Asian Games 2018 Cabang Sepak Bola Putra

Jalan Berliku buat Skuat Garuda

Arpan Rahman    •    30 Juli 2018 17:11 WIB
timnas u-23asian games 2018
Jalan Berliku buat Skuat Garuda
Selebrasi gol Septian David Maulana saat timnas U-23 melakoni laga uji coba melawan Thailand (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

PENGUNDIAN ulang di cabang olahraga sepak bola Asian Games 2018 memasukkan Palestina U-23 ke Grup A bersama tuan rumah Indonesia. Penggemar skuat Garuda Milenial terpaksa harus menyimpan sejenak rasa lega, menjadi agak waspada.

Palestina ialah sebentuk ancaman nyata di hadapan mata kita. Seraya bukan bermaksud menganggap remeh Hong Kong, Laos, dan Taiwan: tiga kontestan segrup lainnya.

Seteru Serius 
Tim berjuluk Singa Muda dari Kanaan merupakan seteru paling serius bagi Hansamu Yama dkk kalau boleh dibilang. Mereka dihuni oleh sejumlah bakat cemerlang.

Langkah Palestina mencapai 16 Besar pada edisi terakhir Asian Games, empat silam, di Incheon, Korea Selatan. Performa terbaru mereka ialah perempatfinalis di AFC Cup U-23 Tiongkok 2018, pada Januari silam.   

Pemain kunci Palestina -- kalau mereka diikutkan ke Asian Games, kali ini -- yaitu, Michelmilad Termanini, Saadou Abdel Salam, Mohammad El-Kayed, dan Mohamed Darwish. Kuartet ini tampil dominan saat muncul di AFC Cup 2018. Termasuk menggilas U-23 Thailand dengan skor 5-1 dan kalah tipis 0-1 dari Jepang. 
 

Baca: Timnas U-23 Ditantang Taiwan pada Laga Pertama Grup A Asian Games


Termanini yang berkarier di klub Swedia, AFC Eskilstuna, berduet kompak sama Abdel Salam (Platanias, Yunani) mengawal amat ketat jantung pertahanan. Sementara El-Kayed, gelandang asal KSF Prespa Birlik, cerdik mengotaki alur serangan. Darwish (striker dari klub Jerman, SV Arminia Hannover) luwes bermain satu-dua dan senang mengumpan terobosan, selain punya tenaga tendangan yang patut diandalkan. 

Kecuali mereka berempat, ada lagi empat nama, yakni Oday Dabbagh, Mahmoud Yousef, Shehab Qumbor, dan Mohanad Fannoun. Delapan pemain kunci itu harus diawasi pergerakan dan kelicikan trik mereka yang tekun. Seperti banyak tim asal Timur Tengah, Palestina memperagakan main ringkas tak banyak gaya layaknya ombak pasir Gurun Sahara mengalun. 
    
Asal jangan keliru mengawasi mereka, bisa jadi misalnya nama punggung Oday Dabbagh berubah jadi Ibrahim Mohammad. Lantaran nama lengkapnya Oday Ibrahim Mohammad Dabbagh. 

Jalan Terjal
Target Indonesia meraih posisi 4 Besar di atas kertas sedikit berat diemban. Di bawah gemblengan Luis Milla, Awan Seto cs perlu menjuarai fase penyisihan. Pasalnya, keluar dari grup sebagai runner-up atau mencari celah peringkat ketiga terbaik pasti lebih menyusahkan.

Kita memiliki modal berharga melawan kelebihan bakat Palestina: dukungan sosial fans fanatik memerah-putihkan seantero bangku stadion. Sambil tetap berharap jangan sampai bangku-bangku itu di akhir pertandingan kelak dengan kesal dilemparkan ke tengah lapangan oleh penonton.

Mari kita garisbawahi catatan ini: Pada 16 Januari lalu, di Changzhou Olympic Sports Centre, Palestina menang 5-1 atas Thailand di depan hanya 120 penonton! Saat itu juga Gajah Perang kehilangan asa, sebelumnya dua kali kalah, dan kansnya tertutup sudah untuk melaju ke perdelapanfinal. 

Bandingkanlah situasi tersebut dengan hebohnya ribuan suporter diliputi kegilaan yang meluap penuh gairah di Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi, medio August 2018 nanti. Juga gagahnya keteguhan hati, tegapnya dada berbidang, disempurnakan otot-otot keras six-pack indah dari sebelas awak Garuda Milenial.

Sambil berdoa lolos melewati hadangan Fedayeen, tiga tim saingan lain di Grup A tak boleh diremehkan, bukan? Pertanyaan retorik ini hendaknya dijawab lewat gol demi gol dari kaki kita punya kesebelasan.      

Timnas Tiongkok, Vietnam atau Malaysia mungkin menunggu di 16 Besar sebagai tim peringkat ketiga terbaik dari Grup C/D/E. Lolos dari sana, baru cobaan akhir datang: Thailand atau Arab Saudi. 

Tapi skema perempatfinal bukan mutlak menghadapi Gajah Perang atau Elang Hijau. Sebab Uzbekistan dan Iran turut mengintai dengan status runner-up Grup B dan F, apabila dua tim terakhir ini "memilih" Indonesia di 8 Besar.
 

Baca juga: Jadwal Pekan Pertama Serie A Italia Musim 2018--2019


Coach Milla tentu butuh masukan tentang sisa remah cerita dari Piala Dunia 2018, baru-baru ini. Rentang hari pertandingan diselingi hari istirahat terhitung mepet bagi kebugaran pemain, begitulah lazimnya semua kejuaraan sepak bola di Planet Bumi. 

Ofisial tim Rusia malah menyuruh anak asuhnya menghisap amonia sebagai cara instan menyegarkan tubuh. Balada Kroasia lebih miris, tanpa menukar 7-8 pemain inti di final, mereka rubuh tersandung batu antiklimaksnya secara pilu. 

Jadi, jangan terlalu yakin dengan tim inti bila stamina telah anjlok akibat terkuras lelah. Sebaiknya lekas gantikan dengan cadangan yang lebih segar-bugar saja. 

Di Asian Games 2018, Indonesia cukup tiga kali bertanding, minim kekalahan, tatkala laga usai. Kemudian dua kali selebihnya Timnas Garuda Milenial merebut kemenangan, misi pun komplet tercapai, selesai.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Parma Luncurkan Jersey Terbaru



(ACF)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

6 days Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /