Jerman Rival Klasik Indonesia

Fitra Iskandar    •    27 Juni 2018 15:33 WIB
piala duniapersijapersib bandungtimnas indonesia analisis piala dunia 2018
Jerman Rival Klasik Indonesia
Suporter timnas Indonesia di AFF Suzuki 2016 di Philippinne Sport Stadium. ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Kata striker Persija Jakarta Bambang Pamungkas laga Persija versus Persib bukanlah ‘laga klasik’.  Generasi zaman old, kemungkinan besar sepakat dengan pernyataan Bambang. Generasi milenial silakan menimbang-nimbang. Ikut kata Bambang atau punya pendapat lain.

Sebelum celotehan Bambang terhadap status rivalitas Persib kontra Persija mengemuka, ada meme yang beredar di Instagram. Saya lupa akun apa yang mengunggahnya, tetapi intinya akun itu menyebut rival klasik Persib bukanlah Persija, melainkan PSMS, sedangkan rival klasik Persija adalah Persebaya.

Secara subjektif, saya sepakat dengan Bepe dan meme itu. Alasannya sederhana. Di era 80-an saya yang masih berusia di bawah 12 tahun, begitu emosional menyaksikan final kompetisi Perserikatan antara PSMS vs Persib dari layar TV. 

Selepas itu, nama klub yang nyantol di memori saya hingga sekarang adalah Persebaya Surabaya, PSM (Ujungpandang), PSMS Medan,Persipura, Perseman Mankowari, dan Persib Bandung. Persija?  Jujur saya tidak mengingat ada laga Persija vs Persib.  Saya hanya ingat nama pemain Persija yang beken pada era itu adalah kakak-beradik  Adityo Darmadi, dan Didik Darmadi.

Nama itu masih tergiang sampai sekarang hanya karena pengalaman ecek-ecek di masa kecil saya di mana pernah satu ketika kakak dari seorang teman memamerkan headline koran Pos Kota. Foto Adityo Darmadi terpampang. Striker Persija itu sedang menimang bola dengan mengangkat kaki setinggi pinggang.  Besoknya, saya bermain bola dengan teman-teman dan mengaku sebagai Adityo Darmadi. Padahal biasanya berpura-pura jadi Ajat Sudrajat (striker Persib era 80'an).

Hanya karena pengalaman-pengalaman yang amat personal itu, saya beranggapan  rivalitas Persib-Persija memang tidak bisa dibilang klasik. Tentu bila ukurannya adalah momen dan peristiwa kunci yang paling lawas yang pernah dialami.

Klasik Ala PlayStation

Saya lebih berselera menyebut rivalitas klasik dibandingkan dengan memakai istilah laga klasik untuk menyebut persaingan antara dua tim yang legendaris. Karena  ‘laga’ itu adalah  peristiwa. Yang disebut klasik tentulah peristiwa yang ada atau terjadi tempo dulu, bukan waktu dekat-dekat ini, apalagi yang akan datang.

Tetapi kita memang terbiasa mengandalkan makna wacana dalam komunikasi baik verbal maupun tulisan. Asumsinya, orang sudah tahu yang dimaksud ‘laga klasik’ bukan laga yang sudah terjadi pada waktu yang lalu, melainkan perseteruannya yang klasik.  Sementara, orang bule lebih taat aturan. Mereka menyebut ‘classic rivalry’, bukan ‘classic match’.

Kalau suka main PlayStation PES 2018, ada fitur untuk bernostalgia memainkan pemain top lawas. Namanya Classic Teams. Hanya ada dua tim yang bisa dipilih. European Classics atau World Classics.

Dua tim itu dihuni pemain-pemain seperti Roberto Bagio, Gabriel Batistuta,Roberto Carlos, Ronaldo (Brasil), Ariel Ortega, Andriy Shevchenko, David Beckham.  Para pemain yang bisa dimainkan  hampir seluruhnya aktif di timnas pada awal 2000. Itulah classic teams  ala PES 2018. Meski generasi Pele, Maradona, Eusebio, Johan Cryuff  lebih lawas, PES 2018 enggak memasukan sosok generasi itu.  

Kembali lagi, bagi sebagian yang karena usia, baru melek sepakbola di awal tahun 2000, mungkin lebih senang menyebut rivalitas klasik dengan mengait-ngaitkan segala memori yang terekam di masa awal perkenalan dengan sepakbola sesuai pengalaman langsungnya. Begitu,  perseteruan seru Persija vs Persib di era 2000’an lah yang relevan disebut rivalitas klasik.



Rivalitas Klasik Bukan Seperti Pasangan Seumur Hidup

Rivalitas klasik juga tidak seperti simpul mati yang tidak bisa bergeser dan berganti. Tidak tunggal, bisa dengan dua atau lebih tim lain.  

Inggris vs Skotlandia, misalnya disebut rival klasik, karena kedua tim sudah saling jegal sejak 1872.  Hingga 1989  kedua tim kerap bentrok, sebagian besar, di turnamen British Home Championship, turnamen internasional tertua di dunia yang diikuti Wales, Skotlandia, Irlandia Utara dan Inggris. Namun karena turnamen tahunan itu tidak lagi digelar sejak 1984, kenangan publik pun bergeser ke  memorable moments lain. Rivalitas Inggris vs Skotlandia seolah kurang relevan lagi dilabeli dengan cap ‘klasik’.

Kini orang lebih familiar dengan Argentina atau Jerman sebagai musuh klasik Inggris. Dua negara itu kerap bertemu dengan Inggris dalam laga yang penuh drama mengeksploitasi sisi emosional pemain, pendukung, dan penikmat sepakbola.

Pada tingkat turnamen internasional, Jika dibatasi hanya dalam rentang waktu 1980 ke sini, rivalitas Argentina dengan Jerman juga layak disebut rivalitas klasik. Dalam kurun hampir  40 tahun, kedua tim ini yang paling sering berjumpa di pertarungan kunci. Final Piala Dunia. 1986, 1990, 2014.

Dalam kurun 1980—2018, tak ada tim lain yang dua kali bentrok di final Piala Dunia dengan lawan yang sama, kecuali dua tim tadi. Di luar rentang waktu itu, ada pertemuan Italia dan Brasil yang terjadi sebanyak dua kali di final yaitu pada 1970 dan 1994.

Bagi saya tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan perseteruan mana yang layak disebut rivalitas klasik. Masing-masing generasi punya kesan atas sebuah peristiwa. Ini yang mempengaruhi imej  yang berkembang dan dibangun publik memaknai sebuah perseteruan, yang kemudian diamini dan diamplifikasi media sebagai ‘rivalitas klasik’.    

Derajat Pertandingan 

Saat era 80’an, generasi pendukung yang menyaksikan laga Persib vs PSMS mungkin masih ingat betul dahsyatnya suasana yang menyelimuti duel kedua tim. Penonton di Stadion Utama Senayan (GBK) sampai meluber ke pinggir lapangan. Menurut catatan Harian Kompas, stadion dipenuhi sekitar 150 ribu suporter. Sebuah duel yang legendaris.  Momen seperti inilah membuat pertemuan selanjutnya kedua tim selalu membetot perhatian publik. Pada era itu.

Tetapi bagi generasi sesudahnya, generasi yang tumbuh dalam sistem kompetisi yang sudah berubah di mana berbagai persaingan baru muncul, maka momen perseteruan sengit tim di era itu hanya sekadar fakta di kliping koran.  Fakta yang tidak membangkitkan gairah yang meletup-letup. Gairah yang biasa saja. Bahkan mungkin pendukung Persib yang dulu menyaksikan inal 1985 juga kini lebih antusias melihat Persib menghadapi Persija ketimbang menghadapi PSMS.

Laga yang memicu adrenalin paling kuat dibandingkan dengan laga (dengan tim) lain, itulah yang rasanya lebih pas disebut laga antara tim yang memiliki rivalitas klasik. Kalau adrenalin istimewa itu tidak muncul, laga itu berarti biasa saja. Tidak perlu dilabeli macam-macam.

Dalam sepakbola ada dua predikat yang menunjukkan derajat tinggi-rendahnya intensitas laga. Laga ‘derbi’, dan laga ‘rival klasik’. Derbi biasanya hanya berlatar faktor gengsi sebagai ‘tetangga’. ‘Laga rival klasik’ karena rivalitas di dalam atau di luar lapangan. 


Pesepak bola Persija Rodrigo Antonio (kedua kiri) dan pesepak bola Persib Bandung Marcos Abel (ketiga kanan) berebut bola dalam ajang lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah. Pertandingan berakhir imbang 0-0. ANTARA FOTO/Maulana Surya/kye/16.

Publik Inggris saat ini misalnya, tentu akan lebih dag-dig-dug ketika The Three Lions akan berduel dengan Argentina atau Jerman, ketimbang jika menghadapi Skotlandia. Atmosfirnya, pasti berbeda. Bagi Inggris menang dari Skotlandia bukanlah hal istimewa lagi karena Skotlandia  tidak punya reputasi mentereng di Eropa apalagi Dunia.

Beda dengan Barcelona dan Real Madrid. Perjumpaan kedua tim sampai saat ini masih dibubuhi status el clasico. Perseteruan kedua tim punya sejarah panjang, dan di masa kekinian, perseteruan kedua raksasa Spanyol itu masih berlanjut dan selalu berjalan dengan tensi tinggi. Kedua tim sama-sama kompetitif.

Jangan salah sangka. Bukan maksudnya saat ini Persebaya atau PSMS adalah tim lemah. Kedua tim itu di pentas Liga1 kali ini cukup menjanjikan. Persoalannya, rivalitas klasik memang sudah bergeser karena dalam kurun waktu 20 tahun ke belakang tidak ada momen krusial yang mengipas bara rivalitas Persija vs Persebaya atau Persib vs PSMS. Yang berkembang adalah rivalitas Persija vs Persib, Persebaya vs Arema. Meski faktornya lebih banyak dipengaruhi dari luar lapangan.
 
Bagi penikmat sepakbola, atau suporter, laga-laga yang menyandang predikat ‘pertemuan rival klasik’, adalah bumbu yang membuat nafsu menikmati sepakbola lebih membuncah.  Kembali lagi, siapa pun punya definisi sendiri untuk menyebut sebuah laga sebagai ‘laga klasik’.  Bebas saja.

Hanya saja, sepakbola itu soal gairah dan emosi. Tanpa keduanya, olahraga ini tidak lebih dari pertunjukan 22 orang berlari-lari merebutkan satu bola. Persaingan memang perlu dikemas, dilabeli dengan sebutan apa pun yang bisa menaikan nilai jual sebuah pertandingan.

Sayangnya, di Piala Dunia kali ini, kemungkinan terjadinya pertemuan rival klasik semakin sedikit karena Italia dan Belanda tidak ikut serta. Saya khawatir di ujung turnamen, Piala Dunia kali ini kurang menggigit karena yang berlaga di final adalah tim kejutan.

Salah satu fakta yang menonjol dari laga-laga di babak grup Piala Dunia adalah sulitnya tim yang punya nama besar meraih kemenangan dari tim seperti Iran, Maroko, Islandia, Arab Saudi. Ini fakta positif yang menjanjikan perubahan peta kekuatan sepakbola dunia pada generasi selanjutnya.

Di masa depan, berharap saja Piala Dunia tidak lagi menampilkan tim yang itu-itu saja. Indonesia pun bisa muncul menggoreskan sejarahnya sendiri di pentas sepakbola dunia. Nanti, rival klasik Indonesia adalah Jerman. Namanya juga mimpi ;-p




(FIT)


Video /