Opini Piala Dunia 2018

Jagoan 007 Kesatria Abad Milenial

Arpan Rahman    •    03 Juli 2018 10:39 WIB
analisis piala dunia 2018
Jagoan 007 Kesatria Abad Milenial
Timnas Inggris. (Foto: Standard)

LAMBAIAN kaki kiper Igor Akinfeev memantulkan tendangan penalti Iago Aspas keluar lapangan, skor akhir Rusia 4-3 Spanyol, tuan rumah melaju ke 16 Besar. Stadion meledak dalam teriak ribuan penonton. Komentator televisi yang bergairah mencetuskan euforia: "Dan seluruh negeri ini akan berdansa semalam suntuk!"

Sementara yang diam-diam sudah 'gatal' memakai jas-tuksedo buat tampil di lantai dansa adalah Inggris. Harry Kane dkk tak mau gagal dua kali di Piala Dunia ini. Setelah kalah dari Rusia dalam penawaran tuan rumah, mereka ingin jadi tim yang tertawa paling akhir. 

Pascakegagalan Inggris menjadi penyelenggara, berhembus isu soal suap  'politik uang' di lingkaran dalam FIFA. Padahal FIFA bukan mengadakan Pilkada. Sialnya, PBB tidak mendirikan KPU yang independen untuk FIFA juga. 

"Komputer telah diretas dalam tawaran Inggris yang gagal untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018," kata mantan ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris Lord Triesman, seperti dilansir BBC, 23 Mei 2018. Apa benar peretas Rusia yang kurang kerjaan setelah membajak pemilihan presiden Amerika alih profesi mencurangi seluruh pemilihan di muka bumi?  

Tapi kejengkelan sesinis itu tersisihkan sebulan kemudian bagai 'panas setahun terhapus hujan bulan Juni sehari-semalam sampai pagi'. Dunia terang terbuka, mata-mata melek begadang di Indonesia: Piala Dunia tidak batal jadi. 

Sebulan penuh tanpa terasa kita menjelma zombie di Zamrud Khatulistiwa: kantung mata bengkak akibat empat jam sehari melotot ke televisi (tiga jam untuk dua kali pertandingan plus satu jam menyimak komentator). Tapi, camkanlah wahai manusia, hiburan murah meriah ini cuma muncul empat tahun sekali!

Skuat Gareth Southgate datang ke Negeri Tirai Besi dengan harum semerbak penuh cinta. Ke-23 pemainnya diduga sejak dari rumah masing-masing sudah berlagak jagoan. Mereka muncul begitu gagah seperti Agen 007 membawa misi memerangi organisasi kejahatan rahasia SPECTER sesuai plot film James Bond (1963) berjudul From Russia with Love.

Baca: Ejekan Neymar untuk Meksiko


Biasa jagoan selalu kalah lebih dulu. Akhirnya pasti menang melulu.

Tanda-tanda manis Inggris -- yang terbersit dalam logika -- berupa grup lunak dan jadwal paling ujung pada fase penyisihan: di grup G dan main terakhir lawan Belgia pada 28 Juni 2018 di Kaliningrad Stadium. Tetap yang perlu digarisbawahi: di 16 Besar kali ini pun mereka bertanding terakhir! Dan semua olahragawan sejati tahu pasti bahwa final pun adalah pertandingan terakhir....

Kalah dalam pemilihan tuan rumah bukan akhir segalanya. Di atas lapangan, awal yang buruk bisa berubah baik semua. Kuncinya, satu, gol bola merah.

Kembali ke grup G. Sebelum 'permainan' antara Belgia (ibukotanya markas Uni Eropa) lawan Inggris (yang memutuskan Brexit dari organ kontinental itu), 14 pot di 16 Besar sudah terisi. Kedua negara ini wajar berhitung yang pasti-pasti saja demi 'memilih' lawan. Apa terjadi tawar-menawar? Itu yang tidak diketahui.    

Akrobat lapangan hijau yang mencerahkan mata dan memacu adrenalin bergolak seakan-akan hanya formalitas. Mungkin karena kubu Three Lions sudah membuat kalkulasi. Inggris kalah 0-1 dari Belgia. 

Pasalnya, 'neraka' di sebelah sana telah tersurat mengerikan seramnya dan amat menciutkan nyali bagi siapapun pesepak bola yang waras: Brasil, Prancis, Argentina, dan Uruguay. 

Sedangkan di seperdelapan belahan lain Negeri Beruang Merah, janji 'surga' lebih permai: Spanyol dengan performa gelandang bertahan yang kembali minus (saran: Tim Matador perlu lagi menaturalisasi pemain Brasil seperti Marcos Senna). Rusia yang agak angin-anginan (kesimpulan: hanya kuat oleh pola bertahan dan fanatiknya penonton). Hanya satu bahaya laten -- bukan partai warisan Stalin -- yakni Kroasia, yang terbukti bisa mengatasi sesama tim 'keras' kemarin.

"Mungkin ini pertanda baik bagi Inggris bahwa pertemuan Putaran 16 dengan Kolombia akan menjadi pertandingan Piala Dunia FIFA ke-66 yang mereka perjuangkan... dan tidak ada penggemar Inggris yang perlu diingatkan tentang apa arti angka 66 (atau tepatnya 1966) untuk Tiga Singa...," kata Laure James pada pukul 19:58 waktu lokal di dekat Kremlin, Senin 2 Juli 2018, dalam situs resmi FIFA.

Baca: Fakta Menarik di Balik Comeback Belgia atas Jepang


Apa maksud si Laure ini? Mengingat apa penggemar Inggris? Mengapa tidak perlu diingatkan? Bagaimana bisa dilupakan? Apa artinya 66?

Terpaksa googling kita, baru diketahui, tahun 1966 dulu, negeri yang memiliki sebentuk mukjizat yang indah bernama Kate Middleton ini bersorak mesra memeluk trofi Jules Rimet yang cantik keemas-emasan. Orang Brit sebangsa-setanah air memendam harapan itu selama 52 tahun walau trofinya sudah berubah, kadar karat emasnya juga.... 

Kesatria abad milenial, dikenal sebagai kesebelasan sportif sedunia, mungkin saja masih ada yang bertalian darah sebagai cucu-cicit-buyut generasi kesebelas dari silsilah William Sang Penakluk. Di depan mata Inggris kini sekadar berkibar bendera kuning-biru-merah dari Amerika Latin yang harus mereka turunkan. 

Di mana karakter Radamel Falcao, James Rodriguez, dan Juan Cuadrado nan lemah-lembut sama priyayinya dengan Rahim Sterling, James Vardy, dan John Stone. Kalau bentrok fisik terlalu kasar atau mencelakai, mereka akan bermaafan-maafan secara jantan layaknya 'English Gentleman' abad pertengahan. Kemudian kembali menjalin silaturahmi di klub jika ketemu lagi.

Inggris memilih Kolombia (di Encyclopedia Britannica: 'Colombia') pasti banyak alasan. Salah satunya apa bukan karena nama resmi negara itu berasal dari 'Colombo', yang diutus Raja Spanyol buat mencari Dunia Baru? Nah, ada hubungannya dengan Spanyol lagi, alangkah sedihnya!

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Suguhan Kuliner dan Belanja Oleh-oleh di Jalan Arbat, #SalamdariRusia


(ASM)