Opini Piala Dunia 2018

Mengaji Tasawuf di Piala Dunia

Sobih AW Adnan    •    01 Juli 2018 03:59 WIB
piala dunia 2018analisis piala dunia 2018
Mengaji Tasawuf di Piala Dunia
Mesut Oezil dan Mats Hummels harus menerima kenyataan pahit Jerman sebagai juara bertahan harus tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018 usai ditumbangkan Korsel 0-2 (Foto: AFP-Benjamin Cremel)

TAK ADA reaksi dan protes kebablasan dari para pemain Jerman. Padahal, gol Kim Young-gwon untuk Korea Selatan itu sebelumnya dihukumi batal karena dinilai offside. Atau jangan-jangan, prasyarat mengikuti Piala Dunia memang harus punya dada seluas lapangan. Tak gampang baper, berpikir realistis, taat aturan, dan tidak latah mencari kambing hitam.

Satu kasus Jerman yang tetap tenang kala melenggang pulang, patut menjadi permenungan. Terlebih, bagi masyarakat Indonesia, yang konon dikenal sebagai umat relijius, ramah, baik hati, suka menolong, dan rajin menabung.

Islam, punya kajian khusus soal ini. Di dunia pesantren, penjabarannya amat panjang dan mendalam melalui pembelajaran tasawuf.
 

Baca: Hegemoni Eropa dan Amerika Latin


Mengait-pautkan agama dan Piala Dunia 2018 juga bukan hal yang kejauhan. Anggap saja, tulisan ini masih dalam rangka menyambut Lebaran yang baru berlalu dua pekan, apalagi tuan rumah Rusia yang nyatanya menempatkan Islam sebagai agama dengan penganut terbanyak kedua.

Sufisme di Rusia
Ihwal tasawuf, Rusia punya catatan menarik. Sebab, di negeri beruang putih ini aliran Naqsabandi dan Shazili memiliki jumlah pengikut cukup besar dan menjadi kiblat bagi masyarakat tarekat di daratan Eropa. 

Tarekat, sering diartikan persaudaraan sufi, pelaku tasawuf. Sebuah organisasi sufi biasanya memiliki anggota, sejumlah peraturan, serta pusat kegiatan yang mengacu pada kehadiran seorang guru alias mursyid. Di dunia Islam, gerakan ini mulai berkembang pesat pada abad ke-12.

Memasuki abad 19, kalangan tarekat tak jarang berhadapan dengan tekanan militer, politik, budaya, serta hasrat kekuasaan elite Barat. Hal inilah, yang pada akhirnya menyumbang politisasi dan radikalisasi para pelaku tasawuf.

Dalam sejarah Islam di Rusia, dikenal nama Syekh Mansyur Usyurma. Pemimpin tarekat ini memimpin langsung perlawanan terhadap kolonialisme dari Daghestan Utara dan Chechnya pada 1782-1790. Meski pada akhirnya ia tertangkap, namun gerakan mereka turun temurun berlangsung hingga abad 20 seiring Uni Soviet dan tentara merahnya bubar.

Menjadi Rusia, bukan sekadar berubah nama. Pemerintah setempat sedikit demi sedikit mulai membuktikan semangat menjamin kebebasan beragama bagi penduduknya. Islam berkembang pesat. Sementara kalangan tarekat, kembali ke barak. Sebagaimana muasalnya, mereka kembali mensyiarkan agama sebagai jalan tengah. Islam diterjemahkan sebagai agama sarat akhlak, agama perdamaian.

Peran kaum tarekat Rusia, sedikit banyak menyumbang keleluasaan muslim yang sebagian besar penganut Sunni mazhab Syafii dan Hanafi untuk menjalankan ibadahnya. Tengok saja, sedikitnya 9.000 masjid kini bisa dijumpai di banyak sudut kota tuan rumah Piala Dunia.

Sportivitas raja
Ada dua prinsip penting yang diajarkan dalam tasawuf, yakni, khauf dan raja. Khauf, rasa takut kepada Tuhan, sementara raja, sebuah pengharapan mencapai keridaanNya.

Lantas, apa hubungannya dengan Piala Dunia?

Pertama, tasawuf, sejatinya bukan fan yang cuma layak diterapkan dalam urusan-urusan ketuhanan. Dalam Silatullah bi al Kaun fi at Tassawuf al Falsafy (1994), KH Said Aqil Siroj mendefinisikan tasawuf sebagai sesuatu yang bersifat universal.

Kiai Said, mengutip pendapat sufi besar Mesir-Sudan Syekh Abul Wafa at Taftazani menulis, tasawuf merupakan fenomena yang terjadi dan didapati di seluruh agama dan peradaban di sepanjang sejarah manusia. Di dalamnya, ada yang dinamakan wijdad, kondisi spiritual yang bersifat emosional.

Cukup terang, kaca mata tasawuf, halal-halal saja dipakai untuk membaca hal ihwal yang terdapat dalam Piala Dunia.

Kedua, masih dalam disertasi yang ditulisnya itu, Kiai Said menegaskan, tasawuf sering dianggap membingungkan karena di dalamnya menyimpan khazanah yang tidak sederhana. 
 

"Ada banyak ucapan, ungkapan, pendapat, yang berbeda-beda. Ada pula sudut pandang, komentar, dan analisa yang beragam dari para tokoh besar. Maka, mengkaji tasawuf butuh kecerdasan tersendiri."


Kecerdasan yang dimaksud, sudah barang tentu diperlukan pula bagi para pelakunya. Tasawuf, diibaratkan sebagai ruang dengan level dengan kadar pencapaian tersendiri dalam beragama.

Dalam tasawuf, karib dijumpai maqam atau tingkatan. Ada seleksi serius, seketat Piala Dunia yang tak sembarang mengikut-sertakan semua negara.

Ketiga, sportivitas, sesuatu yang kerap tampil membanggakan dalam kancah pertandingan sepak bola antarnegara itu, pembentuk utamanya justru berada jauh di dalam lubuk hati. Dan tasawuf, mengambil konsentrasi penempaan itu secara mendetail dan saksama.

Salah satunya, raja, yang banyak ulama sufi berpendapat memiliki guna untuk mengantarkan manusia agar mampu hidup secara realistis. 

Dalam definisinya, raja adalah ma qaranahu amalun wa illa fa amniyyah. Raja, bermakna harapan yang disertai dengan usaha yang sebanding. Jika melebihi itu, cuma disebut tamanni, angan-angan, yang sekadar menjadikan manusia berimajinasi tanpa dilandasi ikhtiar dan kemampuan yang setimpal.
 

Baca juga: Menu Maknyus Penjaga Performa


Keempat, tasawuf mengajarkan manusia menghargai takdir, menerima kenyataan. Dalam kitab babon tasawuf, Al Hikam, Ibn Athaìllah as Sakandari mengatakan;
 

"Man dzanna infikaka luthfihi 'an qadari fadzalika liqusuri nadhrihi. Siapa yang mengira kelembutan-Nya terlepas dari takdir (pahit) yang telah ditetapkan, berarti hatinya sempit." 


Butuh hati yang lebar untuk bisa sesportif para peserta Piala Dunia. Jika tidak, kontestasi si kulit bundar yang mulanya sebagai ajang silaturrahmi dan persahabatan antarnegara, bisa-bisa menjelma episode lanjutan perang dunia.

Kelima, tasawuf tak mengamanatkan manusia untuk berpandai-pandai mencari kambing hitam. Masih dalam kitab masyhurnya itu, Ibn Athaillah bilang, terlalu agung jika sesuatu yang sudah diputus Allah kemudian disandarkan kepada sebab-sebab.

Alhasil, Jerman, atau beberapa negara peserta Piala Dunia sudah lebih sufi ketimbang Indonesia. Betapa tidak, kita, dalam menanggapi hasil hitung cepat Pilkada saja terlihat begitu gaduh dan luar biasa panjangnya.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Suguhan Kuliner dan Belanja Oleh-oleh di Jalan Arbat, #SalamdariRusia




(ACF)