Kejujuran Antonio Conte

Gregah Nurikhsani Estuning    •    29 Januari 2018 13:13 WIB
antonio contechelsea
Kejujuran Antonio Conte
Antonio Conte. (Foto: AFP PHOTO / Glyn KIRK)

London: Antonio Conte mungkin bukan pribadi yang suka berada di 'zona nyaman'. Stigma orang Italia yang lekat dengan ekspresi spontan tergambar dari dirinya. Ia kalem di luar lapangan, namun meledak-ledak ketika sudah berada di pinggir lapangan. Mantan pelatih Juventus itu mengaku tidak diplomatis dan lebih memilih kejujuran di atas segalanya, sekalipun hal tersebut bisa membuatnya dipecat dari kursi kepelatihan Chelsea.

Seperti yang sudah-sudah, prestasi gemilang manajer The Blues tak lantas membuat posisi eksklusif di kursi tertinggi kepelatihan bisa begitu saja kuat menyangga tekanan. Ambil contoh Roberto Di Mateo, pria yang sukses memberikan gelar Liga Champions perdana sepanjang sejarah untuk The Roman Emperor. Lalu ada Rafael Benitez yang berhasil membawa Frank Lampard dan kawan-kawan mengangkat trofi Liga Europa. Keduanya tetap saja ditendang ketika performa tim besutannya kembang-kempis.

Posisi Conte bisa saja senasib dengan dua pelatih tersebut -- juga jangan lupakan Carlo Ancelotti. Sanggup menyuguhkan gelar juara Liga Primer Inggris di musim pertamanya melatih Chelsea bukan jaminan dirinya bakal aman. Tampaknya, menjadi manajer The Blues bukan sekadar me-manage 11 pemain di atas lapangan, lebih dari itu, harus bisa diplomatis dan menjaga 'profesionalitas dalam berbicara di publik'.
 

"Saya bukan manusia diplomatis," ujar Conte jelang laga kontra Newcastle United di Piala FA.


Klik: Cedera Pergelangan Kaki, Leroy Sane Diprediksi Absen Sebulan

Roman Abramovich, orang nomor satu di tim London Barat, di sisi lain, sebetulnya tidak mengenal kompromi. Ia tak ragu mendepak seorang manajer jika menurutnya tidak memenuhi ekspektasi. Namun, pengaruhnya tidak bisa dikesampingkan. Investasi finansial yang ia suntikkan hingga membentuk Chelsea seperti sekarang adalah bentuk keseriusannya dalam 'berbisnis'.

Umumnya, orang yang berhak menentukan mana pemain yang ingin dibeli atau dijual adalah pelatih/manajer, meski tidak jarang ada campur tangan pemilik klub sebagai sosok paling vital dalam bergeraknya roda finansial. Sebagian pelatih oke-oke saja jika ada intervensi, namun Conte tidak menyukainya. Ia bahkan blak-blakan mengatakan jika ia kecewa dengan kebijakan transfer Abramovich, terutama di musim dingin ini.

Gosip yang beredar, klub tidak kooperatif dalam menyediakan dana dan mendengarkan apa kemauan Conte. Nyatanya, Chelsea memang kurang gereget dibanding Manchester United, Liverpool, bahkan Arsenal yang performanya dari tahun ke tahun tidak membaik.

"Di saat bersamaan, saya merasa saya adalah pria yang jujur. Orang jujur selalu berkata dengan jelas di tiap momen. Jika Anda palsu, Anda akan selalu mengatakan ketidakbenaran. Saya memilih jujur, mengatakan kenyataan, dan saya benci orang yang palsu," sambungnya mengomentari pertanyaan pewarta perihal sikap blak-blakannya terhadap kebijakan transfer Chelsea.

"Ini pertanyaan bagus, sudah terjawab kan? Saya tidak menyesal, karena ketika saya menentukan sikap, saya tidak ingin melihat ke belakang. Saya selalu melihat ke depan, apapun yang terjadi, setidaknya saya lega karena telah mengatakan yang sebenarnya," katanya lagi.

Video: E-Sport Semakin Berkembang di Tanah Air
 


(RIZ)


Adam Lallana tak Dendam kepada Southgate
Timnas Inggris

Adam Lallana tak Dendam kepada Southgate

3 weeks Ago

Adam Lallana merasa Gareth Southgate sudah melakukan keputusan tepat dengan tidak memanggilnya …

BERITA LAINNYA
Video /