Opini Piala Dunia 2018

Resep Baru Gareth Southgate untuk The Three Lions

Boy Noya    •    26 Juni 2018 13:33 WIB
timnas inggrispiala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Resep Baru Gareth Southgate untuk The Three Lions
Gareth Southgate. (Foto: AFP/Paul Ellis)

TIKET 16 besar sudah dipastikan menjadi milik The Three Lions Inggris usai menghajar Panama 6-1 dan mengalahkan Tunisia 2-1. Pujian mulai ditujukan kepada skuat Gareth Southgate. Ada secercah harapan, jika Tiga Singa akan mampu mengulang prestasi tahun 1966. Inggris meraih gelar juara dunia setelah di final mengalahkan Jerman Barat 3-2 di Stadion Wembley.

Sejak mengambil alih kursi panas dari tangan Sam Allardyce 27 november 2016, mantan bek Timnas Inggris ini mencoba melakukan inovasi cukup menarik lewat skema baru
dengan menerapkan pola tiga bek sejajar dan menumpuk lim gelandang serta dua penyerang di depan.

Southgate sejenak mencoba melupakan skema 4-4-2 yang sudah lama menjadi trade mark Inggris. Sebelum pakem 4-4-2 menjadi pola yang sulit dipisahkan dari Timnas Inggris, Sir Ralf Ramsey, saat menangani tim Inggris di Piala Dunia 1966 mencoba skema baru yang tidak biasa yaitu 4-3-3. Banyak pro kontra, tapi pilihan Ramsey terbukti benar karena skuat muda Inggris seperti Jack Charlton, Bobby More, Jimmy Greaves, dan Ray Wilson mampu mengimplementasikan keinginan sang pelatih.

Di era kepelatihan Bobby Robson, Glen Hodlle hingga Steve Mclaren, Inggris kembali ke pakem 4-4-2. Sven Goran Erikson, pelatih asal Swedia yang ditunjuk melatih Inggris juga menerapkan skema 4-4-2 diamond dengan backbone di lini tengah pemain muda seperti Paul Scholes, David Beckham, Steven Gerrad, dan Frank Lampard. Tidak semua pemain nyaman dengan keinginan Erikson. Scholes sempat frustrasi karena dipaksa bermain di sayap, sektor yang tidak pernah dilakoninya selama membela Manchester United.

Southgate mencoba mencontoh pendahulunya Ramsey. Ia tidak terbelenggu oleh pakem yang sudah mentradisi. Sejak babak kualifikasi, mantan bintang Aston Villa ini mencoba pola tiga bek sejajar. Saat berjumpa Tunisia, pada partai pembukaan Grup G, Southgate menampilkan trio John Stones, Kyle Walker, dan Harry Maguire.

Southgate lebih memilih Walker ketimbang Garry Cahill atau Paul Jones. Namun, pilihan itu tidak keliru lantaran Walker tampil taktis sebagai bek tengah meskipun di Manchester City, posisi tetapnya adalah wingback kanan. Ketiga bek muda ini, punya kelebihan lain yaitu sama-sama punya naluri menyerang yang tinggi. Terbukti, Stones telah mencetak dua gol ke gawang Panama.

Memilih lima gelandang dengan memanfaatkan ruang di sektor sayap, Southgate berharap veteran Ashley Young dan pendatang baru Kieran Trippier akan aktif membantu serangan lewat sayap dan bertahan. Sejauh ini, semua berjalan mulus. Jam terbang bek sayap MU itu mampu menahan serangan pemain-pemain Tunisia dan Panama.

Trio gelandang tengah yang dikoordinir Jordan Henderson cukup solid mengalirkan bola ke Harry kane dan Raheem Sterling. Terutama Jesse Lingard yang sering memanfaatkan celah kosong di jantung perthanan lawan karena Kane mampu menarik perhatian bek lawan yang mengikuti pergerakannya. Lingard mencetak satu gol cantik berkat satu dua sentuhan dengan Sterling. Hanya penampilan bintang muda Tottenham Hotspur Delle Ali yang belum sehebat penampilannya di klub London Utara tersebut. 
 

Jika banyak pengamat yang memuji, Southgate justru masih kurang sreg dari dua laga itu. Ia merasa semua lini belum kerja maksimal, walaupun Inggris sudah menorehkan delapan gol dari dua laga. Bertemu Tunisia yang tampil disiplin dan terus menekan, ternyata Inggris kewalahan. Walker buat kesalahan dan Tunisia memperoleh tendangan penalti. Babak kedua, Tunisia beberapa kali memperoleh peluang emas tapi gagal karena penyelesaian akhir. Hanya, kehebatan Kane yang pintar mencari posisi bebas di kotak penalti sehingga Inggris mampu memenangkan pertandingan.

Bertemu Panama, yang masih di bawah level Tiga Singa, Southgate tak mengubah taktik. Pola 3-5-2 tetap dimainkan. Delle Ali yang cedera diganti oleh Ruben Loftus Cheek. Ruben tak mengecewakan, karena ia mampu berkreasi dan memberi sodoran berbahaya buat Kane dan Sterling. Inggris mendominasi pertandingan, tapi Southgate masih agak gusar karena anak anak asuhannya sempat tak mampu membongkar pertahanan super ketat panama.

Puncaknya, Inggris kecolongan lewat sebuah set piece. Maguire, Stones dan Walker kehilangan konsentrasi dan terpaku pada bola tanpa melihat gerakan striker lawan. Pekerjaan Rumah menunggu Southgate saat bertemu di partai bigmatch melawan Belgia.
 
Menghadapi Belgia memang bukan partai menentukan karena keduanya sudah memastikan tiket 16 besar. Inilah ujian sesungguhnya buat Southgate apakah pola tiga bek sejajarnya memang ampuh atau justru jadi bulan bulanan tim asuhan Roberto Martinez. Southgate tak harus teguh dengan skema favoritnya. Di tengah permainan pun dia bisa mengubah menjadi pola 4-4-2 atau 3-1-4-2 yang cenderung bertahan. Southgate bisa fleksibel sesuai kebutuhan, apalagi laga ini tidak membatalkan tiket 16 besar yang sudah aman.

Laga kontra Belgia, menjadi laga spesial karena kedua tim dihuni pemain yang sering bertemu sebagai lawan atau sebagai kawan di Liga Inggris. Jan Verthongen akan menjadi lawan tangguh buat Harry kane dan Delle Ali, kompatriotnya di Totenham Hostpurs. Romelu Lukaku dan Marouane Fellaini akan coba diadang oleh Ashley Young dan Jesse Lingard. Sterling, Stones dan Walker juga akan bertarung melawan kreator serangan The Red Devils Kevin de Bruyne. Aroma Liga Inggris terasa di partai puncak Grup G ini.

Duel sesungguhnya akan terjadi lini tengah. Skema 3-4-3 Martinez terbukti ampuh dengan total tujuh gol yang mereka raih dari dua laga. Empat pilar tengah yang dilakoni Kevin de Bruyne, Axel Witsell, Yannick Carascao dan Thomas Meunier tampak superior. Southgate pasti sudah mengantisipasi empat gelandang Belgia terutama Kevin de Bruyne. Jika Henderson mampu meredam De Bruyne, paling tidak pasokan umpan berbahaya untuk bomber Lukaku akan berkurang.

Sementara Young dan Trippier tak boleh lengah akan pergerakan cepat dari sayap yang sering dilakukan Eden Hazard dan Dries Mertens untuk melakukan tusukan memanfaatkan celah yang dibuat oleh Lukaku dengan menarik bek lawan. Lukaku yang telah mencetak empat gol akan berbahaya buat Inggris. Kesalahan sekecil apa pun yang dilakukan Stones atau Walker akan berakibat fatal karena insting gol penyerang Setan Merah ini sangat istimewa.

Sebaliknya, Inggris bukan tidak mungkin bisa meraih keuntungan dari celah yang muncul di lini belakang Belgia. Dua gol Tunisia adalah bukti jika trio Vertonghen, Boyota dan Alderweireld juga bisa kehilangan konsentrasi dan tidak fokus menjaga jantung pertahanan.

JIka Inggris mampu mengatasi Belgia, baru predikat calon juara dunia piala dunia 2018 pantas disandang The Three Lions. Jika skema 3-5-2 ala Southgate terbukti ampuh meredam Belgia, maka apa yang pernah diucapkan Sir Ralf Ramsey 42 tahun silam “we have a system now” bisa diulang oleh Sir Gareth Southgate. 

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga
 
Video: Salam dari Rusia, Jalan-jalan di Krasnaya Ploshad


(ASM)