All England 2018

Dari Birmingham Arena untuk Bulu Tangkis Indonesia

Achmad Firdaus    •    24 Maret 2018 07:30 WIB
all england
Dari Birmingham Arena untuk Bulu Tangkis Indonesia
Penampilan suporter Indonesia dari berbagai penjuru Eropa untuk mendukung atlet Indonesia di All England 2018 di Birmingham, Inggris (Foto: IST)

Jumat 16 Maret 2018 sekitar pukul 09:00 pagi, Kota Birmingham masih diselimuti salju tebal. Cuaca yang mencapai minus 10 derajat celcius kian memberatkan kaki untuk melangkah ke Birmingham Arena, tempat berlangsungnya ajang bulu tangkis bergengsi dunia, All England 2018.

Deadline tugas kuliah yang mepet juga semakin menggerus niatan untuk mendukung perjuangan atlet-atlet Indonesia di sana. Akan tetapi, dengan semangat nasionalisme yang terpatri di dada, semua halangan tersebut akhirnya sirna.

Sri Surya Dewi dan beberapa rekannya yang tengah mengejar gelar S2 di University of Birmingham untuk sejenak melupakan tugas dan cuaca yang tidak bersahabat. Perjalanan selama setengah jam dengan kereta plus ditambah 15-20 menit jalan kaki ke Birmingham Arena pun mereka lakoni. Tujuannya hanya satu. Memberikan dukungan moril untuk Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan tim All England Indonesia.


(Setelah turun kereta, penonton harus berjalan menyusuri sungai untuk sampai ke Birmingham Arena, Venue All England 2018)

Rutinitas ini mereka lakukan selama tiga hari, mulai dari babak perempat final hingga final.

“Kami juga perlu datang lebih awal karena biasanya kalau salju, transportasi pada delay bahkan cancelled. Belum lagi kami harus ngantri super panjang di luar Arena dengan suhu mencapai -10 derajat celsius disertai hujan salju,” demikian penuturan dara yang karib disapa Dewi kepada medcom.id dalam pesan Whatsapp.

Dewi bukan satu-satunya warga Indonesia yang rela bersusah payah untuk sampai di gedung olahraga berkapasitas 15 ribu kursi itu. Di sana, Dewi dan rekan kuliahnya justru bertemu banyak warga Indonesia lain. Tak hanya yang tinggal di Birmingham dan sekitarnya.

Ada juga warga Indonesia yang datang dari luar Inggris seperti Skotlandia, Swiss dan Belanda. Mulai dari mahasiwa, orang tua dan anak-anaknya, hingga staff kedutaan besar berbaur atas nama nasionalisme.

Momen silaturahmi besar ini tentunya jarang dilakukan warga Indonesia yang tengah merantau di luar negeri. Perbincangan hangat dan sesekali celetukan-celetukan khas Indonesia yang jarang mereka dengar pun terlontar di sini. Uniknya, semua ini terjadi secara spontan. Tidak ada yang koordinir. 
 

”Kalau di total (warga Indonesia yang menonton) jumlahnya mungkin 100-200 orang”


Meski hanya berjumlah ratusan, soal totalitas warga Indonesia tidak perlu diragukan. Layaknya menonton pertandingan sepak bola, mereka tidak ketinggalan membawa atribut pendukung seperti kaos berwarna merah dan bendera Indonesia. Totalitas mereka makin kentara lewat coretan bendera Indonesia yang ditempel di pipi mereka, lengkap dengan balutan syal merah putih di kepala.

Kekompakan warga Indonesia makin terasa di dalam Birmingham Arena kendati mereka tidak semuanya duduk di satu blok yang sama. Hanya butuh satu orang “provokator”, ratusan orang ini langsung menyambutnya dengan meriah.

“Tidak ada kesepakatan sebelumnya. Namun ada satu orang dari PPI UK (Persatuan pelajar Indonesia di Inggris) yang memimpin kami untuk menyanyikan yel-yel “Garuda di dadaku” atau “Ayo Indonesia”. Kadang juga ada beberapa orang meneriakkan In-do-ne-sia kemudian kami menjawab dengan tepukan, baik menggunakan tangan atau balon,” jawab Dewi.



Nyanyian, yel-yel dan teriakan warga Indonesia yang menggema di Birmingham Arena ternyata cukup menyita perhatian penonton lain. Alih-alih terganggu dengan kebisingan warga Indonesia, mereka justru terhibur. Bahkan, tak jarang ada penonton “bule” yang ikut menirukan aksi warga Indonesia. Entah itu dari nyanyian, teriakan, atau hanya sekadar tepukan balon/tangan.

Dukungan total warga Indonesia tak hanya menghidupkan suasana di Birmingham Arena. Atlet-atlet Indonesia yang bertanding pun makin termotivasi untuk memberikan yang terbaik, meski tidak semuanya bisa meraih kemenangan. Dua ganda campuran Indonesia, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Praveen Jordan/Debby Susanto misalnya. Mereka gagal menuntaskan ekspektasi warga Indonesia lantaran gugur di babak perempat final.

Untungnya, harapan publik Indonesia belum sepenuhnya pupus. Masih ada Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang berjuang di sektor ganda putra. Sadar sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil lolos ke babak semifinal, Marcus/Kevin terus memberikan 100 persen penampilannya.

Pasangan berjuluk Minions itu akhirnya berhasil membayar penuh dukungan meriah yang mereka dapatkan dengan merebut gelar All England untuk kali kedua secara beruntun. Di partai puncak, Marcus/Kevin menaklukkan musuh bebuyutannya, Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark) dengan straight game 21-18 dan 21-17.



“Yang unik lagi ketika saat semifinal di mana Kevin dua kali mengambil raket saat permainan masih berlangsung, namun masih bisa mendapatkan poin untuk Indonesia. Juga ketika dia berulah seakan-akan menerima shuttlecock tapi ternyata dibiarkan saja karena out. Kereenn banget,” kenang Dewi.

Selayaknya suporter lain, momen All England ini tidak hanya jadi ajang untuk memberikan dukungan, tapi juga menjadi ajang berburu foto dengan atlet Indonesia. Dewi merupakan salah satunya. Dan untungnya, para pemain Indonesia sudi meluangkan waktu di tengah kesibukan mempersiapkan pertandingan atau ketika kelelahan usai bertanding.

“Saya sempat foto sama Debby, Praveen, Kevin, Marcus dan beberapa coach seperti Coach Herry, Rexy, dan juga Vita Marissa. Mereka semua humble. Terutama Praveen dan Debby,” imbuhnya.



Di akhir pembicaraan, Dewi mewakili seluruh suporter Indonesia di luar negeri berharap agar atlet-atlet bulu tangkis Indonesia bisa terus mengukir prestasi di tingkat internasional. Kepada PBSI sebagai induk organisasi, mereka berharap sektor-sektor lain yang sekarang ini belum bisa berbuat banyak, ke depannya bisa juga jadi andalan. Misalnya sektor tunggal putri yang hingga kini belum mampu bangkit sejak ditinggal Susy Susanti dan Mia Audina. 

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga?

Video: ?Kevin/Marcus Pertahankan Gelar Juara All England



(ACF)


Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid
Lionel Messi

Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid

1 week Ago

Kapten timnas Argentina itu tak memedulikan berapa pun hasil yang diraih Madrid dalam menghadap…

BERITA LAINNYA
Video /