Catatan Piala Dunia

Hegemoni Eropa dan Amerika Latin

Suryopratomo    •    30 Juni 2018 13:40 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Hegemoni Eropa dan Amerika Latin
Foto: Google Image

BUKAN bermaksud untuk membangun teori konspirasi. Tetapi itu kecenderungan yang bisa ditangkap. Ada kekuatan untuk mempertahankan hegemoni Eropa dan Amerika Latin di ajang Piala Dunia 2018 Rusia.

Organisasi Sepak Bola Dunia (FIFA) secara bergantian memang hanya dipimpin tokoh-tokoh dari Eropa (UEFA) dan Amerika Latin (CONMEBOL). Bahkan Awal penyelenggaraan pun hanya digilir di kedua kawasan tersebut. Hanya kekuatan negara adidaya seperti Amerika Serikat sajalah yang membuat tradisi itu bisa didobrak yakni ketika Negeri Paman Sam menjadi tuan rumah pada Piala Dunia 1994.

Kalau setengah perjalanan Piala Dunia 2018 yang sudah dilalui menempatkan 14 tim dari dua wilayah itu berada dalam 16 Besar, merupakan bukti lain dari hegemoni itu. Hanya Meksiko dan Jepang yang berasal dari luar wilayah. Afrika bahkan untuk pertama kalinya gagal menempatkan timnya di fase sistem gugur.
 

Baca: Kumpulan Rekor yang Tercipta saat Fase Grup


Satu yang paling ironis nasibnya untuk tersingkir adalah Nigeria. Tim Elang Super ini sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk bisa lolos ke-16 Besar. Lawan terakhir yang harus dihadapi memang adalah juara dunia dua kali Argentina. Meski mempunyai mahabintang Lionel Messi, namun Tim Tango ibaratnya setengah kakinya pincang sehingga tidak mungkin menari sempurna.

Nigeria hanya butuh hasil seri untuk menyingkirkan Argentina dari kejuaraan. Mereka tampil dengan kepercayaan diri yang tinggi dan kemampuan fisik yang lebih bagus. Meski sempat tertinggal oleh gol Messi di awal babak pertama, Nigeria sama sekali tidak terlihat panik dan tegang.

Hanya beberapa menit setelah babak kedua berjalan, Tim Elang Super memperoleh hadiah penalti atas pelanggaran Javier Mascherano. Kesempatan ini dimanfaatkan betul oleh gelandang serang Victor Moses dengan tendangan penalti yang penuh percaya diri.



Nigeria sebenarnya memilik kesempatan mendapatkan penalti kedua ketika pemain belakang Argentina Marcos Rojo jelas-jelas menyentuh bola dengan tangannya di kotak penalti. Namun meski sempat melihat rekaman dalam Video Assistant Referee (VAR), wasit Cuneyt Cakir dari Turki tidak menyatakan hal yang jelas-jelas penalti itu sebagai penalti.

Lagi-lagi Argentina diselamatkan oleh tangan, setelah “gol tangan Tuhan” Diego Maradona di Piala Dunia 1986. Kali ini Argentina diselamatkan oleh tidak dikenainya hukuman penalti. Ironisnya Nigeria harus tersingkir oleh gol Rojo empat menit sebelum bubaran. Sebuah konspirasi besar untuk menyelamatkan Argentina ke-16 Besar.

Banyak Kejutan
Satu hal yang menarik dari Piala Dunia 2018 adalah hegemoni Eropa dan Amerika Latin tidak lagi ditopang keunggulan permainan yang sulit untuk ditandingi. Argentina, Brasil, Spanyol, Jerman harus berjuang keras untuk bisa meraih kemenangan pada setiap pertandingan yang harus mereka jalani.

Tim seperti Kosta Rika pun mampu membuat Neymar dan kawan-kawan nyaris frustrasi. Neymar sampai sempat diganjar kartu kuning karena sikap emosionalnya. Dan dua gol kemenangan Brasil baru datang di masa injury time.

Kejutan paling besar adalah tersingkirnya juara bertahan Jerman di babak pertama. Untuk pertama kalinya dalam 80 tahun, Die Mannschaft gagal melewati babak penyisihan. Bahkan yang paling menyesakkan, tim asuhan Joachim Loew harus kalah 0-2 dari kesebelasan “anak Bawang” yang sudah tidak punya harapan untuk lolos yaitu Korea Selatan.

Kekalahan Jerman dari Korsel sama bersejarahnya dengan kekalahan Italia dari Korea Utara di Piala Dunia 1966. Tim Azzurri yang dua kali merebut Piala Jules Rimet, kalah 0-1 dari tim debutan Korut ketika itu.

Tim Panser harus pulang ke negerinya dengan menanggung malu yang luar biasa. Aib itu tidak akan terhapus sepanjang masa. Seperti cerita kekalahan Italia, kekalahan Jerman akan menjadi cerita tiada akhir apabila terjadi “mimpi buruk” di ajang sepak bola.

Korsel sendiri pantas pulang ke Tanah Air dengan kebanggaan luar biasa. Meski mereka harus tersingkir juga di putaran pertama, tetapi rasanya mereka pulang seperti membawa gelar “juara dunia”. Sebab, tidak tanggung-tanggung tim yang dikalahkan Tim Taeguk adalah juara dunia empat kali.

Determinasi
Melihat meratanya peta kekuatan sepak bola yang ada, memberikan peringatan bahwa sekarang tidak ada lagi nama besar. Keberhasilan sebuah kesebelasan untuk meraih kemenangan lebih ditentukan oleh determinasi para pemainnya ketika berjuang di lapangan.

Kroasia mampu membungkam Argentina 3-0 karena mereka memiliki determinasi yang lebih tinggi. Dengan determinasi untuk meraih kemenangan itulah tercipta team work yang lebih padu. Semua pemain mau memberikan kemampuan terbaik untuk bisa mengalahkan lawan.

Satu yang membuat Jerman tersingkir dari arena adalah hilangnya determinasi yang merupakan ciri dan kekuatan mereka. Jerman selama ini sangat ditakuti karena memiliki “staying power”. Mereka tidak pernah mengenal kata menyerah, sebelum peluit panjang berakhir.
 

Baca juga: Menu Maknyus Penjaga Performa


Semifinal Piala Dunia 1982 merupakan salah satu bukti tingginya determinasi para pemain Jerman kalau tampil dalam turnamen besar. Meski sempat tertinggal 1-3 di masa perpanjangan waktu, Karl-Heinz Rummnigge dan kawan-kawan mampu bangkit untuk mengejar ketinggalan dan akhirnya menang adu tendangan penalti 5-4 dari Prancis.

Pelatih Jerman Franz Beckenbauer sangat menekankan soal determinasi. Dalam membangun sebuah tim ia tidak melihat kebintangan seorang pemain, tetapi lebih kemauan untuk “berkelahi” di lapangan. Kalau tidak berani untuk bertarung satu lawan satu dengan pemain lawan, Beckenbauer akan mencoret siapa pun dia dari tim.

Keberhasilan untuk bisa lolos dari 16 Besar Piala Dunia 2018 akan ditentukan sejauh mana determinasi dari sebuah tim untuk mau memenangi pertandingan. Inilah yang akan membuat Babak 16 Besar menjadi menarik, karena siapa pun sekarang terbuka kesempatannya untuk bisa lolos ke 8 Besar.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Suguhan Kuliner dan Belanja Oleh-oleh di Jalan Arbat, #SalamdariRusia



(ACF)