunia, St. Petersburg, #SalamdariRusia



(ACF)


Lawan Uji Coba Timnas U-22 Tidak Harus Klub Besar
Persiapan Piala AFF U-22

Lawan Uji Coba Timnas U-22 Tidak Harus Klub Besar

8 hours Ago

Indra Sjafri membantah bahwa Timnas U-22 akan beruji coba melawan Persija Jakarta dan Persebaya…

BERITA LAINNYA
Video /