Wissam Ben Yedder, dari Lapangan Futsal Mengguncang Liga Champions

Gregah Nurikhsani Estuning    •    03 April 2018 22:25 WIB
semifinal liga champions
Wissam Ben Yedder, dari Lapangan Futsal Mengguncang Liga Champions
Wissam Ben Yedder. (Foto: AFP PHOTO / CRISTINA QUICLER)

Jakarta: Wissam Ben Yedder belakangan menjadi buah bibir berkat performa impresifnya bersama Sevilla. Tidak banyak yang tahu jika penyerang berdarah Tunisia itu memulai kariernya dari arena futsal.

Salah satu momen terbaik Ben Yedder terjadi kala berhasil melesakkan dua gol ke gawang Manchester United di babak 16 besar Liga Champions. Seketika namanya langsung diperhitungkan di Benua Biru.

Tony Esteves, mantan Manajer Umum tim futsal Garges Djibson mengomentari gol pertama Ben Yedder ke gawang David De Gea. Ia menyebut gol itu adalah 'rutinitas' si pemain sejak masih berkarier di futsal.

"Gol pertama ke gawang Manchester United ciri khas pemain futsal; satu sentuhan untuk mengontrol, cari posisi, tembak, dan gol. Seringkali Ben Yedder menggunakan teknik futsal di lapangan," ujar Esteves dinukil dari Bleacher Report.

"Saat Romario berada di area penalti, dia tidak banyak bergerak, dua atau tiga meter saja, menjadi wilayahnya untuk membunuh. Dulu kami sering memanggilnya (Ben Yedder) Romario. Dia tak pernah bosan mencetak gol. Seperti senjata rifle: bam-bam-bam!" sambungnya.

Musim ini, Sevilla dibawanya melaju hingga babak perempat final Liga Champions. Berikut ini Medcom merangkum kisah Ben Yedder dari awal mula kariernya hingga pelajaran yang bisa dipetik.

Nafas Futsal Ben Yedder

Wissam Ben Yedder telah bermain di Stadion-Staion keramat macam Old Trafford, Anfield, Camp Nou, dan Santiago Bernabeu. Namun, pelajaran sepak bola pertama yang ia dapat bukan dari rumput hijau, melainkan dari arena futsal pinggiran kota sebelah utara Paris.

Gymnase Allende Neruda di Garges-les-Gonesse, sekitar 12km dari pusat kota Paris adalah tempat pertamanya menjajal futsal. Saat itu usianya masih belia, tapi kemampuannya mengolah bola di lapangan indoor sudah mumpuni; sentuhan pertama, teknik menggiring bola, sampai dengan finishing mematikan.

Ben Yedder pernah mengalami musibah. Ketika sudah bergabung dengan Garges Djibson, ia mengalami cedera di kaki kanannya, padahal ia bukan pemain kidal.

Alih-alih beristirahat agar pemulihan cedera maksimal, ia malah memaksa membiasakan diri memaksimalkan kemampuan kaki kirinya. Hasilnya kini terlihat, ia bisa menggunakan kedua kaki dengan sama baiknya.

"Waktu itu dia masih belum sembuh benar. Dia awalnya cuma menonton pertandingan, mungkin kakinya sudah gatal, ia lalu meminta dimainkan. Kami kabulkan, tak lama ia sudah mencetak empat gol," sambung Esteves.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan Ben Yedder membawanya dipanggil skuat futsal Prancis U-21. Ia hampir apes dan tak pernah sama sekali membela skuat senior, dan menariknya, dari sinilah kewarganegaraan Prancis ia dapatkan.

Saat itu, Ben Yedder hendak diterbangkan ke Chile melalui bandara Charles de Gaulle Airport, Paris. Tiba-tiba seluruh pelatih dan manajemen tim bingung dan panik karena paspor yang Ben Yedder bawa adalah Tunisia, bukan Prancis.

Esteves sampai harus berbicara kepada pemerintah Paris untuk memberikan garansi. Sehari berselang, Ben Yedder diberangkatkan lewat bandara yang sama setelah mendapatkan paspor Prancis baru.

Awal Mula Hijrah ke Sepak Bola

Ben Yedder mengoleksi enam penampilan untuk timnas futsal Prancis. Namun di saat bersamaan, ia aktif juga bermain di klub sepak bola amatir US Saint-Denis.

Tahun 2009, ia pindah ke Alfortville, kepindahan yang sekaligus memantapkan langkahnya ke rumput hijau. Ben Yedder sempat berkompetisi di Divisi 4 Championnat de France Amateur, sebuah kompetisi divisi 4 (terbawah) di liga amatir Prancis.

Kendati begitu, hal tersebut tak menutup dirinya untuk melenggang ke arena yang lebih kompeten. Michel Moulin, mantan penasihat di Paris Saint-Germain melihatnya bermain dan langsung jatuh cinta kepada Ben Yedder.

"Saya diberi tahu ada pemain muda fenomenal. Kami memberikan dia trial, dan baru 15 menit, saya bilang, 'Kalian membawakan saya Maradona'," ujar Moulin dilansir dari RMC Sport sekitar setahun lalu.

Moulin nyaris putus asa karena niatnya mengorbitkan Ben Yedder tidak mulus. Kala itu, Ben Yedder yang masih berposisi sebagai gelandang serang batal bergabung dengan Lille, bekas klub Eden Hazard. Tapi, keberuntungan menghampiri keduanya.

Suatu hari, Moulin melakukan kontak via telpon dengan presiden Toulouse, Olivier Sadran. Ben Yedder yang masih berusia 19 tahun pun hijrah ke Barat Daya Prancis dan resmi berkarier di Ligue 1.

Ben Yedder tak lantas bergabung ke skuat utama. Tahun 2010 ia harus merangkak dari Toulouse B, tapi tetap mendapatkan beberapa kali kesempatan bermain di level senior. Selama enam tahun, ia mencetak 63 gol dari 156 penampilan, sebuah catatan apik yang mengantarnya menuju Sevilla.

Hidup untuk Sepak Bola

'Bangun tidur langsung main bola'. Mungkin ungkapan itu sedikit berlebihan. Tetapi, hampir seperti itulah kecintaan Ben Yedder terhadap si kulit bundar. Itu sudah terlihat sejak usianya masih sangat belia.

"Kadang jam 8 pagi saat libur sekolah, Ben Yedder pasti membangunkan saya. Dia minta agar saya mau menemaninya bermain sepak bola," ujar Daniel Mendy, salah satu sahabat karib Ben Yedder dikutip dari So Foot.

"Dia tidak kenal waktu dan cuaca. Saat hujan, panas, salju, dia tak pernah berhenti. Saya ingat suatu hari, saya bangun pagi buta, sengaja saya ingin lebih dulu sampai di lapangan sekolah untuk bermain sepak bola. Sesampainya, Ben Yedder ternyata sudah ada di sana," sambungnya.

Video: Perkiraan Formasi Juventus vs Real Madrid
 


(ACF)


Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid
Lionel Messi

Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid

1 week Ago

Kapten timnas Argentina itu tak memedulikan berapa pun hasil yang diraih Madrid dalam menghadap…

BERITA LAINNYA
Video /