Opini Piala Dunia 2018

Adu Otak Modric vs Golovin

Arpan Rahman    •    07 Juli 2018 21:28 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Adu Otak Modric vs Golovin
Luka Modric saat mengeksekusi tendangan penalti melawan Denmark di babak 16 besar Piala Dunia 2018 (Foto: Google Image)

FISHT Stadium di Sochi sudah siap memanggungkan pertandingan 8 Besar antara Rusia versus Kroasia. Matahari bersinar, perkiraan cuaca 27 derajat celsius. Setiap musim panas, warga negeri ini riang menyambut Malam Putih, di mana suasana terang-benderang sepanjang hari.   

Tim Vatreni akan menantang tuan rumah, Minggu dini hari 8 Juli 2018. Pemain Kroasia menganggap diri mereka 'kuda hitam' di Piala Dunia 2018. Rusia, kalau begitu, boleh jadi dianggap 'kuda putih'.

Langkah mantap diayun skuat asuhan Stanislav Cherchesov sejak dari penyisihan. Mereka hanya kalah sekali, 0-3 dari Uruguay di grup A, di saat harus menimbang: apakah mau melawan Spanyol atau Portugal di babak selanjutnya. Mereka menghadapi Spanyol, dan melibas Tim Matador lewat adu penalti.

Golovin Lincah
Ketergantungan besar kepada Aleksandr Golovin sangat mencolok di tim Rusia. Dari bidang lapangan tengah, bila gelandang nomor 17 itu dibiarkan leluasa mengolah bola, lawan akan mengalami banyak kesulitan.

Gayanya kebetulan sedikit mirip pengatur serangan Kroasia, Luka Modric. Cuma Golovin lebih lembut, tampaknya tidak suka kalau bertemu tipe pemain keras.
 

Baca: Peran Psikolog di Balik Kesuksesan Inggris dan Swedia


Ia mengandalkan giringan, umpan silang, tapi kurang cepat dalam lari jarak pendek. Tipuan andalannya 'main sepeda di tempat' (pedalada) kalau mendapat ruang yang agak luang. Seandainya Golovin terkunci, permainan Rusia pasti terhambat. 

Beban Modric 
Di tim 'kuda hitam', kapten kesebelasan Modric menanggung beban kelewat besar. Mentalnya jelas terpengaruh akibat luputnya wasit memberi kartu merah bek Denmark, yang menahan peluang gol Ante Rebic di menit 115 pada 16 Besar lalu.

Sang gelandang hanya berkata: "Sangat panas hawanya, dan begitu sulit untuk berlari. Rasanya berat juga bagi saya gagal penalti karena saya telah pelajari sepanjang pagi bagaimana mencetak gol melawan Schmeichel," usai laga di situs resmi FIFA.

Secara diplomatis, dia menutupi fakta bahwa wasit keliru dua kali. Selain hanya menghadiahi Jorgensen kartu kuning, tampak jelas: kiper Denmark sudah bergerak duluan keluar dari garis gawangnya sebelum bola penalti ditendang. Seharusnya sang pengadil lebih jeli, hukuman itu harus diulang.   

Rusia bukan tim mapan di turnamen tahun ini. Namun kesebelasan mereka adalah tuan rumahnya. Momen-momen kecil keberuntungan yang berpotensi jadi faktor "x" dalam kedisiplinan sepak bola semestinya bisa dimanfaatkan Tim Beruang Merah. 

Perhatikanlah laga Uruguay versus Prancis yang disiarkan malam tadi. Baru menit ke-4, kala lagi asyik menyerang, seorang penyerang Uruguay sedikit dilanggar gelandang Prancis. Bola saat itu tetap dikuasai Suarez cs. 
 

Baca juga: Rakitic: Menyakitkan Lihat Iniesta Dicadangkan Lawan Rusia


Beberapa rekannya sedang bergerak membuka ruang, berlari tanpa bola, muncul dan menyusup ke dalam daerah pertahanan lawan. Tiba-tiba peluit berbunyi tanda pelanggaran. Padahal pemain yang dilanggar tidak terjatuh dan 'bola jalan' masih di kaki Uruguay.

Bukan hendak berkata bahwa wasit lebih condong berpihak kepada Prancis. Tapi 'gangguan kecil' di momen tersebut dapat berpengaruh besar terhadap mental pemain selama sisa pertandingan. Ada yang malah kuat menahan intimidasi penonton.

Namun, tetap ada pemain yang kemudian grogi, sehingga bisa disaksikan akibatnya melakukan blunder macam kiper Uruguay, Fernando Muslera, yang gagal menangkap tendangan dan menyundul gol bunuh diri seperti gelandang Brasil, Fernandiho, dalam pertandingan mereka, kemarin.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Intip Sibur Arena Stadion Tercantik di Rusia, #SalamdariRusia




(ACF)


Video /