Opini Piala Dunia 2018

Legitimasi Karya Seni dalam Sepotong Jersey

Reza Maharddhika    •    27 Juni 2018 10:37 WIB
analisis piala dunia 2018
Legitimasi Karya Seni dalam Sepotong <i>Jersey</i>
Penggawa Nigeria saat berlaga di Piala Dunia 1994. (Foto: Pulse)

SAAT pembagian rapor kenaikan kelas masa SMA, seorang teman saya yang bernama Kuntoro merenung lantaran tidak bisa menebus rapornya. Bukan karena nilainya yang ‘kebakaran’ atau tinggal kelas, melainkan karena SPP yang menunggak.

Masalahnya, teman saya itu bukan orang ‘tidak punya’. Pamannya saja penggede Republik ini. Seorang menteri Koperasi Indonesia pada Kabinet Pembangunan VI dan Kabinet Pembangunan VII di era pemerintahan Presiden Soeharto.

Salah dia sendiri mendadak nyelip di daftar siswa 'pengemplang' SPP. Uang SPP-nya ludes. Sebagian besar untuk mentraktir cewek-cewek yang dia taksir. Di sini lah keterlibatan saya, mengangkat persoalan hidupnya paling pelik saat itu. Saya bersedia membantunya dengan cara dia harus rela melego jersey Timnas Belanda 1997 -- 1998, yang ternyata barang berharga pemberian sang paman tersebut. 

Orisinalitas dan Bisnis
‘Tawar menawar harga pas tancap gas!’, mengutip lirik lagu 'Kereta Tiba Pukul Berapa' milik Iwan Fals yang saya senandungkan sembari bersiul mengikuti alunan musik dari walkman Aiwa. Jadilah saya memiliki satu jersey yang benar-benar tulen. Saya lumayan memiliki banyak kaus tim saat itu, mulai dari yang berbahan ‘jeruk’ (tekstur kain seperti kulit jeruk), ataupun kaus buatan lokal dari berbagai tim tarkam yang pernah saya bela saat itu, namun semua bahannya terlihat butut saat disandingkan dengan jersey Belanda yang sangat aduhai dipandang. Sejak itu dimulailah ketertarikan saya untuk berburu dan mengetahui seluk beluk jersey sepak bola.

Sebut saja palsu. Para penjual jersey non official yang biasa kita lihat di pinggir jalan, pasar tradisional dan online, agak gengsi dan sering menyebut barang mereka dengan istilah khusus seperti Grade Ori yang artinya menyerupai jersey orisinal, ada pula yang menyebut KW (Kualitas Super) yang kualitasnya ‘super mirip’ orisinal mungkin menurut mereka, paling banyak dicari adalah KW Thailand yang barangnya diimpor dari Thailand.

Yang terakhir disebut ini kualitasnya dibuat sangat mirip dengan orisinal, seperti emboss pada jersey, label merek bahkan hologram. Harganya variatif, rata-rata hanya sepuluh persen dari harga jersey orisinal, misalnya satu harga jersey musim terbaru orisinal dibanderol enam sampai delapan ratus ribuan, ‘jersey-jersey KW’ tersebut dikisaran harga enam puluh sampai delapan puluh ribu saja, dan si grade Thailand ini agak tinggi sedikit kisaran seratus sampai seratus lima puluh. Cukup jauh selisihnya. Tidak munafik saya pun punya jersey KW, namun tetap saja semua itu barang palsu. 

Pendukung fanatik sepak bola akan mengasosiasikan dirinya dengan klub atau negara favoritnya bahkan dengan pemain idolanya lewat jersey. Penggunaan jersey adalah kebanggaan para pendukung. Teringat teman saya Ronald Sinaga, dengan fanatisme Uber Allez-nya, berapa pun harganya pasti rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan jersey model terbaru tim Jerman kesayangannya.

Beda halnya dengan sepupu saya Dipta Praharsa, yang kolektor jersey, mulai dari jersey Parma musim 1996 -- 1997 berlabel nama Enrico Chiesa sampai jersey pemain Persiba Balikpapan musim Liga Bank Mandiri bernomor 10, yang diperoleh dari pemainnya  langsung dan lucunya dia sendiri tidak tahu siapa nama pemainnya. Tak hanya klub kesayangan yang dicari, namun keunikan dan sisi historis dari jersey menjadi daya tariknya.

Bagi klub dan asosiasi sepak bola negara, penjualan jersey akan menjadi ajang bisnis untuk meraup untung. Setiap awal musim, apparel yang menjadi sponsor klub selalu memunculkan jersey dengan model baru. 

Asal Mula & Tren Bentuk

Seragam tim sepak bola atau jersey merupakan salah satu perlengkapan standar yang wajib digunakan oleh para pemain saat bertanding. Bukan hanya sebagai pembeda dengan tim lawan, dengan warna dan corak khusus masing-masing jersey juga jadi ciri dan simbol kebanggaan sebuah tim. 

Pada abad ke-18, tidak ada aturan untuk memakai seragam saat bertanding. Pemain dibebaskan untuk memakai baju apapun yang mereka suka. Kewajiban menggunakan jersey saat bertanding dimulai pada tahun 1891. Saat itu FA memutuskan untuk seluruh tim yang bertanding harus meregistrasi warna jersey mereka. Peraturan jersey kandang-tandang baru muncul pada era 1920an saat tim tuan rumah dan tamu memiliki warna dasar yang sama.

Jersey sepak bola zaman dahulu sangat berat, bila digunakan pada masa kini. Siapa pun pasti ogah memakainya hal ini karena bahan dasar jersey terbuat dari wol dan berlengan panjang yang lebih cocok dibilang sweater, dan celana yang dipakai pun adalah celana panjang yang sering disebut dengan istilah knickerbocker. Saat itu jersey yang dipakai para pemain tidak menggunakan nomor punggung. Aturan penggunaan nomor punggung baru disahkan pada tahun 1928, betapa bingungnya wasit saat itu untuk mendeteksi siapa pemain yang akan diganti, pencetak gol, dan pelanggar. 

Sejak saat itu perkembangan jersey dimulai, pemilihan bahan hingga teknologinya dikembangkan dari masa ke masa.

Bahan wol pada jersey sepak bola mulai ditinggalkan. Tahun 1950-an bahan sintetis mulai banyak dipakai karena lebih ringan. Saat itu tim juga mulai menempel logo klub atau negara di jersey mereka, dan logo merek olahraga juga mulai banyak tertempel di jersey sepak bola. Masuknya merek pakaian olahraga di sepak bola membuat kualitas jersey berkembang dan makin nyaman digunakan.

Piala Dunia tahun 1994 di Amerika Serikat jadi momen pertama digunakannya nama belakang (keluarga) pada bagian belakang jersey. Sedangkan nomor ditempatkan di bagian depan jersey. Sejak akhir abad ke-19, bentuk jersey juga banyak mengalami inovasi. Dari yang serba gombrang dan tertutup pada masa awal berlanjut ke serba mini dan slim-fitpada era 1960an hingga 1990an awal.

Pada 1990-an tren jersey kembali lagi ke bentuk longgar atau agak kebesaran. Bukan hanya bentuk dan bahan saja yang mengalami inovasi, ornamen-ornamen dari jersey pun mengalami perubahan. Pada era 1990-an, penggemar sepak bola akrab dengan jersey yang memiliki kerah, kancing hingga tali di kerah yang tidak jelas peruntukannya, saya tidak pernah melihat ada pemain yang mengikat tali itu dengan rapih saat bertanding .

Muncul jersey-jersey berlengan panjang yang dipakai pada musim dingin. Pada akhir 2000-an, tren jersey berkerah, berkancing, dan jersey lengan panjang itu mulai meredup karena beberapa apparel membuat baju dalam ketat (base layer) yang lebih nyaman dikenakan ketimbang baju lengan panjang.

Inovasi busana kemudian kembali berubah ketika memasuki milenium baru. Di tahun 2000 Kappa mendobrak tren jersey dengan menerbitkan seri combat yang digunakan timnas Italia di ajang Piala Eropa 2000. Bahan itu dinilai lebih dinamis dan bisa meminimalisir tarikan dari lawan. Setelah itu, hingga saat ini, jersey-jersey sepak bola umumnya sudah menjadi slim-fit. Selain itu sistem ventilasi angin pun mulai diterapkan lewat rongga-rongga pada bahan kain jersey

Serba-serbi yang Unik Menjurus Aneh 
Johan Cryuff
Merek yang terpampang di dada pada jersey menjadi masalah saat ‘Sang pewaris’ Total Football Belanda Johan Cruyff dikontrak eksklusif apparel Puma. Saat itu sponsor kit Timnas Belanda adalah Adidas, yang tanpa terpampang logonya pun hampir semua orang paham itu merek Adidas karena dengan ciri khas strip tiganya. Tak hilang akal, khusus jersey Johan Cruyff bila diperhatikan dibuat hanya dua garis di lengannya.


Johan Cruyff. (Foto: Getty Images)

Kamerun 2002 
Jersey tanpa lengan timnas Kamerun mungkin terlihat revolusioner, saat piala Afrika 2002 di Mali baju atau yang lebih enak disebut ‘rompi’ ini sudah mereka gunakan dan berhasil menjadi juara dengan mengandaskan Senegal. Namun FIFA tidak memperbolehkan ‘rompi’ tersebut dipakai saat perhelatan piala dunia 2002, akhirnya Puma menambahkan lengan berwarna hitam. Soal nyeleneh jangan lupa di piala Afrika 2004 mereka juga pernah menggunakan one-piece kit artinya baju dan celana tidak terpisah, ditambah dengan guratan sobek bak tercakar singa di bagian samping perut pemain.  


Skuat Kamerun. (Foto: The18)

Nigeria 1994
Baju kedua tim Elang Super dengan dasar putih dan ornamen seperti Kartu Ceki ini terlihat sangat konyol. Padahal penyerang dan pemain tengah mereka yang saat itu diperkuat Rashidi Yekini, Daniel Amokachi dan Emanuel Amunike tampak beringas memporak-porandakan Bulgaria dan bikin susah kiper Argentina Luis Islas. Jadi terlihat lucu dengan jersey tersebut.


Jersey Timnas Nigeria Piala Dunia 1994. (Foto: Oldfootballshirts.com)

AS 1994
Sepakat dengan yang dilansir oleh The Slate, mereka bilang jersey Timnas Amerika Serikat  ’The Horrifying True Story of the Ugliest Jerseys in U.S. Soccer History’. Bukan hanya berwarna biru pudar yang mereka bilang seperti warna jeans, bintang pada jersey juga terkesan disusun asal-asalan. Bintangnya pun bahasa desain grafisnya agak peang atau distort.  


Jersey Timnas Amerika Piala Dunia 1994. (Foto: Footballshirtculture.com)

Bolivia 1930
Pertama kali masuk ke ajang Piala Dunia di Uruguay, Bolivia membuat ’edisi khusus’ pada jersey mereka serta memberi penghormatan kepada tuan rumah dan tetangga mereka di zona Amerika Selatan dengan pesan indah yang dieja di seluruh dada Pemain “VIVA URUGUAY”.


Foto: Whoateallthepies

Jorge Campos
Keunikan sudah terlihat dari posisi kiper yang bisa merangkap menjadi striker ini, posturnya saja bukan postur ideal seorang penjaga gawang. Pemain eksentrik Timnas Meksiko ini namanya melambung berkat jersey warna-warni pelangi kombinasi warna mencolok yang dikenakannya. Selain kombinasi warna dan motifnya yang sangat nyentrik, jersey yang tampak gombrang membuatnya terlihat semakin aneh.

Jorge Campos. (Getty Images)

Tidak ada yang salah dari semua model jersey, semua terlihat keren menurut produsen dan perancang jersey itu di zamannya. Entah semakin berkembang seperti apa kelak teknologi, corak, ataupun bentuk dari jersey. Bisa makin ciamik nan futuristik atau malah konyol dan menggelikan.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Salam dari Rusia, Jalan-jalan di Krasnaya Ploshad


(ASM)


Video /